Saatnya Komunikasi Internal Beralih ke Pengukuran Dampak
PRINDONESIA.CO | Jumat, 17/04/2026
Saatnya Komunikasi Internal Beralih ke Pengukuran Dampak
Praktisi komunikasi dan kehumasan perlu mengubah cara mengukur keberhasilan program, dari sekadar aktivitas menuju dampak nyata yang dihasilkan terhadap audiens dan organisasi.
Dok. Freepik

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Keberhasilan komunikasi internal tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak pesan dikirim, tetapi oleh perubahan yang dihasilkan pada audiens. Pergeseran ini dinilai penting untuk memperkuat posisi komunikasi sebagai fungsi strategis.

Dikutip dari PR Daily, co-founder & Managing Partner PoliteMail Michael DesRochers menyebut, selama ini indikator seperti open rate, klik, hingga jumlah tayangan masih dominan digunakan. Namun, lanjut dia, metrik tersebut hanya menunjukkan aktivitas, bukan efektivitas komunikasi dalam mendorong perubahan. 

Ia menjelaskan, pendekatan berbasis dampak menekankan pentingnya mengukur hasil yang benar-benar berubah, seperti peningkatan pemahaman, keselarasan dengan tujuan organisasi, hingga perubahan perilaku audiens. “Tanpa itu, komunikasi berisiko hanya menjadi rutinitas penyampaian pesan tanpa makna,” ujar Michael dikutip Kamis (16/4/2026).

Michael menyebut, dalam konteks komunikasi internal, tingginya keterlibatan tidak selalu mencerminkan keberhasilan. Menurutnya, audiens bisa saja membuka atau melihat pesan yang disampaikan. Akan tetapi, hal itu tidak sepenuhnya bisa dipahami atau ditindaklanjuti audiens. “Ini menjadi celah yang kerap memicu kelebihan informasi sekaligus menurunkan relevansi pesan,” tuturnya.

Spesifik dan Terukur

Untuk itu, Michael menerangkan bahwa strategi pengukuran tersebut perlu dimulai dari tujuan akhir yang ingin dicapai. Praktisi komunikasi didorong menetapkan indikator keberhasilan yang spesifik dan terukur, seperti peningkatan pemahaman karyawan, partisipasi program, atau perubahan perilaku kerja. 

Peraih gelar Bachelor of Science dari University of New Hampshire itu menjelaskan, konsep pengukuran tersebut menempatkan outcome metrics sebagai indikator utama. Meski begitu, ia menerangkan bahwa metrik mengenai aktivitas komunikasi tetap dapat digunakan sebagai pendukung. “Dengan pendekatan ini, setiap data tidak hanya mencatat aktivitas, tetapi juga menjelaskan kontribusinya terhadap hasil yang diharapkan,” terangnya.

Lebih jauh, ia menegaskan, komunikasi yang efektif tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi harus mampu mendorong aksi nyata. Dalam konteks itu, kata Michael, indikator seperti tingkat partisipasi, kepatuhan terhadap kebijakan, hingga perubahan perilaku menjadi tolok ukur yang lebih relevan. 

Ia pun menerangkan bahwa pendekatan tersebut juga menuntut integrasi antara tujuan, strategi komunikasi, dan hasil yang dicapai dalam satu ekosistem pengukuran yang saling terhubung. “Dengan demikian, komunikasi dapat menunjukkan kontribusinya secara jelas terhadap kinerja organisasi,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI