Belajar Meracik Strategi Komunikasi Krisis Berbasis Empati dari KAI
PRINDONESIA.CO | Rabu, 16/09/2026
Belajar Meracik Strategi Komunikasi Krisis Berbasis Empati dari KAI
Manager of Public and Media Relations PT KAI Anwar Sholikhin.
doc/PR INDONESIA

SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Bagi industri transportasi yang langsung bersentuhan dengan para penggunanya, krisis dapat terjadi kapan saja yang kemudian menuntut respons cepat, terukur, dan terkoordinasi. Hal ini ditegaskan Manager of Public and Media Relations PT KAI Anwar Sholikhin dalam sesi Executive Learning PR INDONESIA Corporate Xperience Goes to Semarang, pada Kamis (10/9/2026) di Lawang Sewu, Semarang.

Berkaca pada insiden kecelakaan pada April lalu, Anwar menjelaskan, pengelolaan krisis sehubungan dengan proses evakuasi yang cukup menguras waktu dan tenaga, membuktikan pentingnya komunikasi empati. “Peran komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan publik, keluarga korban dan pelanggan mendapatkan kepastian,” jelasnya.

Menurut Anwar, salah satu kunci penanganan dari krisis semacam ini adalah keberanian fungsi public relations (PR) untuk memberikan arahan dan masukan kepada jajaran Board of Directors (BOD), serta memastikan komunikasi dilakukan satu pintu. Langkah tersebut menjadi sangat penting untuk mencegah informasi yang berbeda, sekaligus memastikan setiap perkembangan disampaikan secara konsisten dari satu pintu.

Pengarah dan Pengambil Keputusan Strategis

Kembali mencontohkan dengan krisis pada April lalu tersebut, Anwar menerangkan, di bawah komando dari VP Corporate Communication PT KAI Anne Purba, pihaknya mengambil keputusan untuk menggelar konferensi pers secara berkala setiap satu jam dan setiap jajaran tertinggi KAI hadir secara bergantian untuk berjaga dan memberikan dukungan kepada tim di lapangan dan seluruh korban. “Strategi ini dilakukan karena proses penyelamatan berlangsung panjang dan setiap perkembangan memiliki nilai informasi bagi keluarga maupun publik. Seluruh jajaran BOD, Menteri Perhubungan dan Kepala Basarnas pun turut mengikuti arahan komunikasi yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Anwar menyadari pentingnya kesatuan komando dalam situasi krisis dan posisi fungsi komunikasi menjadi strategis bukan hanya taktis. Selain itu, aspek kemanusiaan juga menjadi bagian penting dari penanganan krisis KAI. Hal itu diwujudkan salah satunya dengan membuka posko informasi dan fasilitas lost and found untuk menampung barang-barang yang ditemukan selama proses evakuasi.

Menurut Anwar, barang milik penumpang, sesederhana apapun itu adalah penting. Sebab, bagi keluarga korban barang tersebut memiliki nilai emosional yang sangat besar. “Karena itu, sekecil apapun barang yang ditemukan, dikumpulkan, kami data agar dapat dikembalikan kepada keluarga,” ujarnya.

Pada akhirnya, menurut Anwar, penanganan krisis yang memadai selalu memerlukan koordinasi lintas fungsi mulai dari tim media yang harus mampu bekerja sama dengan tim rescue, SAR, hingga operasional untuk memastikan komunikasi berjalan beriringan dengan proses penyelamatan dan normalisasi jalur. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI