AI pada dasarnya merupakan produk pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan komunikasi. Meski demikian, katanya, keberadaan AI tetap tidak dapat menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia menegaskan, kecerdasan buatan (AI) memang telah menjadi alat bagi praktisi hubungan masyarakat (public relations/PR) dalam membantu proses verifikasi informasi hingga percepatan pencarian data. Namun, sebagaimana ditekankan Sekretaris Umum Perhumas Benny Siga Butarbutar, keputusan yang menentukan output penggunaan tetap berada di manusia.
Benny menjelaskan, AI pada dasarnya merupakan produk pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan komunikasi. Meski demikian, katanya, keberadaan AI tetap tidak dapat menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan. “Selaku praktisi PR, AI juga adalah produk knowledge yang selalu dibutuhkan dalam membantu melakukan proses verifikasi, proses percepatan, pencarian data, bahkan termasuk proses untuk memastikan itu fakta atau tidak,” ujarnya dalam acara INFOBRAND Forum 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026), dikutip dari ANTARA News.
Menurut Benny, globalisasi telah menciptakan hubungan yang semakin rumit, serta meningkatkan ketidakpastian (uncertainty), yang dalam kondisi ini kecerdasan buatan dapat membantu proses analisis dan prediksi. “AI bukan saja jadi alat bantu, meskipun kita perlu, tapi dia tetap tidak menjadi penentu. Penentunya itu adalah manusia, praktisi PR sendiri bahkan wartawan,” kata Benny yang juga menjabat Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA tersebut.
Keterbatasan AI
Lebih lanjut Benny menjelaskan, dalam situasi krisis, AI memiliki keterbatasan karena tidak mampu sepenuhnya membaca kompleksitas emosi publik yang sering kali sangat mendalam dan dipengaruhi banyak faktor. Di sini peran praktisi PR bermain dengan sangat signifikan.
Meski demikian, imbuh Benny, pemanfaatan AI tetap penting karena dapat mempercepat proses pengolahan data dan membantu pemimpin dalam mengambil keputusan secara lebih cepat dan berbasis informasi. “Pada saat krisis AI membantu dalam hal memprediksi dan melakukan mitigasi. Tapi begitu kejadian, lagi-lagi AI tidak mampu membaca tentang kompleksitas emosi publik yang begitu dalam, rumit, tajam dan penuh dengan berbagai aspeknya,” katanya.
Benny juga menekankan pentingnya kemampuan membangun prompting dan memanfaatkan AI untuk memprediksi dinamika komunikasi ke depan. Bagi pemimpin komunikasi, termasuk pejabat publik, katanya, AI harus diposisikan sebagai alat untuk memperdalam makna dan analisis.
Selain itu, Benny juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan (trust) dalam komunikasi publik, mengingat kepercayaan tidak hanya dibangun melalui keunggulan produk atau layanan, tetapi juga melalui kepedulian yang ditunjukkan organisasi kepada publik. (LTH)