“Business Continuity”, Pendekatan yang Akan Bantu Organisasi Persiapkan Diri Hadapi Krisis
PRINDONESIA.CO | Rabu, 28/10/2026
“Business Continuity”, Pendekatan yang Akan Bantu Organisasi Persiapkan Diri Hadapi Krisis
Founder & Director Infinity Continuity, Business Continuity Management (BCM) Gary Ng
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Ketahanan organisasi tidak cukup dibangun melalui manajemen risiko saja. Dibutuhkan pula kemampuan dalam menjaga keberlangsungan operasional ketika risiko benar-benar terjadi. Hal ini ditekankan oleh founder & Director Infinity Continuity, Business Continuity Management (BCM) Gary Ng dalam Resiliency Workshop bertajuk Business Continuity Fundamentals for Communications Professionals yang berkolaborasi dengan HUMAS INDONESIA, Selasa (27/10/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung di di Grand Ascott Kuningan, Jakarta Selatan itu, Gary menjelaskan, sejatinya manajemen risiko memiliki keterbatasan karena cenderung berfokus pada risiko yang telah diidentifikasi menggunakan data dan periode waktu tertentu. “Padahal, tidak semua gangguan dapat diprediksi seperti serangan siber, kegagalan sistem teknologi informasi, rumor pasar hingga dugaan pelanggaran oleh anggota direksi dapat berkembang menjadi persoalan lintas fungsi,” jelasnya.

Tetapkan Prioritas

Untuk itu, Gary menyarankan agar perusahaan dapat melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan skenario apabila risiko benar-benar terjadi termasuk konsekuensi yang ditimbulkan dan tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga operasional tetap berjalan.

Dalam konteks tersebut, menurut Gary, konsep business continuity (BC) dapat menjadi tumpuan kemampuan perusahaan untuk tetap menyediakan produk dan layanan pada tingkat kapasitas yang telah ditentukan, dalam jangka waktu yang dapat diterima selama terjadi gangguan. “Tujuan dari BC sendiri bukan memulihkan seluruh aktivitas secara bersamaan, melainkan menetapkan prioritas berdasarkan fungsi paling kritis dengan waktu tertentu,” ujarnya.

Dalam praktiknya, lanjut Gary, business continuity plan (BCP) sebagai dokumen yang memandu organisasi merespons gangguan serta melanjutkan, memulihkan, dan mengembalikan penyediaan produk maupun layanan sesuai sasaran keberlangsungan bisnis, perlu untuk diperhatikan. Keduanya, tegas Gary, merupakan bagian dari business continuity management system (BCMS), suatu sistem manajemen yang mengintegrasikan kebijakan, perencanaan, koordinasi, pelatihan, pengujian, dan evaluasi secara berkelanjutan.

Dengan demikian, tandas Gary, penerapan BC secara praktis menuntut kolaborasi lintas departemen dan komitmen manajemen. “Kesiapan tidak cukup dibangun melalui dokumen yang disusun sekali, tetapi perlu diuji melalui training dan exercise secara berkala dengan melibatkan berbagai pihak yang bertanggung jawab ketika krisis atau gangguan terjadi,” pungkasnya. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI