Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan Komunikasi
PRINDONESIA.CO | Selasa, 03/11/2026
Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan Komunikasi
Ketua Tim Humas dan Publikasi Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (SetDitjen Diksi PKPLK) Agung Sulistomo
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di balik beragam tantangan yang dihadapi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) senantiasa mendorong praktisi public relations (PR) atau humas untuk selalu menyiasati keterbatasan menjadi peluang komunikasi. Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Humas dan Publikasi Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (Setditjen Diksi PKPLK) Agung Sulistomo, dalam PR INDONESIA Communication Outlook (PRICO) 2027 pada Kamis (29/10/2026) di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Agung menyampaikan, setidaknya terdapat tiga tantangan yang harus dihadapi Ditjen Diksi PKPLK. Salah satunya perubahan nomenklatur yang diikuti meluasnya cakupan kerja meliputi pendidikan vokasi, pendidikan khusus, pendidikan luar biasa, pendidikan kemasyarakatan baik formal maupun informal. “Selain itu,  masih minimnya ruang ataupun suara yang jarang terdengar dari para guru maupun murid vokasi dan pendidikan khusus, dan adanya penyesuaian efisiensi anggaran yang menutup peluang aktivasi dengan dan yang besar,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut,  Agung menyadari bahwa pihaknya masih memiliki peluang aset yang dapat diberdayakan dan dapat menjadi kekuatan komunikasi. Hal tersebut adalah ekosistem yang mencakup sekitar 5 juta murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 300 ribu guru SMK, 90 ribu guru SLB dan pengajar nonformal dan 7 Balai yang menghasilkan ribuan alumni pelatihan. Berangkat dari aset tersebut, Agung menerapkan pendekatan asset-based thinking dengan mengangkat potensi, inovasi dan karya insan PKPLK agar mereka dapat terlibat sekaligus menjadi kekuatan utama dalam aktivasi dan komunikasi Ditjen Diksi PKPLK.

Jadi “Magnet”

Adaupun pendekatan tersebut diimplementasikan melalui program “Apresiasi karya Vokasi Untuk Negeri”. Menurut Agung, program ini mengajak murid, guru, masyarakat untuk menceritakan sendiri inovasi dan kreasi yang dihasilkan. “Kami juga menggunakan pendekatan psikologis bahwa inilah waktunya sekaligus menjadi panggung mereka untuk bercerita. Setiap peserta yang telah mengirimkan dan mengunggah konten, kami mengapresiasi dan me-repost di banyak kanal sehingga dapat menjadi magnet untuk menggerakan yang lain,” jelasnya.

Dalam menggaungkan cerita tersebut, pihaknya juga menggunakan model PESO (paid, earned, shared, owned) melalui pemanfaatan berbagai kanal komunikasi secara terintegrasi dan masif. Keberhasilan program tersebut kemudian dievaluasi menggunakan kerangka AMEC yang mencakup outputs, outtakes, outcomes, hingga impact.

Hasilnya, Agung mencatat bahwa partisipasi publik melampaui target awal yang ditetapkan. Dalam waktu 21 hari, terkumpul lebih dari 1.500 karya dan kisah inspiratif dari target awal 500 karya dalam 30 hari. “Selain itu, adanya peningkatan awareness terhadap PKLPK yang telah bertransformasi, meningkatnya suara penerima manfaat dalam mempublikasikan kebermanfaatan pendidikan vokasi, hingga  meningkatkan sentimen positif sekaligus pengikut baru hingga dua kali lipat,” pungkasnya. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI