Bagi Ariyana Suryahutami Putri, menjadi seorang praktisi public relations (PR) berarti memasuki ruang untuk bertumbuh dan belajar.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di balik sistem transportasi publik berbasis rel yang kian modern di Jakarta, terdapat kerja komunikasi yang senyap tetapi menentukan. Salah satu sosok yang menjalankan peran tersebut adalah Ariyana Suryahutami Putri. Lewat posisinya sebagai Content and Corporate Branding Specialist PT MRT Jakarta (Perseroda), Ariyana mengemban tanggung jawab dalam perancangan narasi layanan publik hingga pembuatan konten komunikasi.
Kepada PR INDONESIA, Senin (25/8/2025), Ariyana menegaskan, karier di dunia PR tidak ia dapatkan secara instan, karena melibatkan penantian panjang, ketekunan, dan keberanian untuk tetap memelihara mimpi. Perempuan lulusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia itu mengakui bahwa impiannya untuk menjadi seorang praktisi PR sempat tertunda selama enam tahun lamanya.
Kala itu, kenangnya, pintu rezeki yang lebih dulu terbuka mengantarnya ke jalan lain. “Jalan hidup membawa saya berkarier selama satu tahun sebagai Sekretaris Direktur Utama dan lima tahun sebagai Staf Pribadi/Asisten Eksekutif C-Level setara Eselon II. Namun, saya terus berharap kela akan datang kesempatan untuk dapat membuktikan diri bahwa saya mampu berkontribusi baik sebagai seorang PR,” jelasnya.
Impian yang tetap ia rawat itu akhirnya menjadi nyata pada bulan Agustus 2024, ketika MRT Jakarta mempercayakan Ariyana bergabung dalam fungsi komunikasi korporat. Bagi Ariyana, amanah tersebut bukan sekadar perpindahan posisi. Ia melihatnya sebagai momentum pembuktian diri, sekaligus penegasan bahwa konsistensi dan kesabaran akan berbuah hasil.
Sebagai seorang yang mengaku introvert, Ariyana menilai dunia PR justru menjadi medium untuk menaklukkan ketakutan personal. Adapun fokus utamanya dalam lakon ini sederhana tetapi krusial, yaitu memastikan setiap informasi yang dikeluarkan MRT Jakarta dapat dipahami oleh publik dengan latar belakang yang beragam. Baginya, pesan yang baik bukan yang paling canggih, tetapi yang paling relevan dan mudah diterima.
Membagikan salah satu pengalaman paling berkesan selama menjadi PR, Ariyana bercerita tentang keterlibatan langsungnya dalam produksi video mapping untuk pencanangan MRT Jakarta Line Timur–Barat Fase 1 Tahap 1. Pada saat itu, ingatnya, dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, tim komunikasi MRT Jakarta dituntut bekerja presisi di bawah tekanan tinggi karena acara akan dihadiri Presiden RI dan jajaran pejabat negara. “Dari pengalaman itu saya belajar bahwa PR bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga ketangguhan mental dan kerja tim,” ucapnya mantap.
Tidak Terjebak Pada kesempurnaan
Sebagai seorang PR di era digital, Ariyana menempatkan agility dan high relevance sebagai kunci utama kinerja. Arus informasi yang cepat, katanya, telah menuntut praktisi PR mampu merespons dengan sigap tanpa mengorbankan ketepatan narasi. Dalam hematnya, keviralan yang tak terkendali harus dilawan dengan strategi komunikasi yang konsisten dan berpijak pada nilai organisasi. “Pada saat yang sama, PR juga dituntut untuk tidak terjebak pada pola komunikasi lama yang kaku dan menjauh dari audiens. Jangan sampai kita terlalu idealis, tidak berkembang, tidak berusaha fit-in sehingga relasi dengan khalayak semakin jauh dan terabaikan. It’s time for us to hop on the bandwagon, atau kita akan cepat terlupakan,” ujarnya.
Dalam keseharian kerjanya, pembaca buku psikologi dan self-improvement ini memandang sensitivitas dan empati merupakan kekuatan strategis seorang perempuan di dunia humas/PR. Menurutnya, kepekaan membaca situasi, memahami emosi publik, dan mengelola konflik secara humanis menjadi modal penting dalam membangun komunikasi yang bermakna.
Ariyana percaya, reputasi organisasi tidak hanya dibangun lewat pesan yang tegas, tetapi juga melalui pendekatan yang hangat dan penuh empati. Oleh karena itu, sebagaimana prinsip hidupnya yang berbunyi choose growth over perfection, Ariyana mengatakan akan terus bertumbuh agar bisa berkontribusi lebih dalam kehidupan personal maupun profesional. (EDA)