Akademisi dari Berbagai Negara Soroti Tantangan Komunikasi Digital di Era AI
PRINDONESIA.CO | Jumat, 03/07/2026
Akademisi dari Berbagai Negara Soroti Tantangan Komunikasi Digital di Era AI
The 3rd Mercu Buana International Conference on Communication Science (MICoCS) yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana di Hotel Mercure, Nusa Dua, Bali, Senin (29/6/2026).
Dok. Istimewa.

BALI, PRINDONESIA.CO – Transformasi yang dibawa teknologi kecerdasan buatan (AI) kini melampaui aspek inovasi teknologi semata. Perkembangannya turut mengubah pola komunikasi, perilaku audiens, hingga cara masyarakat membangun kepercayaan terhadap informasi yang beredar di ruang digital.

Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam The 3rd Mercu Buana International Conference on Communication Science (MICoCS) yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana di Hotel Mercure, Nusa Dua, Bali, Senin (29/6/2026). Konferensi internasional itu mempertemukan akademisi ilmu komunikasi dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan China untuk mendiskusikan berbagai tantangan sekaligus peluang komunikasi pada era kecerdasan buatan.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Heri Budianto menjelaskan, konferensi tersebut mengangkat pelbagai isu strategis, mulai dari perubahan perilaku audiens, perkembangan industri media digital, komunikasi lintas budaya, hingga pentingnya memperkuat inklusi digital sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi AI.

Saat membuka konferensi, Ketua MICoCS 2026 Afdal Makkuraga Putra menegaskan, masa depan komunikasi tidak semata ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan juga oleh kemampuan manusia menjaga kualitas interaksi dan kepercayaan publik di tengah dominasi algoritma “Autentisitas, transparansi algoritma, hubungan emosional dengan audiens, serta penguatan literasi digital menjadi faktor yang menentukan terciptanya ekosistem komunikasi yang sehat, inklusif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi yang makin pesat,” ujar Afdal dikutip dari Media Indonesia, Selasa (30/6/2026).

Persoalan kepercayaan terhadap informasi digital menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam konferensi tersebut. Akademisi dari University of the Punjab Pakistan Ayesha Ashfaq menilai, algoritma AI telah mengubah cara masyarakat mengakses dan mengonsumsi berita. Sistem rekomendasi berbasis AI, menurutnya, kini memiliki peran besar dalam menentukan informasi yang muncul di media sosial maupun berbagai platform digital.

Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru berupa filter bubble, echo chamber, hingga meningkatnya potensi penyebaran misinformasi. Karena itu, Ayesha menilai peningkatan literasi AI menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat mampu memahami cara kerja algoritma sekaligus lebih kritis dalam menyaring informasi. "Viralitas bukan lagi ukuran utama kredibilitas sebuah informasi. Karena itu, transparansi algoritma dan peningkatan literasi AI menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap informasi digital," paparnya.

Bias Algoritma

Pandangan serupa disampaikan Gerald Goh Guan Gan dari Multimedia University Malaysia. Menurutnya, kesenjangan digital pada era AI tidak lagi sebatas persoalan akses terhadap internet maupun perangkat teknologi, tetapi juga berkaitan dengan bias algoritma yang berpotensi memengaruhi distribusi informasi serta pengalaman pengguna dalam ruang digital.

Sementara itu, Liu Hao dari Zhejiang Business Technology Institute China, memaparkan hasil penelitiannya mengenai efektivitas komunikasi digital dalam membangun citra destinasi wisata melalui media sosial. Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman autentik yang dibagikan kreator konten lebih mampu membangun keterlibatan audiens dibandingkan promosi formal yang dilakukan institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Ahmad Mulyana memperkenalkan Mulyana Model, sebuah model konseptual yang menjelaskan transformasi industri makna pada era digital melalui perspektif mediamorfosis.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah melahirkan berbagai fenomena baru, seperti attention economy, ekonomi kreator, monetisasi data, hingga kapitalisme platform yang mengubah cara organisasi maupun individu memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi informasi. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI