Strategic Business Director PR INDONESIA Ainul Yaqin memandu simulasi komunikasi krisis perguruan tinggi. Reputasi merupakan syarat utama menjaring calon mahasiswa baru.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO — Manajemen reputasi kini menempati posisi puncak bagi eksistensi perguruan tinggi. Hal itu ditegaskan Strategic Business Director PR INDONESIA Ainul Yaqin dalam sesinya di Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis di Perguruan Tinggi yang digelar HUMAS INDONESIA, Kamis (23/7/2026). Ia menekankan bahwa praktisi kehumasan wajib memandang urusan reputasi setara dengan target pencapaian akreditasi.
Pria yang akrab disapa Ain itu menjelaskan, dalam lanskap hari ini daya pikat institusi pendidikan bersumber murni dari persepsi publik di dunia maya. Ia menyebut, reputasi bagi kampus hari ini adalah modal utama, bukan tambahan. Dengan kata lain, reputasi bukan sekadar pelengkap akreditasi, melainkan syarat hidup-mati bagi kampus di era digital. “Tanpa reputasi, kursi kosong. Dengan reputasi, kampus jadi magnet. Ingat bahwa reputasi adalah tiket masuk mahasiswa. Tanpa itu, kampus kehilangan masa depan,” tegas Ain.
Dalam praktiknya, lanjut Ain, pertahanan informasi menuntut pembentukan barisan penjaga merek yang masif. Ia tidak menyarankan kampus bergantung hanya pada satu divisi fungsional. "Membangun branding merupakan gerakan kolektif, bukan sekadar tim humas kampus. Humas tidak bisa bekerja sendiri, reputasi kampus hanya kuat bila dijaga oleh gerakan kolektif mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, alumni, dan keluarga mereka. Semua adalah brand guardian yang hidup,” pesannya.
Panggung Uji Kepercayaan
Guna menguji pemahaman peserta, Ain mengajak mereka untuk melakukan simulasi interaktif. Peserta dibagi merata menjadi lima kelompok kerja, dan ditugaskan merumuskan ide pengelolaan reputasi selama sepuluh menit. Tiap perwakilan kelompok wajib mempresentasikan taktik pamungkas dalam waktu tiga menit saja.
Lewat simulasi tersebut, para peserta diajak memahami betul bahwa kampus dengan sistem pertahanan matang selalu mampu berdiri tegak meredam serangan krisis. “Kampus yang siap dengan brand kuat dan sistem penjaga reputasi tidak runtuh saat krisis. Sebaliknya, ia tampil lebih dipercaya karena mampu merespons cepat, transparan, dan empatik. Ingat ini: “Krisis bukan akhir, melainkan panggung untuk membuktikan kepercayaan,” tegas Ain.
Menjelang penutup, Ain melempar satu peringatan tajam kepada para peserta. “Kampus yang mengabaikan kegiatan membangun memperkuat dan meningkatkan reputasinya sesungguhnya sedang menyiapkan diri untuk kehilangan harapan dalam keberlanjutan," tandasnya. (Arfrian R.)