Transformasi membutuhkan lebih dari sekadar perubahan sistem dan teknologi. Menurut Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani, keberhasilantransformasi sangat bergantung pada kemampuan pemimpin menggerakkan seluruhorganisasi untuk memahami alasan di balik perubahan dan bergerak menuju tujuan yang sama.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Perubahan lanskap logistik nasional dan global menuntut perusahaan kepelabuhanan untuk terus beradaptasi. Bagi PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas, perubahan tersebut hadir bersama tantangan berupa dinamikageopolitik, fluktuasi permintaan komoditas, hingga tuntutan pelanggan terhadap layanan yang semakin cepat, transparan, dan terintegrasi.
Dalam konteks ini, Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani menilai dayasaing dan efisiensi sebagai dua agenda utama perusahaan dalam menghadapi perubahaantersebut. Terlebih karena bisnis nonpetikemas memiliki karakteristik beragam, mulai daricurah kering, curah cair, general cargo, hingga bag cargo. “Ini memerlukan kecermatandalam menentukan penanganan seperti apa yang tepat agar kualitas komoditas terjaga dan dapat didistribusikan dengan cepat,” ujar Indra kepada PR INDONESIA, Kamis (13/8/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, Indra menjelaskan, PTP Nonpetikemas memperkuatstrategi melalui terminalisasi dan digitalisasi. Terminalisasi diarahkan agar setiap terminal memiliki spesialisasi dan pola operasi sesuai karakteristik komoditas yang ditangani. Sementara itu, digitalisasi dilakukan melalui implementasi Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M).
Kepemimpinan yang Menyatukan
Transformasi membutuhkan lebih dari sekadar perubahan sistem dan teknologi. MenurutIndra, keberhasilan transformasi juga sangat bergantung pada kemampuan pemimpinmenggerakkan seluruh organisasi untuk memahami alasan perubahan dan bergerak menujutujuan yang sama. “Kepemimpinan dalam organisasi yang sedang bertransformasi bukanhanya tentang memberikan arah, tetapi juga memastikan seluruh organisasi memahamiurgensi dan signifikansi perubahan untuk kemudian mampu bergerak bersama,” katanya.
Hal tersebut, lanjut Indra, relevan dengan karakter industri kepelabuhanan yang sangat operasional. Di sini, setiap keputusan di tingkat manajemen pada akhirnya harus terlihatdalam bentuk layanan yang lebih cepat bagi kapal dan komoditas. Karena itu, pemimpinperlu senantiasa hadir untuk memastikan strategi diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan. “Kepemimpinan yang relevan adalah kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif,” tegasnya.
Dalam proses tersebut, imbuh Indra, keterlibatan karyawan menjadi bagian penting. PTP Nonpetikemas mendorong karyawan ikut mengembangkan perusahaan melalui agenda tahunan PTP Inovasi. Salah satu hasilnya adalah Portable Drop Tank yang telahdiimplementasikan di Cabang Pangkalbalam dan Cabang Bengkulu. Inovasi inimeningkatkan produktivitas penanganan curah cair sekaligus mengurangi port stay melaluiefisiensi operasional.
Menurut Indra, merger seperti dialami PTP Nonpetikemas dalam proses integrasi Pelindo Group tidak hanya menyangkut perubahan struktur dan proses bisnis, tetapi juga adaptasiterhadap cara kerja, budaya, dan ekspektasi baru. “Dalam situasi tersebut, seorang pemimpinharus mampu membaca arah, mengambil keputusan berdasarkan data, dan tetap memberikankeyakinan kepada organisasi,” ujarnya mengenang salah satu pengalaman paling menantangdi perusahaan itu.
Komunikasi sebagai “Business Enabler”
Sebagaimana diketahui, PTP Nonpetikemas ditargetkan menjadi operator terminal multipurpose yang unggul, terintegrasi, dan berdaya saing tinggi. Dengan 11 wilayah operasistrategis, perusahaan memiliki basis jaringan untuk mendukung distribusi berbagai komoditasnasional, mulai dari mineral hingga hulu migas.
