Merlin Pursari, PR Officer PT Pertamina EP Limau Field: Komunikasi Yang Inklusif
PRINDONESIA.CO | Rabu, 29/07/2026
Merlin Pursari, PR Officer PT Pertamina EP Limau Field: Komunikasi Yang Inklusif
Merlin Pursari Public Relations Officer PT Pertamina EP Limau Field.
doc/pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Public relations (PR) bukan sekadar jabatan fungsional atau profesi saja. Lebih jauh, ia adalah ruang untuk mengabdi dan berkontribusi baik bagi daerah kelahiran. Hal itu ditegaskan oleh Merlin Pursari yang kini menjabat sebagai Public Relations Officer PT Pertamina EP Limau Field.

Perjalanan kariernya memang tidak berangkat dari dunia komunikasi. Merlin merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gotong Royong Jakarta dengan jurusan Manajemen, ia mengawali karier di PT Pertamina EP Limau Field pada tahun 2001 di fungsi produksi. Saat itu ia bertanggung jawab mendata engine dan pompa, menyusun permintaan spare part, serta menjadwalkan overhaul.

Namun, pada tahun 2013 ia dipercaya mengemban amanah di fungsi PR. Peralihan ini menjadi titik balik yang mempertemukannya dengan dunia komunikasi yang menurutnya menantang sekaligus memberikan makna, lantaran ia sendiri lahir dan besar di Prabumulih, Sumatera Selatan. Kepada PR INDONESIA, Senin (25/8/2025), Merlin mengaku, hal tersebut membantunya untuk lebih memahami karakter masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, sehingga dalam tanggung jawab tersebut ia dapat menjaga keseimbangan antara perusahaan dan masyarakat. “Saya ingin memastikan perusahaan tidak merugikan masyarakat dan masyarakat tetap mendukung keberlangsungan operasional perusahaan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Merlin menempatkan komunikasi, koordinasi, dan silaturahmi sebagai fondasi utama. Baginya, komunikasi harus berjalan dua arah baik secara top down dengan menyampaikan kebijakan perusahaan kepada publik. Di sisi lain, secara bottom up yaitu menyerap aspirasi masyarakat untuk menjadi masukan bagi manajemen.

Menurutnya, komunikasi yang jujur dan menyambung tali silaturahmi yang erat menjadi modal dalam membangun kepercayaan yang berkelanjutan. Keyakinan Merlin itu pun diuji ketika menghadapi tuntutan tenaga kerja dari masyarakat lokal dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dalam kesempatan tersebut Merlin mengaku mempelajari bahwa dalam penyelesaian permasalahan tidak cukup dilakukan hanya dengan menyampaikan informasi secara substansi, tetapi membutuhkan transparansi, koordinasi lintas fungsi yang cepat, serta kemampuan menghadirkan komunikasi yang menenangkan publik. Dari tantangan tersebut, ia semakin meyakini bahwa komunikasi yang inklusif mampu menjadi jalan keluar dalam meredakan konflik dan membangun kepercayaan.

Selain itu, menurut Merlin, di era digitalisasi tantangan praktisi PR semakin kompleks dan menuntut adanya kemampuan mengelola komunikasi digital dan literasi media sosial yang tidak bisa diganggu gugat. “Seorang PR juga harus memiliki kepemimpinan yang inklusif, empati yang tinggi, serta kemampuan membaca isu dan memitigasi krisis. Terlebih di sektor migas sangat sensitif terhadap isu lingkungan dan sosial yang dapat memengaruhi persepsi publik,” jelasnya. 

Berkontribusi Pada Daerah

Bagi Merlin, dukungan moral dan kepercayaan keluarga menjadi sebuah energi positif yang membuatnya lebih kuat menghadapi beragam tantangan pekerjaan yang menghadang. Ia selalu mengingat pesan kedua orang tuanya agar dapat menjadi anak daerah yang berguna bagi masyarakat sekitar, dan menjadikan pesan tersebut sebagai sumber motivasinya dalam bekerja.

Selain itu, sebagai perempuan yang berprofesi sebagai PR, Merlin melihat beberapa keunggulan yang dimiliki untuk menghadapi pelbagai persoalan. Di antarany seperti empati, kepekaan sosial, dan kemampuan membangun relasi berbasis silaturahmi menjadi tambahan kekuatan yang memperkaya profesi PR. “Saya memanfaatkan empati dan komunikasi persuasif untuk menjalin hubungan harmonis dengan stakeholder, sekaligus memastikan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan baik ke manajemen,” tuturnya.

Di luar kesibukannya sebagai PR, perempuan yang supel ini sangat senang mengisi waktu luang dengan cara sederhana yaitu mengobrol dengan tetangga, berbelanja ke pasar, atau berbincang di ruang publik. Dari banyaknya interaksi itulah, ia melek akan isu sosial, ekonomi, maupun lingkungan yang sedang berkembang di masyarakat.

Dalam menjalani perannya, Merlin mengatakan, semangat dan keberanian dari  R.A. Kartini serta keteguhan sang ibu menjadi inspirasi untuk terus maju dan kuat menghadapi setiap tantangan. Di balik semua perjalanan hidupnya, Merlin memegang prinsip bahwa komunikasi yang jujur dan kepemimpinan yang inklusif dapat membuka jalan keberhasilan bersama.

Ke depan, ia ingin terus mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai pelatihan profesional, memperluas jejaring, memperkuat kompetensi komunikasi agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perusahaan. Tidak luput, Merlin menitipkan pesan bagi perempuan yang ingin berkarier menjadi seorang PR agar jangan takut menghadapi tantangan. Bekali diri dengan integritas, komunikasi yang baik, dan semangat kolaborasi. “Jadilah PR yang bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga merawat kepercayaan dan membangun jembatan antara organisasi dan masyarakat,” pungkasnya. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI