Keberhasilan juru bicara dalam menyampaikan pesan organisasi ditentukan oleh dua strategi kunci, yakni kesiapan melalui pelatihan berbasis kebutuhan dan ketepatan dalam memilih figur sesuai konteks komunikasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Keberhasilan juru bicara dalam menyampaikan pesan organisasi tidak semata ditentukan oleh kemampuan personal, tetapi juga oleh strategi komunikasi yang terencana dan berbasis kebutuhan situasi.
Dalam konteks ini, kata Senior Director of Learning and Development at Ragan Communications Justin Joffe, praktisi public relations (PR) dituntut untuk mengambil keputusan krusial dalam memilih juru bicara guna memastikan pesan organisasi tersampaikan dengan efektif kepada publik. “Juru bicara yang kuat tidak muncul begitu saja. Mereka dibentuk secara sengaja oleh para komunikator yang memiliki tujuan dan pemahaman yang jelas,” ujarnya dikutip dari PR Daily, Selasa (21/4/2026).
Dalam praktiknya, kata Justin, banyak organisasi masih keliru dengan menganggap performa juru bicara sebagai faktor bawaan individu atau sekadar menunjuk pejabat paling senior. Padahal, efektivitas juru bicara sangat bergantung pada proses persiapan, pelatihan, serta pemilihan figur yang tepat sesuai konteks komunikasi.
Dua Strategi
Justin memaparkan bahwa ada dua strategi kunci yang dapat digunakan oleh praktisi PR dalam memilih juru bicara yang efektif sebagai wajah organisasi dalam berkomunikasi dengan publik, terutama dalam momen berisiko tinggi atau berdampak luas.
Pertama, menggunakan pendekatan diagnostik. Dalam hal ini, Justin memaparkan, pendekatan diagnostik menjadi salah satu strategi penting untuk mengidentifikasi potensi kegagalan komunikasi sejak awal. Ia menyebut, berbagai hambatan dalam performa juru bicara umumnya bukan disebabkan oleh faktor kepribadian, melainkan kurangnya kesiapan dan pelatihan media yang memadai.
Dengan memahami pola-pola kegagalan ini, lanjut dia, praktisi komunikasi dapat memitigasi risiko sebelum muncul di ruang publik. “Pelatihan media yang efektif bukan sekadar memperhalus cara penyampaian, tetapi berfokus pada membangun kesadaran, memperkuat kesiapan, serta memperkuat kemampuan mengendalikan diri dalam situasi penuh tekanan,” tutur dia.
Kedua, memilih juru bicara sesuai momentum dan kebutuhan komunikasi. Bagi Justin, pemilihan juru bicara harus disesuaikan dengan momentum dan kebutuhan komunikasi. Peraih gelar Magister di bidang Jurnalisme dari Craig Newmark Graduate School of Journalism CUNY itu menyebut, tidak semua situasi membutuhkan figur dengan jabatan tertinggi.
Menurutnya, setiap momen komunikasi memiliki karakteristik berbeda yang menuntut keahlian spesifik. Dengan begitu, kata dia, penyelarasan antara pesan, audiens, dan pembicara menjadi krusial. Selain itu, tegas Justin, nilai strategis fungsi komunikasi terletak pada kemampuan praktisi PR dalam menentukan siapa berbicara, kapan, dan untuk tujuan apa.
Justin menandaskan, kinerja juru bicara yang kuat bukan hanya soal cara menyampaikan pesan. “Hal ini juga mencakup persiapan yang matang, kesadaran terhadap situasi, serta pengambilan keputusan yang dilakukan dengan sengaja dan penuh pertimbangan,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)