Catatan Juri PRIA 2026 Kategori Departemen & Program PR: Lebih Maju
PRINDONESIA.CO | Selasa, 20/01/2026
Catatan Juri PRIA 2026 Kategori Departemen & Program PR: Lebih Maju
Dewan Juri PRIA 2026 Kategori Departemen & Program PR
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –  Dewan juri PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 kategori Departemen PR dan Program PR mencatat adanya kemajuan signifikan dari sisi kualitas strategi, keberanian ide, hingga pemahaman peserta terhadap peran strategis public relations (PR) dalam mengelola reputasi organisasi.

CEO PR INDONESIA Group Asmono Wikan yang juga duduk di bangku juri misalnya, mengatakan hal tersebut tercermin dari semakin banyaknya program PR yang dirancang secara berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi mayoritas peserta yang sudah mengadopsi kerangka pengukuran global seperti AMEC Framework.

Kendati demikian, catat Asmono, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian peserta. “Dari sisi metode kampanye, mulai dari objektif hingga pengukuran, belum banyak kebaruan yang ditampilkan,” ujarnya dalam wawancara usai penjurian, Selasa (6/1/2026).

Senada dengan Asmono, President of PR Society Magdalena Wenas mencatat sekitar 85 persen peserta PRIA 2026 telah menunjukkan kesiapan entry yang matang. Benang merah antara objektif, strategi, hingga evaluasi, terang Magda, tampak semakin jelas dibandingkan tahun sebelumnya.

Implementasi Praktik Strategis

Melengkapi dua juri di atas, Associate Professor LSPR Institute of Communication and Business Janet Maria Pinariya melihat PRIA 2026 sebagai angin segar bagi perkembangan profesi PR di Indonesia.

Janet melihat kualitas peserta semakin baik, terutama organisasi yang telah rutin mengikuti kompetisi ini. “Para peserta telah memiliki pemahaman yang lebih utuh terhadap peran strategis PR, mengangkat isu-isu organisasi yang relevan dengan konteks sosial yang lebih luas, serta menekankan aspek kebermanfaatan publik,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Dalam PRIA 2026, lanjut Janet, juri tidak semata mencari kebaruan, tetapi memastikan praktik PR dirancang secara strategis. Dalam konteks ini, katanya, program harus memiliki tujuan yang jelas, pemetaan pemangku kepentingan yang tepat, indikator kinerja yang relevan, serta evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan. “Sehingga menghasilkan suatu perubahan persepsi maupun perilaku di masyarakat,” imbuhnya.

Juri lainnya yakni COO Burson Indonesia Harry Deje, mengaku senang sekaligus kaget melihat lonjakan jumlah dan kualitas submission PRIA 2026. Menurutnya, ide, struktur, implementasi, hingga pengukuran para peserta tahun ini semakin matang. Ia juga melihat semakin banyak insan PR muda yang tampil percaya diri dan memainkan peran strategis di organisasi.

Namun, Harry mengingatkan masih ada peserta yang memandang PR secara parsial dan belum holistik. Di sini ia merujuk kepada presentasi tentang program PR tanpa mengaitkannya secara eksplisit dengan konteks bisnis, tujuan organisasi, dan implikasi reputasi jangka panjang. “Semoga dalam pembuatan proposal award selanjutnya lebih bisa memaparkan secara detail dan tetap simple agar para juri lebih mudah mengerti dan memberikan penilaian yang benar-benar objektif,” jelasnya pada  Rabu (7/1/2026).

Catatan kritis juga disampaikan Business Strategy Director at Trisaska Komunika, Member of PR Indonesia Group M. KH. Rahman Ridhatullah. Ia mengingatkan kepada peserta bahwa program PR tidak pernah lahir di ruang kosong. Dalam hal ini, program selalu dipengaruhi oleh kebijakan dan strategi bisnis, sekaligus dituntut untuk menjawab persoalan konkret yang dihadapi organisasi di lapangan. “Kekuatan program PR terletak pada kemampuannya menjembatani dua sisi yaitu selaras dengan strategi bisnis, sekaligus relevan dalam menjawab tantangan reputasi aktual,” tandasnya. (EDA)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI