Temukan Pembeda Agar Tetap Diminati Pembaca
PRINDONESIA.CO | Selasa, 12/01/2021
Temukan Pembeda Agar Tetap Diminati Pembaca
“Masing-masing dari kita punya resep sendiri untuk sukses. Maka, lakukan uji coba (berani gagal), pelajari, dan temukan kesuksesan itu,” kata Hellen, Nielsen.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Riset Nielsen Indonesia menunjukkan bahwa pergeseran kebiasaan masyarakat, khususnya dalam membaca berita, sudah tak terelakkan. Tahun ini ada 10,3 juta pembaca yang bermigrasi dari pembaca cetak ke digital. Terdiri dari 78% pembaca portal berita dan e-paper, sementara cetak 13%. Data tersebut disampaikan oleh Executive Director Nielsen Indonesia Hellen Katherine saat menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) bertajuk “Proyeksi Media di Era Post Covid-19”, Kamis (19/11/2020).

Namun yang harus digarisbawahi, kata Hellen, tidak ada pakar yang benar-benar memahami digital. Sebab, cara dunia bekerja akan selalu berubah. “Yang bisa kita lakukan adalah melakukan relearn dan reinvent secara berkelanjutan,” ujarnya.

Di industri media, relearn bermakna proses meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mempelajari trik baru cara meraih pembaca di digital, lalu memonetisasi caranya. Di fase ini juga perusahaan harus berani berinvestasi. Sebab, konsumen hanya akan peduli dan memilih perusahaan yang sudah siap. Sementara reinvent artinya harus ada proses test and learn. “Masing-masing dari kita punya resep sendiri untuk sukses. Maka, lakukan uji coba (berani gagal), pelajari, dan temukan kesuksesan itu,” katanya.

Ia memberi contoh. Pembaca media cetak didominasi oleh masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Sedangkan 70 persen pembaca on-line berusia di bawah 40 tahun. “Dari profil pembacanya saja sudah berbeda. Tentu, cara penyampaian informasinya juga harus disesuaikan,” katanya. Generasi muda, misalnya, cenderung membaca informasi yang singkat, padat, jelas, menyukai gambar dalam bentuk ilustrasi dan grafis.

 

Berbeda

Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran, mengamini pernyataan Hellen. “Ada banyak pelaku media yang mencoba masuk ke digital, tapi tidak sedikit juga yang gagal,” ujarnya. Ia berpendapat salah satu faktornya adalah pola pikir yang sudah terbangun di pelaku media konvensional. Yakni, iklan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara subscription atau langganan tidak mendapat perhatian. Hasilnya pun jadi tak maksimal. “Bandingkan dengan yang dilakukan oleh pelaku startup. Mereka terus belajar untuk mendapatkan audiens, baru kemudian melakukan monetisasi,” katanya. 

Ia lantas mengajak para pelaku media untuk belajar dari salah satu media konvensional ternama di tanah air. Bahwa branding bukanlah segalanya. “Dia membuat event, lalu dimuat, dan membuat korannya dibaca,” katanya. Dalam marketing, strategi ini dinamakan positioning differentiation branding (PDB). Atau, bisa diterjemahkan menjadi “Kamu tidak harus menjadi yang terbaik, tapi kamu harus berbeda.” Karena berbeda itu pula yang mendorong Hermawan kembali berlangganan media konvensional. Sebab, di media tersebut, ia menemukan hal yang tidak dia temukan di media sosial. 

Di sisi lain, pelaku media konvensional sedang mengalami resesi luar biasa. Melakukan penghematan dan beralih ke media on-line hanya satu dari sekian banyak cara yang sudah mereka lakukan untuk dapat tetap bertahan.

Sementara itu, asosiasi Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), sebagai penjembatan antara pengiklan dengan media, ditantang untuk selalu mengetahui perubahan perilaku konsumen (consumer behavior) dan consumer centris. Menurut pengurus pusat P3I Ernita Aristanty, meski jumlah pembaca digital tergolong tinggi, tapi pengiklan ingin setiap investasi yang sudah mereka keluarkan untuk digital tetap dapat diukur dan brand mereka tetap diingat oleh audiensnya. “Maka, data-data mengenai consumer behavior ini menjadi sangat penting. Dari sana kami bisa mencari jawaban atau cara yang solutif,” katanya. (rha)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI