Pemda DIY Sebut Gelaran PRIA 2026 Kontekstual dengan Lanskap Komunikasi Kiwari
PRINDONESIA.CO | Rabu, 18/02/2026
Pemda DIY Sebut Gelaran PRIA 2026 Kontekstual dengan Lanskap Komunikasi Kiwari
Asisten Sekretaris Daerah Pemda DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi
PR INDONESIA

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut gelaran Public Relation Indonesia Award (PRIA) 2026 sebagai ruang eksplorasi standar profesionalisme komunikasi nasional. Hal tersebut disampaikan Asisten Sekretaris Daerah Pemda DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi, ketika membuka malam puncak PRIA 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Jumat (13/2/2026). Aria hadir mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berhalangan datang.  

Aria mengatakan, tema ajang yang diselenggarakan majalah PR INDONESIA ini, yakni Merajut Narasi dan Menguatkan Reputasi untuk Negeri, cukup kontekstual dengan lanskap komunikasi kiwari. Ia melihat, masyarakat dewasa ini hidup dalam era attention economy. Artinya, atensi telah menjadi komoditas paling penting sekaligus mahal. “Informasi melimpah, akan tetapi kepercayaan justru semakin langka. Dalam situasi ini, fungsi public relations (PR) tidak bisa lagi administratif,” ujarnya.

Menurut Aria, peran PR kini harus bersifat strategis karena akan menentukan keberlanjutan organisasi. Ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan isu hari ini perlu dilakukan secara proaktif, dengan strategi komunikasi berbasis data. “Narasi tidak lagi haris dari intuisi, tetapi harus dirancang melalui social listening dan sentiment analysis,” lanjutnya.

Di samping itu, Aria juga menilai perlu adanya pendekatan PR yang memanfaatkan behavioral insight serta audience journey mapping. Ini karena praktik komunikasi telah bergerak kepada spektrum yang lebih luas. “Dari media relation menuju stakeholder engagement. Dari publikasi menuju reputation management. Dari sekadar response crisis menuju proactive issue management,” tegasnya.

Tentang Citra dan Reputasi

Pemerintah DIY meyakini bahwa pesan tidak pernah diterima dalam ruang kosong. Dalam konteks ini, kata Aria, emosi memengaruhi rasionalitas dalam proses penerimaan informasi. Sementara itu, bias kognitif turut membentuk persepsi publik. Ia juga melihat reputasi sebagai sesuatu yang membutuhkan proses panjang. Dalam hal ini, ia lahir dari integritas, bukan kampanye sesaat. “Kepercayaan lahir dari transparansi data dan akuntabilitas tindakan. Organisasi yang kuat tidak berdasar pada siapa yang paling sering berbicara. Organisasi kuat adalah organisasi yang konsisten antara narasi dan realitas,” imbuhnya.

Menutup sambutannya, Aria menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan PRIA 2026. Ia berharap capaian ini dapat menjadi katalis inovasi komunikasi. Selaras, katanya, Pemerintah DIY akan terus mendorong praktik komunikasi yang berdampak bagi masyarakat. Ia juga mengharapkan PRIA 2026 dapat memperkuat reputasi Indonesia melalui komunikasi berkualitas. (Rangga Pangestu Adji)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI