Praktisi public relations (PR) dinilai perlu membangun sikap proaktif agar mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika industri komunikasi yang bergerak cepat.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Perubahan lanskap komunikasi dan meningkatnya ekspektasi publik membuat praktisi PR tidak lagi cukup hanya menjalankan fungsi administratif dan publikasi. Di era digital, profesi humas dituntut lebih adaptif, responsif, dan mampu mengambil langkah strategis sebelum persoalan berkembang menjadi krisis.
Account Executive Method Communications Hannah McFadden menilai, sikap proaktif kini menjadi salah satu modal utama dalam praktik kerja kehumasan.
Menurut Hannah, keberanian mengambil inisiatif dan bertindak secara proaktif dapat membantu praktisi PR berkembang menjadi sosok yang lebih ambisius dan siap menghadapi tantangan industri. “Praktisi PR yang ambisius dapat membangun karier yang langgeng dan sukses,” tulis Hannah dilansir PR Daily, Senin (21/7/2025).
Ia menjelaskan, terdapat tiga langkah sederhana yang dapat dilakukan praktisi PR untuk menumbuhkan sikap proaktif dalam kariernya.
1. Menjadikan Rasa Ingin Tahu sebagai Modal Utama
Hannah menekankan praktisi PR tidak cukup hanya menerima brief dari klien secara mentah. Mereka perlu memahami lebih dalam mengenai latar belakang industri, karakter target audiens, hingga tren yang berkembang agar mampu menghasilkan ide dan insight yang lebih kuat. Menurutnya, rasa penasaran yang tinggi akan membantu praktisi PR melihat peluang komunikasi secara lebih luas.
2. Berani Mengambil Tantangan Lebih Besar
Di tengah situasi kerja yang tidak menentu, banyak orang memilih bertahan di zona nyaman dan menghindari tanggung jawab besar. Namun, Hannah menilai keberanian mengambil tantangan justru dapat membuka ruang pembelajaran baru sekaligus menunjukkan kesiapan seseorang untuk berkembang ke level yang lebih tinggi. “Keberanian mengambil peluang ini menjadi ciri khas praktisi PR yang hebat,” ungkapnya.
3. Menguatkan Kolaborasi dengan Lingkungan Sekitar
Hannah juga mengingatkan bahwa sikap proaktif bukan berarti harus bekerja sendiri. Praktisi PR didorong memanfaatkan dukungan lingkungan sekitar, seperti mentor maupun rekan kerja, untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan meminta umpan balik. Ia meyakini kolaborasi menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia komunikasi.