Meta PHK 8.000 Karyawan di Tengah Ekspansi AI, Mark Zuckerberg Akui Buruknya Komunikasi Internal
PRINDONESIA.CO | Kamis, 04/06/2026
Meta PHK 8.000 Karyawan di Tengah Ekspansi AI, Mark Zuckerberg Akui Buruknya Komunikasi Internal
Ilustrasi Meta
Dok. gguy/Shutterstock.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Langkah Meta memangkas sekitar 8.000 karyawan secara global di tengah percepatan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuai sorotan dan polemik. Restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari strategi Meta untuk memperkuat fokus bisnis pada pengembangan AI, sekaligus mengubah peran ribuan karyawan lainnya agar selaras dengan arah transformasi perusahaan.

Laporan dari CBS News menyebut, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu diketahui memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya. Selain PHK, sekitar 7.000 karyawan juga dialihkan ke fungsi dan tim baru yang berfokus pada pengembangan AI sebagai bagian dari reorganisasi perusahaan. "Pemutusan hubungan kerja dimaksudkan untuk membuat perusahaan lebih efisien dan untuk mengimbangi investasi lainnya," tulis laporan tersebut mengutip memo internal yang dikirim kepada para pekerja, Kamis (23/4/2026).

Kantor berita Reuters juga telah melihat memo yang ditulis oleh Chief People Officer Meta Janelle Gale, ihwal pengalihan 7.000 karyawan ke inisiatif baru untuk membentuk alur kerja AI serta menghilangkan peran manajerial.

Perubahan ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran yang telah direncanakan Meta sejak awal 2026. Meta meningkatkan investasinya di bidang AI dalam upaya memusatkan Agen AI untuk menawarkan produknya, sampai alur kerja di internal.

CTO Meta Andrew Bosworth juga telah membentuk dua unit baru, yakni Applied AI Engineering (AAI) dan Agent Transformation Accelerator (ATA), sebagai bagian dari inisiatif perusahaan untuk membangun budaya kerja berbasis AI atau AI for Work. Kedua divisi tersebut ditugaskan mengembangkan agen AI yang mampu menjalankan secara mandiri berbagai pekerjaan yang saat ini masih ditangani oleh karyawan manusia.

Selain itu, Bosworth juga membentuk tim Central Analytics yang bertanggung jawab mengukur tingkat produktivitas serta menganalisis pengembangan agen AI di lingkungan perusahaan.

Langkah tersebut memicu penolakan dari sebagian karyawan Meta. Protes terhadap pengembangan alur kerja berbasis agen AI disampaikan melalui platform komunikasi internal Workplace hingga lewat penyebaran selebaran di sejumlah kantor Meta di Amerika Serikat.

Tak hanya itu, lebih dari 1.000 karyawan menandatangani petisi daring yang mengkritik penggunaan perangkat lunak pelacak pergerakan mouse. Teknologi tersebut digunakan untuk melatih model AI Meta agar dapat memahami dan meniru pola interaksi manusia saat menggunakan komputer.

Kesalahan Komunikasi Internal

Usai melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya itu, CEO Meta Mark Zuckerberg akhirnya buka suara. Dalam laporan International Business Times UK, Rabu (27/5/2026), ia mengirimkan surat yang tidak hanya berisi salam perpisahan, tetapi juga pengakuan kesalahan perusahaan yang selama ini tak terungkap. "Bagian email Zuckerberg yang paling banyak dianalisis bukanlah ungkapan 'terima kasih' yang lazim kepada mereka yang keluar [dari perusahaan], melainkan dua pengakuan spesifik yang ditujukan kepada mereka yang tetap bertahan," tulis laporan tersebut.

Adapun surat itu mendarat di 78.000 kotak masuk karyawan pada Rabu (20/5/2026) pagi waktu setempat. Salah satu pengakuan Mark Zuckerberg yang dimaksud di dalam surat itu yakni ihwal buruknya komunikasi perusahaan menjelang restrukturisasi dan PHK. Ia pun menyampaikan bahwa manajemen akan berupaya memperbaiki cara berkomunikasi dengan karyawan ke depan.

Dalam komunikasi internalnya, Zuckerberg juga menyatakan bahwa Meta memperkirakan tidak akan melakukan PHK besar-besaran lagi pada tahun ini. "Ia memberi tahu staf bahwa Meta tidak mengharapkan PHK massal lainnya di perusahaan tahun ini, pernyataan yang paling mendekati jaminan stabilitas yang pernah didengar siapa pun di perusahaan tersebut selama berbulan-bulan," tulis laporan International Business Times UK. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI