Lima Peraih “Gold” PRIA 2026 Berbagi Praktik Terbaik di PRICO 2027
PRINDONESIA.CO | Senin, 02/11/2026
Lima Peraih “Gold” PRIA 2026 Berbagi Praktik Terbaik di PRICO 2027
Para pemenang PRIA 2026.
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Majalah PR INDONESIA menyelenggarakan PR INDONESIA Communication Outlook (PRICO) 2027 pada hari Kamis (29/10/2026) di Auditorium Lantai 2, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Selain “meneropong” lanskap komunikasi tanah air di tahun depan, acara ini turut  menghadirkan para pemenang PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 peraih trofi Gold untuk berbagi praktik terbaik yang mengantar mereka pada penghargaan di ajang PRIA.

Total ada lima pemenang Gold PRIA 2026 yang hadir mengisi sesi Praktik Terbaik PRIA 2026: Memenangkan Audiens & Menciptakan Dampak. Di antaranya Head of Brand Momogi Group Gerry Hallatu, Ketua Tim Humas dan Publikasi Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (SetDitjen Diksi PKPLK) Agung Sulistomo, Pranata Humas Ahli Madya Badan Kebijakan dan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Fachrudin Ali Ahmad, Head of Public Affairs and Communications PT Takeda Innovative Medicines Revi Renita, dan Head of Communication Relations & CID Zona 10 PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Elis Fauziyah. 

Dalam sesi yang dipandu Head of Communication & Community Blue Bird Group Sekar Adisty Prabandari sebagai moderator itu, kelimanya sepakat bahwa komunikasi harus mampu membangun relevansi dengan beragam karakter audiens, memanfaatkan data, membangun kolaborasi, menjawab kebutuhan publik, hingga menghasilkan perubahan yang dampak komunikasinya dapat diukur secara berkelanjutan.

Gerry dalam paparannya menjelaskan, dalam konteks komunikasi merek, awareness bukanlah titik akhir, tetapi titik awal untuk membangun relevansi sepanjang zaman. Hal ini dibuktikan dari merek Momogi yang telah hadir selama lebih dari 20 tahun di pasar Indonesia dan masih tetap eksis hingga kini. “Kami mempertahankan identitas kami dengan cara penyampaian yang disesuaikan melalui prinsip one voice, right moment baik secara daring maupun luring untuk terus menjangkau audiens lintas generasi. Mulai dari tampil di film Jumbo (2025), interaksi langsung dengan konsumen di Pekan Raya Jakarta, hingga kolaborasi dengan Roblox,” ujarnya.

Sementara itu, Setjen Diksi PKPLK Agung menjelaskan, dalam lanskap hari ini, institusi perlu menggerakkan publik tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi ikut terlibat sebagai storyteller, seperti dilakukannya pada program “Apresiasi Karya Vokasi Untuk Negeri” yang menggunakan pendekatan asset-based thinking dengan mengangkat potensi, inovasi, dan karya insan pendidikan vokasi, pendidikan khusus, serta pendidikan layanan khusus (PKPLK). “Sekaligus mengajak para guru, murid, dan masyarakat diberi ruang untuk menceritakan sendiri karya yang mereka hasilkan,” ucapnya.

Seakan melengkapi keduanya, Fachrudin Ali menekankan pentingnya komunikasi data yang dapat didengar dan dipahami oleh publik.  Menurutnya, tantangan praktisi public relations (PR) kiwari adalah menerjemahkan data yang kompleks menjadi pesan yang informatif, persuasif, partisipatif, dan humanis. “Alih-alih mengejar banyaknya aktivitas komunikasi, strategi perlu dimulai dengan menentukan siapa audiensnya, pesan yang dibutuhkan, serta kanal yang tepat,” tegasnya.

Penggerak Perubahan

Sementara itu Elis Fauziyah lewat program SEMUR CENDAWAN (Semai Jamur dengan Cerdas dan Berwawasan Pangan) dari Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menegaskan, program sosial perlu berangkat dari pemetaan persoalan dan kebutuhan masyarakat agar mampu menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Sebagaimana program di atas, terang Elis, pendekatan tersebut pada akhirnya mampu melahirkan local hero dari para penerima manfaat sebagai sumber pengetahuan sekaligus penggerak yang mampu memperluas dampak dan publikasi perusahaan.

Menggenapi sesi, Revi lewat pengalaman PT Takeda Innovative Medicines pada program PIHAK (Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan/Women at the Center) yang dijalankan bersama United Nations Population Fund (UNFPA), menegaskan pentingnya stakeholder engagement dalam membangun ekosistem penanganan kekerasan terhadap perempuan, karena memungkinkan keterlibatan pemerintah, organisasi masyarakat sipil lokal, tenaga kesehatan, dan komunitas. “Yang awalnya narasi menempatkan perempuan sebagai korban kini telah bergeser menjadi bagian dari solusi, sementara aktor lokal didorong sebagai penggerak perubahan,” tutupnya mengenai salah satu capaian program. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI