Menurut Junior Officer Communication Relation & Compliance PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai Ainun Nabila bahwa reputasi perusahaan tidak hanya dijaga melalui pesan yang disampaikan pada jam kerja, tetapi juga melalui kesiapan untuk hadir terdepan bagi perusahaan.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pukul 00.30 dini hari bukan waktu yang lazim bagi seseorang untuk memulai percakapan dengan kelompok warga. Namun, bagi Ainun Nabila, pengalaman di waktu tersebut menjadi salah satu momen yang krusial dalam menguji keberanian sekaligus ketangguhannya sebagai praktisi public relations (PR) yang baru setahun berkarier sebagai Junior Officer Communication Relation & Compliance PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Dumai.
Kepada PR INDONESIA, Selasa (6/10/2026), Ainun bercerita, saat itu terjadi situasi yang memicu kekhawatiran masyarakat terhadap operasional kilang, dan membuat mereka berbondong-bondong mendatangi area operasional perusahaan. “Sebagai fasilitas pengolahan energi, kilang memiliki kompleksitas operasional yang dapat menimbulkan kekhawatiran masyarakat sekitar. Ketika muncul kendala, pertanyaan dan keresahan warga bisa hadir sewaktu-waktu, bahkan pada tengah malam,” ujarnya.
Dari pengalaman turun langsung ke garis terdepan untuk menjalankan komunikasi krisis itu, Ainun menyadari satu hal, bahwa tanggung jawab seorang PR jauh lebih besar dari sebatas memastikan informasi dari perusahaan tersampaikan dengan baik. Baginya, PR juga harus memastikan informasi disampaikan secara tepat, seraya merawat hubungan dengan masyarakat, dan membantu perusahaan merespons situasi dengan tenang serta terukur. “Kesiapsiagaan bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan bagian dari tanggung jawab komunikasi di industri strategis,” ucapnya tegas.
Perjalanan Ainun di dunia PR berawal dari ketertarikannya pada dunia komunikasi. Jenjang karier profesionalnya dimulai sebagai jurnalis di Kumparan selama dua tahun. Pengalaman itulah membentuk kepekaannya dalam membaca situasi, memahami kebutuhan audiens, dan menentukan kapan harus berbicara maupun mendengarkan. Setelah dua tahun di dunia jurnalistik, Ainun memutuskan memperluas pengalamannya ke ranah korporasi. Ia bergabung dengan Waskita Beton Precast pada bidang corporate communication, khususnya media relations, sebelum akhirnya diterima di Pertamina Patra Niaga melalui jalur Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) pada 1 Agustus 2025.
Berbekal pengalaman dari media dan korporasi, ia mulai memahami bahwa peran PR di industri energi memiliki cakupan yang luas mulai dari mengelola pemberitaan dan media sosial, hingga menangani hubungan dengan pemangku kepentingan, komunikasi internal, pemerintah daerah, serta masyarakat sekitar kilang. Untuk itu, Ainun menekankan pentingnya membangun hubungan yang dekat pemangku kepentingan lokal.
Ainun juga menilai penting memetakan peran sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dalam konteks ini, ia harus tahu kapan perlu mengambil peran sebagai pendamping kegiatan yang memastikan kebutuhan tamu terpenuhi, kapan harus berdiri sebagai mitra strategis yang menyampaikan analisis dan rekomendasi kepada pimpinan. “Selain mengurusi urusan teknis atau pelayanan, praktisi PR juga harus berani menyampaikan fakta, membaca risiko reputasi perusahaan dan mengusulkan langkah yang tepat,” ungkap perempuan yang memandang empati dan ketelitian sebagai kekuatan penting dalam komunikasi itu.
Kontribusi Peran
Menjalani profesi yang menuntut kesiapsiagaan juga membuat Ainun belajar menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ia berusaha menyediakan waktu untuk berolahraga, berlari, dan menikmati hobi sebagai cara memulihkan energi setelah menghadapi pekerjaan yang bertekanan tinggi. Dukungan keluarga, terutama sang ibu, turut membantunya memahami bagaimana menentukan arah karier dan menghadapi tantangan.
Bagi Ainun, sang ibu adalah figur perempuan berdaya yang menginspirasinya sebagai sosok yang mampu membangun karier sekaligus menjaga kehidupan keluarga, dengan dukungan pasangan yang memungkinkan kedua peran itu berjalan beriringan. Dari sana, Ainun belajar bahwa ketangguhan bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian, melainkan juga memahami kebutuhan diri dan membangun dukungan yang sehat.
Perempuan yang memiliki hobi traveling ini juga menanamkan keteguhan prinsip yang ia pegang dalam berkarier yaitu “lebih baik mencoba daripada mati penasaran”. Ungkapan kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa kesempatan tidak akan selalu datang kembali jika terus dilewatkan hanya karena takut. Prinsip itulah yang mendorongnya aktif mengikuti berbagai pengalaman dan tantangan baru, termasuk mengikuti kompetisi profesional dan mendapatkan penghargaan Insan DEI (DIversity, Equality, Inclusion) dalam ajang Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 yang diselenggarakan oleh HUMAS INDONESIA.
Ke depan, Ainun ingin memperdalam keilmuan komunikasi krisis melalui pendidikan lanjutan dan membagikan pengalaman kepada generasi muda. Ia juga menyimpan keinginan membangun komunitas perempuan yang dapat saling mendukung agar tetap berdaya, baik dalam kehidupan profesional maupun personal. (Evira Anyelia)