Di tengah derasnya arus informasi digital, kepercayaan publik kini turut mengalami perubahan. Untuk memperoleh itu, perusahaan mesti memberikan pelayanan yang konsisten, tata kelola yang kuat, dan kemampuan menghadirkan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Reputasi organisasi di era digital makin ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga kepercayaan publik. Bagi badan usaha milik negara (BUMN) maupun badan usaha milik daerah (BUMD), kepercayaan tersebut lahir dari pengalaman masyarakat saat menerima layanan alih-alih sekadar pesan yang disampaikan melalui berbagai kanal komunikasi.
Hal itu disampaikan Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Lalu Dodot Patria Ary, saat menjadi salah satu narasumber dalam agenda Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026, yang berlangsung di Gedung Peruri, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Mengawali pemaparannya, pria yang akrab disapa Dodot ini mengingatkan bahwa organisasi yang kredibel adalah organisasi yang mampu melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Menurutnya, setiap pelanggan yang mempercayakan kebutuhan dan harapannya kepada perusahaan sesungguhnya membawa mimpi yang sejalan dengan tujuan organisasi itu sendiri. "Di sinilah, kita perlu melakukan pelayanan yang optimal kepada mereka. Karena satu kesalahan bisa meruntuhkan kepercayaan mereka," ujar Dodot.
Menurut dia, tantangan menjaga kepercayaan publik saat ini makin besar lantaran adanya perubahan perilaku masyarakat di era digital. Ia pun menyinggung tiga aspek utama yang diinginkan oleh masyarakat sebagai pelanggan BUMD ataupun BUMN yakni konektivitas yang terus-menerus melalui internet, tuntutan keterbukaan informasi yang lebih luas, dan kepastian bahwa organisasi memiliki sistem yang mampu mengelola berbagai risiko operasional maupun reputasi.
Adapun ketiga aspek tersebut, lanjutnya, tidak dapat dipisahkan dari penerapan tata kelola perusahaan yang kuat. "Dari mempunyai prosedur dan alur jelas, SLA dan respon yang tepat, komunikasi tepat dan konsisten, hingga monitoring dan evaluasi yang konsisten," ungkapnya.
Ia pun menjelaskan bahwa lanskap komunikasi digital telah mengubah cara publik membentuk persepsi terhadap sebuah organisasi. Tingginya penggunaan internet dan media sosial membuat informasi menyebar sangat cepat. Pada saat yang sama, lanjut dia, berbagai ancaman seperti hoaks, disinformasi, maupun manipulasi opini dapat memengaruhi reputasi perusahaan hanya dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, Dodot menekankan bahwa reputasi tidak lagi cukup dijaga melalui aktivitas komunikasi semata. Ia menegaskan, organisasi perlu membangun fondasi yang kuat melalui tata kelola yang baik, pengelolaan isu yang terstruktur, serta pemetaan stakeholder yang tepat agar komunikasi yang dijalankan relevan dengan kebutuhan masing-masing kelompok pemangku kepentingan.
Menghadirkan Dampak
Dalam praktiknya, kata Dodot, PNM menerapkan pendekatan komunikasi yang terintegrasi dengan memperkuat koordinasi internal sekaligus membuka akses informasi yang luas kepada publik. Namun, bagi Dodot, komunikasi yang efektif bukan hanya menyampaikan informasi, melainkan bagaimana perusahaan mampu membangun narasi strategis hingga akhirnya berdampak bagi masyarakat.
Untuk mewujudkan itu, kata dia, perusahaan dapat menggunakan pendekatan yang mengubah data menjadi cerita, cerita menjadi makna, kemudian berkembang menjadi percakapan yang pada akhirnya melahirkan kepercayaan.
Dalam konteks itu, Dodot menyinggung upaya PNM menunjukkan dampak nyata program pemberdayaan yang dijalankan bagi jutaan perempuan prasejahtera dan pelaku usaha ultra mikro di Indonesia. Langkah itu dimulai dari reposisi narasi PNM sebagai sahabat pemberdayaan, menghadirkan testimoni nasabah, hingga mengemas komunikasi yang berfokus pada dampak kehadiran PNM bagi perjuangan ibu-ibu.
Berdasarkan sejumlah kajian di antaranya oleh INDEF dan UGM, 74 persen nasabah mengalami peningkatan pendapatan setelah menjadi nasabah PNM Mekaar. Selain itu, 72 persen perempuan nasabah berkontribusi dalam pengambilan keputusan terkait keuangan, kesehatan, dan kehidupan sosial keluarga. Kemudian, ketahanan keuangan nasabah meningkat dari rata-rata satu hingga dua minggu menjadi satu hingga dua bulan.
Bagi Dodot, dampak-dampak tersebut merupakan fondasi utama reputasi organisasi. Ia menyebut, saat masyarakat merasakan manfaat secara langsung, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya dan menjadi modal sosial yang memperkuat keberlanjutan perusahaan. "Masyarakat tidak hanya menilai apa yang kita komunikasikan, tetapi juga apa yang kita kerjakan secara konsisten," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)