Untuk mencapai visi tersebut, Indra menjelaskan, komunikasi korporat menempati posisistrategis sebagai business enabler. Terbelih karena pelabuhan merupakan simpul rantai pasokdengan pemangku kepentingan yang beragam, mulai dari pelanggan, pemilik kargo, shipping line, perusahaan bongkar muat, regulator, pemerintah daerah, masyarakat, hingga media.“Komunikasi menjadi jembatan antara apa yang perusahaan kerjakan, apa yang stakeholderbutuhkan, dan bagaimana nilai perusahaan dipahami oleh publik,” ujar Indra.
Karena itu, tegas Indra, fungsi komunikasi perlu hadir sejak awal dalam pengambilankeputusan strategis. Dalam konteks ini, saat perusahaan melakukan transformasi, membukalayanan baru, atau menghadapi isu, komunikasi perlu hadir membaca persepsi pelanggan, regulator, masyarakat, media, dan stakeholder lainnya. “Fungsi komunikasi harus hadir sejakawal dalam proses pengambilan keputusan strategis,” tegasnya.
Komitmen terhadap komunikasi tersebut turut tercermin dari pengakuan yang diterima PTP Nonpetikemas. Pada 2026, perusahaan ini meraih pengakuan melalui PR Popular Companies Awards 2026. Tak hanya itu, PTP Nonpetikemas juga memperoleh Silver kategoriSustainability Report dalam ISRA 2026. Bagi Indra, pencapaian tersebut menunjukkankomunikasi dan pelaporan semakin menjadi bagian dari akuntabilitas perusahaan.
Ia pun menegaskan, reputasi perusahaan dibangun bukan oleh komunikasi semata, tetapi oleh kinerja yang kemudian dikomunikasikan secara konsisten dan transparan. “Seperti halnyaprogram Kompetisi Jurnalistik Kepelabuhanan PortPress yang menjadi sarana bagi rekanmedia untuk menghasilkan karya yang disaat bersamaan PTP Nonpetikemas mendapatkaneksposur atas ulasan yang dibuat,” ujarnya.
Selain itu, tambah Indra, pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dengan stakeholder sekaligusmemperkuat kepercayaan publik terhadap perusahaan. Namun, ia menekankan bahwaprogram sosial dan lingkungan yang dijalankan harus memberikan dampak yang nyatasekaligus mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan.
Digitalisasi hingga Kompetensi PR Masa Depan
Digitalisasi dalam lanskap bisnis hari ini memang menjadi suatu hal yang penting. Namun, bagi Indra, bukan berarti itu menjadi tujuan akhir. Tujuan utamanya ialah menciptakanlayanan yang lebih cepat, transparan, terukur, dan mudah dipantau pelanggan. Dalam konteksini, komunikasi masih akan memainkan peran sentral. “Pelanggan perlu memahamiperubahan proses, manfaat sistem, serta cara memanfaatkan informasi yang tersedia. Customer experience harus dijadikan sebagai titik temu antara operational excellence, digital technology, dan communication,” katanya.
Oleh karena itu, menurut Indra, kemampuan komunikasi saja tidak lagi cukup bagi praktisipublic relations (PR). Mereka perlu memahami fondasi bisnis perusahaan, mulai dari model pendapatan hingga strategi operasional. Juga menguasai data literacy untuk mengukuraudiens, sentimen, dan dampak komunikasi secara terukur, serta memiliki strategic thinkinguntuk memetakan keterkaitan antar isu.
Dengan semua itu, tandas Indra, tujuan besar PTP Nonpetikemas hanya satu, yakni menjadioperator terminal nonpetikemas yang mendukung perekonomian daerah. “Ketika pemerintahmendorong hilirisasi mineral, swasembada pangan, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan ekspor, maka kebutuhan terhadap terminal nonpetikemas akan meningkat. Di situlah kesempatan untuk memberikan kontribusi melalui pelayanan yang efisien dan terintegrasi sehingga dapat membangun ekosistem Pelabuhan yang melayani komoditasnonpetikemas secara excellence,” tutupnya. (*)