Edelman Trust Barometer 2026 Ungkap Soal Kepercayaan Publik dan Insularitas
PRINDONESIA.CO | Selasa, 12/05/2026
Edelman Trust Barometer 2026 Ungkap Soal Kepercayaan Publik dan Insularitas
Laporan Edelman Trust Barometer 2026 Indonesia Report menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap institusi masih tergolong tinggi secara global. Namun, di saat yang sama, publik dinilai makin tertutup terhadap kelompok dan pandangan yang berbeda.
Dok. Edelman Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Firma komunikasi global Edelman merilis laporan 2026 Edelman Trust Barometer Indonesia Report bertajuk Trust Amid Insularity beberapa waktu lalu. Hasil survei kepercayaan tahunan ke-26 yang diselenggarakan oleh Edelman Trust Institute dengan melibatkan 33.938 responden di 28 negara, termasuk Indonesia, pada periode Oktober-November 2025 tersebut menyoroti perubahan pola kepercayaan masyarakat di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan tekanan informasi digital.

Disebutkan di dalam laporan itu bahwa sekitar 66 persen masyarakat Indonesia memiliki pola pikir insular, yakni kecenderungan untuk lebih sulit mempercayai individu atau kelompok yang memiliki nilai, latar belakang, sumber informasi, maupun pandangan sosial yang berbeda.

Meski demikian, Indonesia tetap masuk dalam kelompok negara dengan tingkat kepercayaan institusi tertinggi secara global dengan skor indeks kepercayaan sebesar 73 poin. Tingkat kepercayaan tertinggi diberikan kepada pemberi kerja yakni sebesar 92 persen di kalangan pekerja, disusul sektor bisnis 80 persen, pemerintah 68 persen, dan LSM 67 persen.

Managing Director Edelman Indonesia Nia Pratiwi menjelaskan, masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap institusi. Namun, kata dia, pola pembentukan kepercayaan kini berubah menjadi makin personal dan eksklusif.

Nia menyebut bahwa masyarakat kini menjadi lebih selektif, lebih memilih hal-hal yang terasa familiar, dan menghindari interaksi dengan sudut pandang yang berbeda. "Kepercayaan kini semakin terkonsentrasi dalam lingkaran yang lebih dekat dan personal, sehingga insularitas dapat dilihat sebagai sebagai krisis kepercayaan berikutnya," kata Nia dalam keterangan tertulis yang PR INDONESIA terima, Kamis (7/5/2026).

Hal serupa juga disampaikan dosen Departemen Sosiologi Universitas Indonesia dan Co-Director Academic Praxis Asia Research Centre UI Diatyka Widya Permata Yasih. Menurutnya, situasi penuh ketidakpastian membuat masyarakat cenderung menarik diri untuk mendapatkan rasa aman dan kontrol sosial.

Ia menilai, saat sistem di sekitar masyarakat terasa jauh atau tidak konsisten, mereka lebih memilih untuk percaya terhadap hal-hal yang dekat dan familiar. "Akibatnya, hubungan dalam kelompok sendiri menjadi lebih kuat, tetapi interaksi dengan orang atau kelompok yang berbeda jadi semakin terbatas," tutur dia.

Empat Faktor Kunci

Laporan Edelman Trust Barometer Indonesia Report 2026 mencatat empat faktor utama yang memengaruhi meningkatnya insularitas di Indonesia. Di antaranya tekanan ekonomi, menurunnya optimisme, kesenjangan kepercayaan berbasis pendapatan, dan krisis informasi.

Diketahui bahwa sebanyak 79 persen pekerja mengaku khawatir kehilangan pekerjaan akibat resesi, sementara 77 persen cemas konflik perdagangan global dan tarif internasional dapat berdampak pada perusahaan tempat mereka bekerja. Di sisi lain, optimisme terhadap masa depan generasi mendatang juga turun sembilan poin dibanding tahun sebelumnya.

Krisis informasi turut menjadi sorotan. Kekhawatiran terhadap penyebaran misinformasi oleh pihak asing meningkat hingga 72 persen atau naik 15 poin dibanding tahun lalu. Paparan terhadap pandangan politik yang berbeda juga menurun 11 poin sejak tahun sebelumnya.

Perubahan pola kepercayaan tersebut pun dinilai berdampak langsung terhadap dinamika organisasi dan lingkungan kerja. Laporan itu juga mencatat bahwa 35 persen pekerja mengaku akan mengurangi dukungan terhadap pimpinan proyek yang memiliki pandangan politik berbeda. Tak hanya itu, sebanyak 43 persen bahkan lebih memilih pindah divisi dibanding bekerja di bawah atasan dengan nilai yang tidak sejalan.

Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi produktivitas organisasi dan relasi antartim di lingkungan kerja. Oleh karena itu, institusi dan brand didorong untuk membangun komunikasi yang mampu menjembatani perbedaan dan memperkuat rasa percaya lintas kelompok. "Kabar baiknya, membangun kepercayaan di tengah perbedaan masih mungkin dilakukan," kata Nia seraya menekankan bahwa kepercayaan lebih mudah dibangun ketika individu bersikap terbuka dan tidak berusaha memaksakan pandangannya kepada pihak lain.

Jika menarik laporan tersebut ke dalam konteks komunikasi korporasi, organisasi menjadi dituntut lebih aktif membangun keterlibatan yang terbuka dan mudah diakses publik. Hal itu ditegaskan Managing Director of Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia Rohan Hafas, yang menilai kepercayaan tidak hanya dibangun di ruang rapat dan melalui kebijakan semata. “Melainkan diperoleh melalui keterlibatan yang konsisten dan transparan dengan setiap lapisan masyarakat," ucapnya.

Lebih lanjut, ia pun menilai bahwa media sosial kini menjadi kanal penting untuk memastikan komunikasi organisasi tidak hanya kredibel secara institusional, tetapi juga mudah dijangkau masyarakat luas. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI