Dorong Kepedulian Lingkungan Melalui Kampanye Tak Biasa
PRINDONESIA.CO | Sabtu, 27/06/2020 | 2.360
Dorong Kepedulian Lingkungan Melalui Kampanye Tak Biasa
Kampanye kreatif harus melibatkan unsur keseimbangan substansi, konten dan "wow effect".
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pengalaman ini dirasakan oleh Bima Arya, Wali Kota Bogor, saat memimpin kota yang saat ini sedang menuju Kota Hijau (Green City). Ia melihat kota yang 3 Juni lalu berusia 538 tahun itu sebenarnya memiliki banyak program yang bagus dari sisi substansi dan tujuan, tapi gemanya tak sampai ke publik.

Ia melihat ada cara yang kurang tepat yang selama ini dilakukan oleh pemerintah sebelumnya dalam mengeksekusi program. Apalagi saat ini kita hidup di era dan generasi yang jauh berbeda. “Tidak ada lagi aktor tunggal yang memonopoli komunikasi. Sekarang, aktor kampanye dan kanal komunikasinya banyak,” ujar Bima saat menjadi keynote speaker di acara diskusi virtual Climate Communication Forum #6 bertema “Cara Kreatif Kampanye Peduli Lingkungan” yang diselenggarakan CPROCOM, Sabtu (27/6/2020).  

Inilah yang kemudian menjadi prioritas Bima: mengubah cara birokrasi mendistribusikan pesan hingga akhirnya mendorong aksi dan partisipasi publik. “Harus ada keseimbangan substansi, konten dan gimmick atau wow effect,” simpulnya. Termasuk, memikirkan metode penyampaian atau delivery method hingga kemasan supaya masyarakat mudah paham dan ingat.

Soal ini Bima punya tips. Pertama, bangun memori kolektif. “Memori kolektif warga Bogor adalah kerinduan terhadap kondisi Bogor di masa lalu yang dikenal sebagai kota taman,” katanya.

Menurutnya, upaya membangun memori kolektif itu perlu diperkuat dengan narasi besar. Selanjutnya, diturunkan menjadi beberapa pesan kunci hingga menjadi jargon/idiom. Bima memberi contoh “Botak” (Bogor Tanpa Kantong Plastik), jargon yang mereka gaungkan saat mengajak warga mengurangi penggunaan plastik.  

Jangan lupa, tetapkan target audiens. “Isu seperti ini harus didorong oleh segmen yang militan dan kreatif. Mereka itu siapa lagi kalau bukan generasi muda,” ujarnya. Maka, rangkul mereka untuk bersama-sama mengampanyekan program tersebut. Sebab saat ini eranya superteam, bukan superman.

Lalu, ketahui di mana target audiens itu banyak berkumpul. “Ternyata, tempat berkumpul warga Bogor bukan di media konvensional, tapi Instagram dan Facebook. Maksimalkan kanal itu,” ujarnya.  

 

Pentahelix

Dwinita Larasati, dosen Desain Produksi Industri ITB, sependapat. Perempuan yang karib disapa Tita ini sudah sejak lama melakukan transformasi Kota Bandung bersama organisasinya, Bandung Creative City Forum (BCCF).

Menurut Ketua BCCF ini, yang harus diperhatikan dalam melakukan transformasi adalah membuat prototipe skala kota dan jejak dampak nyata. “Ada kalanya kita harus memberi contoh melalui langkah-langkah nyata untuk mendorong lahirnya dukungan,” katanya.  

Setelah terbentuk dukungan dan pemahaman, libatkan kolaborasi pentahelix. Terdiri dari akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. “Pastikan apa peran dan fungsi mereka, lakukan kolaborasi dan selebrasi/commerce,” ujar Climate Reality Leader itu.

Ade Kadarisman, VP SDGs IMA Bandung, menekankan apa pun strategi komunikasinya harus mengedepankan kearifan lokal, lalu dinarasikan menjadi pesan yang membumi.  Sementara menurut Kabiro Hukum, Promosi dan Humas IPB Yatri Indah Kusumastuti, ada tiga unsur lain yang harus menjadi perhatian. Antara lain, disampaikan sesuai minat target audiens, dengan cara yang menyenangkan dan inspiratif. (rtn)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI