Keselarasan Jadi Tantangan Utama PR di Tengah Perkembangan Teknologi
PRINDONESIA.CO | Jumat, 06/02/2026
Keselarasan Jadi Tantangan Utama PR di Tengah Perkembangan Teknologi
Ilustrasi keselarasan (alignment)
Edz Norton on Unsplash

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Dewasa ini setiap praktisi public relations tengah berlomba mempelajari tools baru seperti artificial intelligence (AI), membangun alur kerja baru, hingga memastikan produksi konten berlangsung lebih cepat dari sebelumnya. Namun, U.S. Cross-commercial Communication Leader PwC Will Hodges berpandangan, sebelum praktisi PR benar-benar bisa berakselerasi, ada persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian.

Dilansir dari PRDaily, Senin (26/1/2026), Will mengatakan, perlu dipahami bahwa setiap pimpinan mengambil keputusan dengan kecepatan yang berbeda-beda, sementara tim menafsirkan prioritas secara tidak seragam. Tak kalah mendasar, organisasi berubah lebih cepat daripada kemampuan manusianya untuk mencerna perubahan. “Dalam kondisi seperti ini, pembeda utama bukanlah siapa yang paling mahir melakukan prompt, tetapi siapa yang mampu menciptakan koherensi,” jelasnya.

Menurut Will, tim komunikasi berkinerja tinggi dalam konteks kekinian tidak lagi sekadar bertindak sebagai kreator. Mereka berperan sebagai integrator yang bertanggung jawab menyelaraskan pimpinan, pesan, dan keputusan agar organisasi bergerak dengan kejelasan, bukan kebisingan. “Kesenjangan keterampilan ini jarang dibicarakan. Padahal krusial bagi profesi PR di 2026,” imbuhnya.

Dalam konteks pemanfaatan AI, Will berpendapat, banyak tim komunikasi mungkin sedang memecahkan masalah yang keliru. Hal tersebut didasarkan pada asumsi yang kerap muncul bahwa hambatan utama pemanfaatan AI terletak pada kecepatan atau literasi. Seolah dengan menghasilkan konten lebih cepat dan prompt yang lebih canggih, keselarasan (alignment) akan tercipta dengan sendirinya.

Will menjelaskan, AI memang dapat meningkatkan output secara drastis. Namun, ketika prioritas belum jelas dan keputusan belum benar-benar solid, peningkatan output hanya akan mempercepat kebingungan. “AI tidak menyelesaikan ketidaksinkronan, ia menyingkapkannya,” tegasnya.

Keselarasan Sebagai Fungsi Strategis PR

Organisasi kini beroperasi dalam keadaan perubahan yang konstan. Siklus strategi semakin pendek disusul oleh ekspektasi pemangku kepentingan yang semakin tinggi. Dalam situasi seperti ini, kata Will, tuntutan akan kejelasan serta kredibilitas muncul bahkan ketika keputusan masih berkembang.

Di saat yang sama, lanjutnya, pimpinan bergerak pada level yang berbeda. Ada yang fokus pada arah jangka panjang, ada pula yang berkutat pada eksekusi harian. Tanpa keselarasan, tegasnya, sinyal-sinyal ini akan saling bertabrakan. “Di sinilah peran komunikasi menjadi strategis. Fungsi komunikasi adalah salah satu dari sedikit fungsi yang mampu mengintegrasikan strategi, niat kepemimpinan, dan eksekusi real-time,” paparnya.

Bagi Will, komunikator modern tidak lagi sekadar penyampai pesan. Mereka adalah penerjemah strategi dan penyelaras makna. Oleh karena itu, keselarasan berada pada fungsi strategis. Ketika ia kuat, komunikasi akan mempercepat perubahan. Sebaliknya jika lemah, komunikasi akan berubah menjadi kebisingan terlepas dari seberapa canggih teknologinya.

Alignment tidak terjadi secara kebetulan, dan penggunaan AI seyogianya ditujukan untuk memperbesar kejelasan yang sudah ada, bukan menciptakannya. Sebagai langkah awal dalam memastikan keselarasan, imbau Will, praktisi PR dapat menjalankan tahapan berikut, yaitu memastikan siapa yang memutuskan dan kapan, menyelaraskan niat pimpinan, menetapkan jangkar narasi, membangun pesan terintegrasi, dan menggunakan AI sebagai pengali. “Di sinilah AI memberi nilai tertingginya. Bukan memperbaiki ketidaksinkronan, tetapi memperkuat alignment yang sudah ada,” pungkasnya. (LTH)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI