Di tengah masifnya percakapan publik di media digital, perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan asumsi dalam mengelola reputasi. CEO NoLimit Indonesia, Aqsath Rasyid Naradhipa menyebut, data menjadi fondasi penting untuk memahami persepsi publik sekaligus menentukan strategi komunikasi yang tepat bagi perusahaan.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan perusahaan. Media sosial kini tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang bagi publik menyampaikan pengalaman, aspirasi, hingga membentuk persepsi terhadap layanan yang diberikan badan usaha milik daerah (BUMD). Kondisi tersebut membuat pengelolaan reputasi tidak lagi bisa mengandalkan asumsi, melainkan harus didasarkan pada data yang akurat.
Hal tersebut disampaikan CEO NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa, saat menjadi narasumber dalam agenda Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026 yang berlangsung di Gedung Peruri, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Dalam paparannya, Aqsath menekankan pentingnya pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai fondasi pengambilan keputusan komunikasi yang lebih strategis. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan.
Perubahan tersebut, kata dia, membuat reputasi perusahaan makin dipengaruhi oleh percakapan yang berlangsung di ruang digital. "Perusahaan perlu mengetahui apa yang sedang dibicarakan masyarakat, memahami sentimen yang berkembang, sekaligus mengidentifikasi isu-isu yang paling banyak mendapat perhatian publik," ujar Aqsath.
Ia menilai, kemampuan perusahaan membangun komunikasi yang efektif harus didukung oleh proses pengambilan keputusan berbasis data. Hal itu perlu dilakukan agar perusahaan mampu memahami perubahan perilaku masyarakat sekaligus merespons kebutuhan mereka secara lebih tepat.
Melalui analisis dan interpretasi data yang valid, lanjutnya, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai tren pasar, tingkat kepuasan pelanggan, hingga performa berbagai program yang telah dijalankan. "Teknologi big data dan kecerdasan buatan untuk komunikasi BUMD mampu menjadi senjata yang ampuh untuk memahami publik sekaligus target pasar bagi perusahaan daerah," tutur dia.
Pemantauan Percakapan Digital
Untuk menunjukkan bagaimana pendekatan tersebut diterapkan, Aqsath pun memaparkan hasil pemantauan percakapan digital terhadap sejumlah sektor BUMD, mulai dari perbankan daerah, rumah sakit daerah, perusahaan air minum, hingga perusahaan transportasi.
Lewat analisis yang dilakukan, kata dia, setiap organisasi memiliki karakter percakapan, tingkat eksposur, dan persepsi publik yang berbeda sehingga memerlukan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing.
Untuk itu, Aqsath pun menekankan bahwa pemahaman terhadap persepsi publik dalam percakapan digital itu sebagai modal penting bagi perusahaan untuk terus memperbaiki kualitas layanan sekaligus menyusun strategi komunikasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Aqsath juga memperkenalkan konsep Digital PR Ecosystem sebagai pendekatan dalam membangun reputasi organisasi di era digital. Adapun ekosistem itu terdiri atas tiga elemen utama, yakni sumber daya manusia (people), pemanfaatan teknologi (tools), serta tata kelola atau peraturan (regulation) yang saling terintegrasi dalam pengelolaan komunikasi digital.
Ia menjelaskan bahwa kematangan komunikasi digital organisasi berkembang secara bertahap. Tahap awal dimulai dari kemampuan memproduksi konten dan memberikan respons kepada publik. Selanjutnya, organisasi perlu memperkuat fungsi pemantauan dan evaluasi, melibatkan influencer, mengintegrasikan data internal dan eksternal, hingga memanfaatkan big data dan AI sebagai pendukung pengambilan keputusan komunikasi berbasis data. "Dengan memanfaatkan big data dan AI, setiap keputusan komunikasi dapat disusun berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)