Head PR Marcomm Event Asuransi Astra Laurentius Iwan menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak seharusnya berhenti pada angka popularitas sebuah konten, tetapi tentang apa yang dipahami publik, perubahan perilaku dan dampaknya terhadap reputasi, loyalitas, bisnis dan nilai sosial.
BOGOR, PRINDONESIA.CO – Tantangan masyarakat hari ini dalam konteks informasi tidak lagi sekadar mencari, tetapi juga menentukan mana informasi yang layak dipercaya, dipahami, dan memiliki makna. Hal tersebut diamini Head PR Marcomm Event Asuransi Astra sekaligus Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Kampanye Kehumasan Perhumas Indonesia Laurentius Iwan.
Dalam acara Guest Lecture “Beyond Communication: How Strategis Communication Creates Sustainable Value for Organizations” yang diselenggarakan oleh IPB University, pria yang karib disapa Iwan itu menyampaikan, tantangan tersebut lahir dari keberlimpahan informasi hari ini. Ia menyebut bahwa sekitar 16.000 video diunggah di TikTok, 138,9 juta video diputar di Facebook dan Instagram, serta 5,9 juta pencarian dilakukan melalui Google hanya dalam 60 detik pencarian. “Pertanyaannya adalah bagaimana kita memilih dari platform tersebut atau sumber informasi yang hadir di hadapan kita,” ucapnya dikutip dari Pakuanraya.com, Sabtu (15/8/2026).
“Viral is an Output, Value is an Impact”
Oleh karena itu, kata Iwan, ada beberapa hal yang perlu dipastikan dalam komunikasi organisasi, meliputi lima elemen utama komunikasi strategis yaitu who, what, why, change dan value. “Sekarang organisasi tidak sekadar berbicara tetapi mampu menentukan dengan sadar siapa yang perlu dipahami, persoalan apa yang penting, mengapa organisasi perlu bertindak, perubahan apa yang ingin dicapai, serta nilai apa yang ingin diciptakan,” ujarnya.
Semakin kompleksnya pemetaan publik dan isu, lanjut alumnus Universitas Multimedia Nusantara itu, semakin penting organisasi memilih dengan sadar. Sebab, komunikasi strategis bukan menambah volume pesan, tetapi menciptakan makna, kepercayaan dan nilai.
Lebih jauh, Iwan mengingatkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak seharusnya berhenti pada angka popularitas sebuah konten. Hal ini diartikan bahwa komunikasi tidak hanya diukur dari reach, mentions, atau attendance, tetapi juga dari apa yang dipahami publik, perubahan sikap dan perilaku, hingga dampaknya terhadap reputasi, loyalitas, bisnis dan nilai sosial.
Iwan menekankan bahwa komunikasi strategis tidak berhenti pada aktivitas, namun baru bernilai ketika audiens menangkap makna, berubah sikap atau perilakunya. “Sehingga organisasi dan publik sama-sama merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (Evira Anyelia)