Fiona Sari Utami, Senior Manager CorSec PT Pelabuhan Tanjung Priok: Merangkai Cerita yang Berdampak
PRINDONESIA.CO | Selasa, 15/09/2026
Fiona Sari Utami, Senior Manager CorSec PT Pelabuhan Tanjung Priok: Merangkai Cerita yang Berdampak
Fiona Sari Utami, Senior Manager Corporate Secretary PT Pelabuhan Tanjung Priok (Pelindo Grup)
doc. pribadi

Bagi sebagian orang, pelabuhan identik dengan hiruk pikuk aktivitas yang sibuk dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, lalu lintas kapal dan kontainer itu menyimpan denyut perekonomian nasional yang memengaruhi harga kebutuhan pokok, kelancaran distribusi logistik hingga pertumbuhan daerah. Perubahan cara pandang terhadap peran pelabuhan itu yang menjadi salah satu fokus Fiona Sari Utami dalam tanggung jawabnya sebagai Senior Manager Corporate Secretary PT Pelabuhan Tanjung Priok (Pelindo Group).

Perempuan yang telah lebih dari satu dekade berkiprah di dunia public relations (PR) itu mengatakan, setiap kapal yang berlabuh selalu membawa kisah. Bukan hanya tentang logistik, tetapi juga tentang keluarga yang dapat menikmati bahan pangan hingga pelaku bisnis yang tetap  bisa menjalankan roda bisnisnya. “Bukan tentang pelabuhannya, tetapi tentang dampaknya bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya menggarisbawahi peran penting pelabuhan kepada PR INDONESIA, Selasa (4/8/2026).

Pemahaman itulah yang mengiringi perjalanan karier Fiona di berbagai entitas Pelindo Group. Mulai dari menangani komunikasi di kantor pusat PT Pelabuhan Indonesia I  (Persero) pada saat sebelum Pelindo merger dan kemudian dipercaya menjadi Departemen Head hubungan Antara lembaga  dan Investor Relations PT Pelabuhan Indonesia (Persero) pada saat penggabungan Pelindo pada 1 Oktober 2021. Kemudian ia selanjutnya  dipercaya memimpin fungsi Corporate Secretary PT Pelindo Multi Terminal yang merupakan anak usaha Pelindo, hingga kini mengemban amanah di PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas).

Setiap perpindahan posisi dilihat Fiona sebagai kesempatan untuk membangun fondasi yang lebih kuat. Oleh karena itu, ia tidak pernah terburu-buru menghadirkan program ketika diamanahkan jabatan anyar. Alumnus Universitas Padjadjaran itu lebih memilih menjadi pendengar dan peninjau terlebih dahulu. “Setelah menemukan isu, melihat apa yang sudah dan belum dilakukan, kemudian memahami positioning perusahaan di mata media seperti apa, baru kemudian akhirnya kami bikin programnya,” ucapnya mantap.

Berkarier di bidang maritim yang cenderung maskulin, Fiona melihat tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menampilkan perusahaan agar terasa dekat dengan masyarakat. Untuk itu, dalam komunikasi ia lebih memilih mengangkat cerita yang lebih membumi, dan mengajak masyarakat memahami mengapa harga komoditas dari luar daerah menjadi lebih mahal, hingga alasan distribusi pupuk memengaruhi hasil panen petani.

Bagi perempuan yang penuh antusias ini, komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan ataupun mempromosikan perusahaan, tetapi menghadirkan perspektif baru bahwa pelabuhan sesungguhnya hadir dalam keseharian setiap orang. “Ketika masyarakat mulai memahami informasi tersebut maka reputasi perusahaan tumbuh lewat pemahaman bukan pencitraan semata,” imbuhnya.

Bangun “Legacy” di Setiap Tempat

Selama berkarier di Pelindo Group, Fiona dipercaya menjadi penanggung jawab atau person in charge (PIC) di berbagai agenda penting perusahaan. Namun, baginya, pencapaian terbesar bukanlah sukses menyelenggarakan sebuah acara. Sukses yang ingin ia kejar adalah mewariskan sistem, budaya kerja, dan cara berpikir baru bagi setiap tim. “Di manapun saya ditempatkan, saya ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik dan bernilai yang bisa diteruskan,” tegasnya.

Di balik perannya, Fiona memegang satu prinsip sederhana yaitu bekerja harus dilakukan dengan sepenuh hati dan bahagia. Menurutnya, setiap tantangan harus dijawab dengan solusi bukan sekadar keluhan. “Bekerjalah dengan sepenuh hati. Jangan mengeluh, kalau memang ada yang tidak bisa dilakukan maka jelaskan alasannya dan berikan solusinya,” tuturnya.

Dukungan moral dan kepercayaan keluarga menjadi pelabuhan paling teduh dalam perjalanan karier Fiona yang bisa dibilang tidak mudah. Sang suami yang sama-sama berkiprah di sektor transportasi, mereka bersama saling berbagi peran dalam mengurus keluarga. Sementara di mata putranya, Fiona tetap menjadi seorang ibu yang membanggakan.

Meski telah meraih sejumlah pencapaian dalam kariernya, perempuan kelahiran Batusangkar, Sumatera Barat ini ingin melanjutkan pendidikan harapannya melalui beasiswa. Baginya, belajar adalah cara terbaik untuk terus memperkaya perspektif sekaligus meningkatkan kualitas diri sebagai seorang profesional. Ia percaya bahwa seorang PR harus gigih lagi dan mampu meninggalkan jejak yang bermakna. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI