Ada tiga pilar utama dalam membangun sistem komunikasi modern agar mampu menghadirkan pertumbuhan merek (brand growth) di tengah masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Apa saja?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Kehadiran teknologi artificial intelligence (AI) dan arus informasi yang makin masif menuntut organisasi membangun sistem komunikasi modern yang tidak sekadar mengikuti tren. Dalam konteks ini, organisasi juga perlu memastikan pesan merek tetap akurat, cepat, dan terpercaya.
Untuk itu, Vice President of Marketing Fullintel Ted Skinner menyebut, untuk membangun sistem komunikasi yang modern tersebut tak selalu mesti mengadopsi tools baru. Terpenting, katanya, harus tools komunikasi yang digunakan tepat. “Untuk melakukan ini, seorang komunikator perlu memahami tiga pilar fundamental, yakni voice (suara merek), velocity (kecepatan respons), dan verification (verifikasi informasi),” ujarnya dikutip dari PRNews, Selasa (14/4/2026).
Ketiga aspek tersebut, menurut Ted, dapat menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan merek di tengah ekosistem komunikasi yang makin kompleks. Lebih jelasnya, mari disimak.
1. Voice (suara merek)
Ted menjelaskan bahwa pada aspek voice, tantangan utama bagi praktisi komunikasi saat ini adalah memastikan representasi merek tetap konsisten, tidak hanya dari konten yang dipublikasikan, tetapi juga dari bagaimana AI memahami dan merangkum informasi tentang merek tersebut.
Pasalnya, kata dia, jawaban yang dihasilkan AI kerap menjadi referensi awal publik dalam mengenal sebuah organisasi. Oleh karenanya, Ted menekankan bahwa perusahaan perlu secara aktif memantau bagaimana merek mereka ditampilkan di berbagai platform AI.
Ketidaksesuaian informasi seperti misalnya deskripsi yang tidak akurat atau terlalu umum, dapat menjadi sinyal perlunya perbaikan konten yang lebih spesifik, berbasis bukti, dan mudah dipahami publik. “Gambaran awal yang cepat tersebut membuat langkah berikutnya menjadi jelas: praktisi komunikasi dapat langsung mengetahui apa yang perlu diperjelas, diperkuat, atau dikoreksi dalam konten mereka,” ucap Ted.
2. Velocity (kecepatan respons)
Sementara itu, aspek velocity menekankan pentingnya kecepatan respons dalam siklus berita yang bergerak sangat cepat. Isu dapat berkembang dalam hitungan jam dan membentuk persepsi publik secara luas. Namun, kata Ted, kecepatan tanpa sistem justru berisiko memunculkan komunikasi yang tidak konsisten dan memperburuk situasi.
Untuk itu, Sarjana ekonomi dari University of Michigan itu menyebut bahwa organisasi disarankan memiliki mekanisme respons yang terstruktur, seperti skenario krisis yang telah dipetakan, draf pernyataan yang siap disesuaikan, jalur eskalasi yang jelas, serta sistem monitoring sederhana. “Pendekatan ini memungkinkan respons cepat sekaligus tetap terkontrol,” tuturnya.
3. Verification (verifikasi informasi)
Kemudian, aspek verification menjadi elemen krusial dalam menyaring derasnya arus informasi. Ted menerangkan bahwa tidak semua data atau percakapan publik memiliki bobot yang sama, sehingga organisasi perlu mampu membedakan mana sinyal penting dan mana sekadar noise.
Menurutnya, proses verifikasi ini mencakup penilaian kredibilitas sumber, akurasi konteks atau sentimen, pola isu yang muncul, hingga dampak nyata terhadap bisnis. “Praktik yang terbaik yakni menggabungkan teknologi monitoring dengan analisis manusia untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat,” katanya.
Secara praktis, Ted menekankan bahwa organisasi atau perusahaan tidak harus melakukan transformasi besar atau investasi teknologi yang mahal. Langkah awal bisa dimulai dari memantau persepsi AI terhadap merek, mengevaluasi kecepatan respons tim komunikasi, serta memastikan integrasi antara monitoring, respons, dan strategi konten berjalan selaras.
Lebih jauh, ia pun mengungkapkan bahwa perusahaan yang mampu mengelola voice, velocity, dan verification secara terintegrasi akan memiliki keunggulan di atas kompetitor untuk menjaga relevansi dan pertumbuhan merek di tengah era teknologi AI. (Fadhil Pramudya)