Algoritma Platform Ubah Ekosistem Komunikasi, Kualitas Informasi Dinilai Menurun
PRINDONESIA.CO | Selasa, 02/06/2026
Algoritma Platform Ubah Ekosistem Komunikasi, Kualitas Informasi Dinilai Menurun
Algoritma platform digital kini dinilai menjadi aktor utama yang mengatur arus informasi di Indonesia. Dampaknya, kualitas informasi publik, praktik komunikasi, hingga dinamika industri media dan kreatif mengalami perubahan signifikan.
Dok. Magnific

SLEMAN, PRINDONESIA.CO – Dominasi platform digital dinilai telah mengubah lanskap komunikasi di Indonesia. Peran algoritma yang makin besar dalam menentukan distribusi informasi disebut berdampak pada menurunnya kualitas informasi publik sekaligus mengubah cara kerja berbagai entitas komunikasi, mulai dari media, agensi, kreator konten, hingga institusi pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Martha Adiputra, dalam Diskusi Komunikasi Mahasiswa (Diskoma) UGM edisi ke-29 bertajuk Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi, yang digelar pada Jumat (22/5/2026).

Dalam kesempatan itu Wisnu mengatakan, kehadiran beragam kanal digital tidak otomatis meningkatkan kualitas informasi yang diterima publik. Menurutnya, fenomena algoritma di media sosial justru membuat konflik menjadi hitam putih alih-alih mencerahkan publik. "Sehingga, kehadiran kanal yang begitu banyak tidak meningkatkan kualitas informasi,” ujar Wisnu dilansir IDN Times, Kamis (28/5/2026).

Berdasarkan Data Reportal 2024 dan Reuters Institute 2024, Indonesia memiliki 221 juta pengguna internet aktif, 139 juta pengguna media sosial, dan 60,4 persen konsumsi berita kini berlangsung melalui platform media sosial. Kondisi tersebut membuat ekosistem komunikasi nasional secara fungsional bergantung pada infrastruktur platform digital seperti Meta, Google, TikTok, dan ByteDance.

Dalam diskusi tersebut, turut dibedah riset disertasi Janoe Arijanto berjudul Preliminary Reflections on Platform Power and the Reconfiguration of Communication Entities in Indonesia. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana dominasi platform digital merestrukturisasi ekosistem komunikasi melalui pergeseran fungsi, batas, dan otonomi berbagai entitas komunikasi.
Salah satu temuan yang disorot adalah perubahan nilai berita, ketika suatu isu dianggap penting bukan semata karena substansinya, tetapi karena tingkat visibilitas dan intensitas percakapan yang terjadi di platform digital.

Sebagai peneliti sekaligus praktisi agensi periklanan, Janoe menjelaskan, algoritma media sosial kini mengatur kehidupan komunikasi melalui berbagai mekanisme, mulai dari personalisasi feed, pemanfaatan data perilaku pengguna, riwayat klik dan tontonan, echo chamber, filter bubble, hingga bias kecerdasan buatan dalam proses kurasi informasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat ruang redaksi saat ini justru makin menyerupai platformized newsroom. Ia juga menyoroti berkurangnya trafik media lokal yang bukan hanya disebabkan persaingan antarmedia, tetapi juga karena platform berbasis AI kini mampu menampilkan ringkasan artikel sehingga audiens tidak lagi harus mengunjungi situs sumber.

Regulasi Atur Ruang Publik

Dalam kesempatan yang sama, dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM Pratiwi Utami menyebut, kehadiran platform digital turut mengurangi kapasitas negara dalam mengatur ruang publik. Padahal, pada awal kemunculannya, media sosial banyak dipandang sebagai sarana perluasan kebebasan berekspresi.

Pratiwi menjelaskan, persoalan tersebut berkaitan erat dengan konsep ekonomi atensi. Dalam model ini, platform cenderung mengarahkan perhatian publik pada konten yang mampu memicu respons emosional paling tinggi karena memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar. Akibatnya, isu-isu yang menyangkut kepentingan publik seringkali kalah bersaing dengan konten viral yang memiliki nilai urgensi rendah.

Dalam konteks Indonesia, ia juga menyoroti fenomena buzzer yang dinilai memperkuat praktik kuasa algoritma dan memudahkan distribusi agenda politik tertentu. “Jika di Asia Tenggara buzzer-nya dari public relations pemerintahnya, maka buzzer di Indonesia justru menjadi tenaga kerja baru,” ucapnya.

Pratiwi menilai regulasi yang dibutuhkan tidak hanya berfokus pada penindakan atau take-down konten, tetapi juga mendorong akuntabilitas langsung dari platform digital.

Melengkapi ketiganya, founder dan Creative Lead SH Creative Siska Handiska memaparkan dampak algoritma dari perspektif industri kreatif. Menurutnya, platform saat ini tidak lagi berfungsi sekadar sebagai media distribusi, tetapi telah menjadi ekosistem yang menentukan keberhasilan sebuah konten.

Sebagai praktisi, ia mengakui bahwa kehadiran algoritma di media sosial telah memengaruhi cara bekerja. "Mulai dari ide kreativitas hingga menentukan apakah konten kami berhasil, semi berhasil, atau bahkan gagal,” tutur dia.

Ia menjelaskan, perubahan tersebut turut mengubah struktur kerja agensi. Jika sebelumnya tim hanya terdiri dari desainer, copywriter, dan admin, kini muncul berbagai peran baru seperti content strategist, scriptwriter, hingga video editor untuk memenuhi tuntutan logika platform dan kebutuhan klien yang makin berorientasi pada branding serta jumlah penonton.

Meski demikian, Siska menegaskan bahwa kreativitas manusia tetap memiliki peran penting di tengah dominasi algoritma. Menurutnya, konten yang paling membekas bagi audiens tidak selalu merupakan konten yang paling viral. "Kita tidak bisa lepas dari platform, tetapi kita juga harus punya kontrol. Kita harus mengikuti tren, tetapi tetap harus punya karakter terhadap brand yang kita hadirkan,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI