Reputasi Sekolah Berawal dari Komunikasi, Guru Perlu Kuasai Strategi PR
PRINDONESIA.CO | Jumat, 10/07/2026
Reputasi Sekolah Berawal dari Komunikasi, Guru Perlu Kuasai Strategi PR
Kemampuan membangun komunikasi publik yang strategis dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat reputasi sekolah di tengah perubahan perilaku masyarakat yang makin mengandalkan ruang digital untuk mencari informasi pendidikan.
Dok. Magnific.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Reputasi sekolah pada era digital tidak lagi semata ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kemampuan institusi mengelola komunikasi publik secara strategis. Ketika orang tua saat ini mengandalkan media sosial, situs web, hingga rekomendasi komunitas sebelum memilih sekolah bagi anaknya, setiap jejak digital pun menjadi penting dalam membangun persepsi dan kepercayaan publik.

Kondisi tersebut membuat fungsi public relations (PR) di lingkungan pendidikan mengalami pergeseran. PR tidak lagi sekadar bertugas mempublikasikan kegiatan sekolah, melainkan juga menjadi instrumen strategis untuk membangun reputasi, memperkuat kepercayaan, serta menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Berangkat dari kebutuhan itu, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia menyelenggarakan Public Relations Workshop: Transformasi Komunikasi Publik Strategis untuk Sekolah, Rabu (8/7/2026). Workshop yang digelar secara hibrida tersebut diikuti guru dari berbagai daerah sebagai upaya meningkatkan kapasitas komunikasi sekolah di tengah perubahan ekosistem media.

Ketua KGSB Ardyles Faesilio menilai, setiap guru pada dasarnya merupakan representasi sekolah di hadapan masyarakat. Oleh karena itu, keterampilan berkomunikasi pun menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan kemampuan mengajar. "Peran tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab humas sekolah, tetapi juga merupakan bagian dari peran setiap guru sebagai wajah dan representasi sekolah," ujar Ardyles.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Nanang Haroni. Menurutnya, komunikasi publik telah menjadi bagian dari pelayanan pendidikan sehingga aktivitas publikasi dinilai sebagai sarana menyampaikan praktik baik, inovasi, dan nilai yang dimiliki sekolah kepada masyarakat alih-alih sekadar promosi.

Komunikasi Konsisten

Dalam workshop tersebut, peserta dibekali berbagai strategi komunikasi yang dapat diterapkan untuk memperkuat reputasi sekolah. Pada sesi pertama, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Kussusanti menjelaskan, reputasi dibangun melalui komunikasi yang konsisten kepada seluruh pemangku kepentingan. Dalam konteks ini, guru didorong memahami karakteristik berbagai audiens, mulai dari orang tua, calon peserta didik, alumni, hingga masyarakat sekitar, sehingga pesan yang disampaikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Pendekatan tersebut, kata dia, dinilai mampu membantu sekolah membangun kepercayaan secara lebih proaktif, mengelola ekspektasi publik, sekaligus meminimalkan potensi krisis komunikasi. "Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga menjadi brand ambassador yang merepresentasikan nilai, budaya, dan identitas sekolah dalam setiap interaksi dengan masyarakat," ucapnya.

Sementara itu dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Ruvira Arindita, mengajak peserta melakukan audit identitas sekolah sebagai langkah awal menyusun strategi komunikasi. Melalui proses tersebut, lanjutnya, sekolah memetakan karakter, nilai, dan keunggulan yang dimiliki, kemudian membandingkannya dengan persepsi publik.

Ruvira menyebut bahwa hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun positioningkey message, serta strategi komunikasi yang konsisten di seluruh kanal komunikasi agar citra yang dibangun sejalan dengan identitas yang ingin ditampilkan.

Materi berikutnya disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Safira Hasna yang membahas pentingnya pengelolaan konten digital sebagai sarana membangun keterlibatan (engagement) dengan publik. Lewat materi itu, peserta memperoleh pelatihan praktis mulai dari menyusun kalender konten, menentukan tema yang sesuai dengan identitas sekolah, memproduksi foto dan video menggunakan perangkat sederhana, menulis caption yang informatif, hingga memanfaatkan storytelling dan hashtag secara efektif.

Dengan pendekatan tersebut, Safira menerangkan, media sosial diharapkan tidak lagi sekadar menjadi ruang dokumentasi kegiatan, tetapi berkembang menjadi kanal komunikasi yang mampu membangun hubungan yang lebih erat dengan orang tua, calon siswa, alumni, maupun masyarakat. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI