Tim PR Kemenag Dibekali 7 Pedoman dalam Menghadapi Tantangan AI
PRINDONESIA.CO | Kamis, 27/08/2026
Tim PR Kemenag Dibekali 7 Pedoman dalam Menghadapi Tantangan AI
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik Ismail Cawidu dalam webinar Penguatan Tata Kelola Kehumasan, Rabu (19/8/2026).
doc/Kemenag

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pesatnya kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus menghadirkan tantangan baru dalam praktik komunikasi publik. Oleh karena itu, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik Ismail Cawidu meminta para praktisi public relations (PR) Kemenag untuk beradaptasi, memahami etika penggunaan AI secara bijak.

Menurut Ismail, setidaknya ada beberapa poin yang perlu diterapkan para PR Kemenag dalam menghadapi serangan AI yang begitu dahsyat. “Poin yang saya ingin sampaikan ini bukan berarti tidak boleh menggunakan AI, tetapi kita tetap dapat menggunakan AI tanpa kehilangan makna sebagai seorang praktisi PR,” ujarnya dalam webinar Penguatan Tata Kelola Kehumasan yang dikutip dari laman resmi Kemenag, pada Rabu (19/8/2026).

Berikut tujuh di antara beberapa poin yang disampaikan Ismail.

1. Beretika dan Bertanggung Jawab

Di era sekarang, praktisi PR tidak bisa meminggirkan keberadaan AI sepenuhnya. Namun, kata Ismail, penggunaannya harus berpatokan kepada etika dan tanggung jawab. Selain itu, ia menegaskan bahwa dalam penggunaannya praktisi PR adalah penentu arah keputusan.

2. Perkuat Kemampuan Intuisi

Ismail menegaskan, praktisi PR harus bisa lebih cepat mendeteksi dan menangkal penyebaran informasi palsu yang merajalela di tengah kecanggihan AI sekarang. “PR dituntut lebih memperkuat imajinasi dan kemampuan untuk mengenali mana produk AI dan mana yang bukan AI,” jelasnya.

3. Jadi “Trust Center”

Menurut Ismail, dalam lanskap komunikasi hari ini, peran PR tidak hanya menjadi pusat informasi (information center), tetapi telah beralih menjadi pusat kepercayaan (trust center).

4. Berbasis Data Valid

Alumnus Universitas Negeri Jakarta itu berpesan agar praktisi PR tidak membuat berita tanpa dasar data yang valid. Ia menekankan bahwa data yang valid merupakan kunci dalam membangun kepercayaan publik.

5. Orkestrator Narasi 

Di era AI seperti sekarang, kata Ismail, praktisi PR dituntut mampu membangun narasi bukan hanya membuat konten. “Seribu konten bisa dibuat dengan AI, tapi narasi yang otentik, relevan dan memiliki nilai kemanusiaan adalah milik manusia,” ungkapnya.

6. Junjung Sisi Humanisme dan Kearifan Lokal

Pendekatan sisi kemanusiaan dan kearifan lokal juga menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi. “Kita memiliki budaya lokal masing-masing yang harus dihormati dan menjadi bagian dari pelaksanaan tugas kehumasan,” ujar Ismail.

7. “AI Literate”

Dalam konteks penggunaan AI, kata Ismail praktisi PR harus AI literate alias punya kemampuan analisis yang lebih kuat daripada AI itu sendiri. “AI bisa mengalami halusinasi data (hallucination) yang dapat mendominasi penggunanya,” ujarnya menggarisbawahi pentingnya kemampuan tersebut.

Dengan poin-poin di atas, praktisi PR diharapkan dapat menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh AI, tanpa merasa harus mengalahkan AI itu sendiri. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI