Bagi Khairani Windyaningrum, komunikasi adalah tentang menghadirkan makna, membangun jembatan pemahaman, sekaligus menjaga kepercayaan di tengah berbagai dinamika yang terus berubah.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Di industri aviasi yang bergerak cepat dan penuh tekanan, komunikasi bukan sekadar soal menyampaikan informasi. Keyakinan itulah yang dipegang oleh Khairani Windyaningrum. Perempuan yang kini menjabat sebagai Senior Manager Corporate Communications and CSR di GMF AeroAsia itu percaya, peran public relations (PR) tidak berhenti pada publikasi atau citra semata.
Menurut Khairani, di balik setiap pesan, ada tanggung jawab untuk menciptakan koneksi yang relevan antara perusahaan dan publiknya. "Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi soal membangun jembatan pemahaman dan menciptakan dampak,” ujarnya kepada PR INDONESIA, Rabu (26/11/2025).
Keyakinan itulah yang menjadi benang merah perjalanan karier Khairani. Lulusan Ilmu Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu memulai karier sebagai Media Planner Officer, lalu melanjutkan kiprahnya sebagai Creative Off-Air Officer di RCTI. Hingga pada 2017, ia bergabung dengan GMF AeroAsia sebagai Corporate Communications Officer.
Perjalanan kariernya berjalan bertahap. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Corporate Communications Executive. Lalu pada 2022, Khairani menerima amanah sebagai Senior Manager Corporate Communications and CSR.
Kepada PR INDONESIA, Khairani mengaku bahwa perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Salah satu fase paling membekas dalam kariernya hadir ketika pandemi Covid-19 melanda industri penerbangan. Saat itu, ingatnya, situasi internal tim komunikasi tengah berada dalam tekanan besar. Atasannya mengundurkan diri, disusul tiga anggota tim lainnya. Di tengah kondisi industri yang mengalami turbulensi, tim komunikasi yang tersisa hanya tiga orang.
Dalam situasi itulah Khairani dipercaya menjalankan peran pelaksana harian untuk menjaga ritme komunikasi perusahaan tetap bergulir. "Kami bertiga harus bahu-membahu mengerjakan berbagai pekerjaan, bahkan di luar kompetensi kami, demi memastikan fungsi komunikasi perusahaan tetap berjalan,” kenangnya.
Baginya, masa krisis tersebut menjadi pelajaran penting tentang resiliensi dan kolaborasi. Ia belajar bahwa tantangan sebesar apa pun dapat dilalui ketika tim memilih bertahan dan saling mendukung.
Pengalaman itu pula yang membentuk cara pandangnya terhadap komunikasi korporasi hari ini. Menurut Khairani, PR tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Fungsi komunikasi harus mampu menghadirkan brand yang memiliki karakter kuat, konsisten, dan dekat dengan publik.
Di GMF, katanya, tantangan itu menjadi makin kompleks karena perusahaan tidak hanya menawarkan layanan perawatan pesawat, tetapi juga membawa misi lebih besar sebagai penyedia solusi pemeliharaan terintegrasi yang berkontribusi bagi bangsa.
Oleh karena itu, ia menempatkan storytelling sebagai salah satu elemen terpenting dalam strategi komunikasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, narasi yang kuat dan menyentuh sisi emosional dinilai menjadi pembeda sebuah brand. "PR dituntut untuk mampu menghadirkan komunikasi yang humanis, transparan, dan konsisten,” katanya.
Menghadirkan Empati
Bagi Khairani, kreativitas dan sisi humanis tetap menjadi ruh dalam profesi PR, bahkan ketika teknologi dan artificial intelligence berkembang begitu cepat. Kreativitas, menurutnya, membuat pesan terasa lebih autentik, relevan, dan mampu standout di tengah banjir informasi.
Perspektif humanis itu juga ia bawa dalam gaya kepemimpinannya. Sebagai perempuan, ia melihat empati sebagai salah satu kekuatan penting dalam profesi komunikasi. Menurutnya, empati tidak hanya membantu memahami audiens, tetapi juga membuat storytelling terasa lebih mendalam dan menyentuh. “Perempuan biasanya juga memiliki kemampuan multitasking dan manajemen emosi yang baik, yang membantu dalam menghadapi dinamika pekerjaan PR yang penuh tekanan dan membutuhkan respons cepat,” tutur dia.
Di tengah kesibukan mengelola komunikasi korporasi, Khairani tetap berupaya menjaga keseimbangan hidup. Ia mengaku menikmati menulis, baik untuk kebutuhan pribadi maupun dalam konteks profesional sebagai pekerja lepas. Hal itu dilakukannya sebagai cara menuangkan ide sekaligus melatih ketajaman berpikir. Beberapa tahun terakhir, ia juga rutin berolahraga di gym untuk menjaga disiplin dan konsistensi.
Sementara saat membutuhkan jeda, ia memilih menikmati waktu sendiri dengan beristirahat di kamar, menyetir sambil mengeksplorasi kuliner, atau menonton film di bioskop. Baginya, me time bukan sekadar beristirahat, melainkan proses recharge agar tetap fokus dan produktif.
Di balik seluruh perjalanan tersebut, Khairani memegang satu prinsip hidup yang terus ia yakini: tidak pernah ada amanah yang salah pundak. "Setiap hal yang hadir dalam hidup adalah bagian dari jalan Tuhan. Itu berarti, menurut kalkulasi-Nya, kita pasti mampu mengemban amanah tersebut,” tuturnya.
Prinsip itu pula yang membuatnya terus melangkah dan berkembang. Ke depan, Khairani berharap dapat membangun platform kreatifnya sendiri, yakni sebuah ruang untuk berbagi ide, pengalaman, dan perspektif yang mampu memberi dampak lebih luas bagi banyak orang.
Sebab baginya, komunikasi yang baik tidak hanya berhenti di ruang kerja atau meja kantor. Komunikasi yang bermakna adalah komunikasi yang mampu meninggalkan jejak, menghubungkan manusia, dan membuat orang merasa dekat dengan cerita yang disampaikan. (Fadhil Pramudya)