AMEC Perkenalkan GEO Principles, Standar Baru Ukur Reputasi di Era AI
PRINDONESIA.CO | Kamis, 04/06/2026
AMEC Perkenalkan GEO Principles, Standar Baru Ukur Reputasi di Era AI
International Association for the Measurement and Evaluation of Communication (AMEC) meluncurkan AMEC GEO Principles dalam AMEC Global Summit 2026 di Dublin, Irlandia, pada 19-20 Mei 2026.
Dok. AMEC

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang makin memengaruhi cara publik dalam mencari dan mengonsumsi informasi, telah menuntut adanya pendekatan baru dalam pengukuran komunikasi dan reputasi. Hal itu yang mendorong International Association for the Measurement and Evaluation of Communication (AMEC) meluncurkan AMEC GEO Principles, kerangka kerja global yang dapat membantu praktisi komunikasi mengukur dan memahami bagaimana organisasi, merek, isu, maupun tokoh direpresentasikan dalam lingkungan AI generatif.

Adapun peluncuran tersebut dilakukan dalam AMEC Global Summit 2026 di Dublin, Irlandia, pada 19-20 Mei 2026 lalu, seiring meningkatnya penggunaan AI sebagai sumber utama pencarian informasi.

Di Indonesia, tren ini terlihat dari tingginya tingkat adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas profesional. Dalam konteks tersebut, AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu pencarian, tetapi turut menentukan informasi yang ditampilkan kepada publik, sumber yang dikutip, hingga cara sebuah organisasi dipersepsikan.

Analytics & Insights Director sekaligus Partner Maverick Indonesia Felicia Nugroho yang hadir mewakili Indonesia dalam AMEC Global Summit 2026 mengatakan, perubahan perilaku audiens akibat AI telah mengubah cara organisasi membangun dan mengelola reputasi.

Felicia menyebut, dalam setahun terakhir GEO berkembang dari isu yang mulai diperbincangkan menjadi salah satu agenda utama dalam industri komunikasi. "Kini GEO sudah menjadi agenda utama, karena AI bukan lagi sekadar platform teknologi, tetapi juga medium yang mengubah pola pencarian informasi," ujar Felicia, dalam keterangan tertulis yang diterima PR INDONESIA, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, reputasi organisasi dan brand di masa depan akan makin dipengaruhi oleh bagaimana informasi mengenai entitas tersebut ditemukan, dipahami, dan dikutip oleh sistem AI. "Inilah mengapa pengukuran GEO perlu dilakukan secara disiplin, transparan, dan etis,” tambah dia.

Sebagai tindak lanjut atas perkembangan tersebut, Maverick Indonesia telah menerbitkan white paper pertama mengenai visibilitas generative AI di Indonesia. Studi tersebut menunjukkan sejumlah merek di sektor perbankan dan otomotif mulai muncul dalam jawaban yang dihasilkan sistem AI.

Temuan itu pun memperkuat kebutuhan organisasi untuk memahami bagaimana reputasi mereka dibentuk dalam ekosistem AI yang terus berkembang. "Berbagai temuan ini pun menjadi landasan MavGEO, layanan Maverick Indonesia yang membantu brand mengukur dan meningkatkan visibilitas mereka dalam jawaban AI,” ungkapnya.

Standar Pengukuran Kredibel

Di tingkat global, AMEC menilai kehadiran standar pengukuran yang kredibel menjadi makin penting seiring AI yang makin memengaruhi apa yang dilihat, dipercaya, dan dilakukan publik. Direktur Pelaksana PR Agency One sekaligus Direktur Dewan AMEC James Crawford mengatakan, kebutuhan akan standar bersama muncul di tengah meningkatnya minat industri tentang bagaimana GEO dan keluaran large language model (LLM) seharusnya diukur.

Menurutnya, perkembangan teknologi tersebut menghadirkan berbagai inovasi, tetapi juga memunculkan tantangan berupa standar yang belum seragam, klaim berlebihan, hingga metodologi yang kurang transparan. "AMEC memiliki tanggung jawab untuk membawa disiplin dalam diskusi tersebut," papar dia.

Ia menjelaskan bahwa AMEC GEO Principles disusun selama lebih dari enam bulan melalui proses riset, diskusi, dan penelaahan bersama praktisi, akademisi, analis, serta vendor teknologi. Kerangka tersebut diharapkan menjadi titik awal bersama bagi industri untuk mengembangkan standar pengukuran yang lebih kredibel.

Sementara itu, CEO dan Global Managing Director AMEC Johna Burke menegaskan, evaluasi yang transparan dan berbasis bukti menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan publik di era AI. "Seiring AI yang makin membentuk apa yang dilihat, dipercaya, dan dilakukan oleh publik, industri komunikasi perlu menjunjung standar yang lebih tinggi dalam hal transparansi, bukti, dan akuntabilitas,” kata dia.

Lebih lanjut, Burke berpandangan bahwa pengembangan GEO Principles menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk memastikan pengukuran komunikasi yang relevan, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. "Inisiatif ini mencerminkan keahlian kolektif, proses penelaahan yang ketat, dan komitmen para profesional lintas wilayah yang memahami bahwa evaluasi yang ketat, transparan, dan etis sangat penting untuk menjaga kepercayaan di era AI," pungkasnya.

Sekilas AMEC GEO Principles

Prinsip-prinsip baru AMEC ini dirancang untuk membantu para praktisi komunikasi mengevaluasi area ini secara bertanggung jawab dan etis, tanpa menyederhanakan pengukuran menjadi sekadar peringkat, vanity metrics (metrik yang tidak mencerminkan dampak nyata seperti PR value, impression), atau skor tidak transparan dari masing-masing alat.

Inisiatif ini juga melanjutkan komitmen AMEC dalam pengembangan standar global pengukuran komunikasi, setelah sebelumnya menghadirkan Barcelona Principles, Integrated Evaluation Framework, dan Data Quality Initiative.

Dalam implementasinya, GEO Principles menetapkan tiga area utama yang perlu diukur. Pertama, upstream reputation atau reputasi hulu yang mencakup berbagai sinyal reputasi dari kanal earned, shared, dan owned media. Kedua, kesiapan pencarian dan konten, yakni sejauh mana informasi organisasi tersusun secara kredibel, mudah diakses, dan dapat dipahami oleh sistem AI. Ketiga, downstream AI outputs, yaitu bagaimana organisasi direpresentasikan dalam jawaban AI, termasuk akurasi informasi, framing, sumber rujukan, hingga potensi risiko reputasi yang muncul.

Selain itu, AMEC juga menekankan pentingnya transparansi metodologi dalam pengukuran GEO. Kerangka tersebut mensyaratkan penggunaan prompt yang dapat diulang, metode yang terdokumentasi, asumsi yang transparan, serta batasan yang jelas. Organisasi juga diingatkan agar tidak menjadikan keluaran AI sebagai kebenaran mutlak maupun bergantung pada satu platform atau skor tunggal dalam mengukur representasi digital. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI