Praktik komunikasi ESG dinilai harus bergeser dari sekadar menyampaikan program keberlanjutan menjadi bagian dari strategi bisnis yang mampu membangun kepercayaan pemangku kepentingan sekaligus menghasilkan dampak yang terukur.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi memegang peran sentral dalam menentukan keberhasilan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG). Oleh karena itu, organisasi perlu menempatkan komunikasi bukan hanya sebagai sarana publikasi program keberlanjutan, melainkan sebagai bagian yang terintegrasi dalam strategi bisnis jangka panjang.
Pesan tersebut disampaikan praktisi komunikasi korporat dan keberlanjutan Indra Ardiyanto, dalam sesi konferensi The 5th Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 bertajuk Dari Nilai ke Dampak: Komunikasi DEI dan ESG untuk Indonesia yang Berkelanjutan, yang digelar di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).
Dalam paparannya, Indra menekankan, komunikasi adalah penghubung antara komitmen keberlanjutan perusahaan dengan kepercayaan para pemangku kepentingan. Menurutnya, masih banyak organisasi yang memandang ESG sebagai program tambahan atau aktivitas jangka pendek. Padahal, pendekatan tersebut perlu diubah agar ESG menjadi bagian dari DNA organisasi. "ESG bukan sekadar program, melainkan komitmen bisnis jangka panjang," ujar Indra.
Ia menjelaskan bahwa paradigma baru ESG menempatkan keberlanjutan sebagai strategi bisnis yang terintegrasi dalam nilai organisasi dan menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan. Dengan demikian, komunikasi tidak lagi berfungsi sebatas menyampaikan informasi mengenai aktivitas keberlanjutan, tetapi ikut memastikan nilai-nilai tersebut dipahami dan dijalankan secara konsisten di seluruh organisasi.
Indra yang juga merupakan seorang akademisi itu menjelaskan, komunikasi ESG yang efektif harus mampu membangun transparansi sekaligus memperkuat akuntabilitas perusahaan. Melalui komunikasi yang terbuka, lanjut dia, organisasi dapat membangun kepercayaan jangka panjang dengan para pemangku kepentingan, mulai dari karyawan, pelanggan, investor, regulator, hingga masyarakat. "Komunikasi ESG yang efektif bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun kepercayaan jangka panjang dengan para pemangku kepentingan," tutur dia.
Tiga Pilar
Dalam kesempatan itu, Indra menerangkan bahwa implementasi komunikasi ESG setidaknya bertumpu pada tiga pilar utama, yakni autentisitas pesan, konsistensi komunikasi, dan keterlibatan aktif pemangku kepentingan. Ia menekankan bahwa ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam memperkuat komitmen keberlanjutan perusahaan.
Ia menjelaskan, autentisitas menjadi fondasi agar pesan keberlanjutan tidak dipersepsikan sebagai greenwashing. Di sisi lain, konsistensi memastikan pesan yang disampaikan selaras dengan kebijakan maupun tindakan organisasi, sedangkan keterlibatan pemangku kepentingan membuka ruang dialog yang memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik.
Lebih lanjut, Indra pun mengingatkan pentingnya mengukur efektivitas komunikasi ESG. Ia menyebut, keberhasilan komunikasi tidak cukup dinilai dari banyaknya publikasi atau eksposur media, melainkan perlu dievaluasi melalui indikator yang lebih komprehensif, seperti tingkat keterlibatan pemangku kepentingan, perubahan persepsi publik, kualitas pelaporan keberlanjutan, hingga perubahan perilaku dan tingkat kepercayaan terhadap organisasi.
Dengan pendekatan tersebut, kata dia, komunikasi ESG dapat menunjukkan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan bisnis maupun keberlanjutan perusahaan. "Komunikasi strategis menjadi kunci pendorong dampak keberlanjutan yang bermakna," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)