Melalui Webinar Pariwara Antikorupsi 2026 Seri 2, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan pentingnya strategi komunikasi yang kreatif, berbasis audiens, dan didukung visual yang kuat untuk memperluas dampak kampanye antikorupsi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di era digital, tantangan komunikasi publik makin kompleks. Persoalan hari ini bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi bagaimana sebuah pesan mampu menarik perhatian, dipahami oleh audiens, dan mendorong perubahan perilaku. Tantangan tersebut juga menjadi perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengampanyekan nilai-nilai antikorupsi kepada masyarakat.
Guna menjawab tantangan tersebut, KPK menggelar Webinar Pariwara Antikorupsi 2026 Seri 2 bertemakan “Teknik Storytelling dan Desain untuk Pesan Sosial yang Ngena” melalui kanal YouTube resmi KPK, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi komunikasi publik KPK untuk memperkuat kampanye antikorupsi melalui pendekatan yang lebih kreatif, relevan, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Lewat gelaran tersebut KPK berpandangan, penguatan budaya antikorupsi tidak cukup hanya mengandalkan regulasi maupun penindakan hukum. Nilai-nilai integritas juga perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, disampaikan melalui cerita yang mudah dipahami, serta diperkuat dengan visual yang mampu menyederhanakan isu-isu yang kompleks.
Dijelaskan oleh Kasatgas Sosialisasi Kampanye (Soskam) Antikorupsi KPK Dira Rachmawati, Pariwara Antikorupsi 2026 dirancang sebagai gerakan kampanye kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Penyusunan tema kampanye, kata dia, didasarkan pada hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK agar sesuai dengan tantangan integritas yang dihadapi masing-masing daerah. “Pesan antikorupsi perlu dikemas kreatif, menarik, dan komunikatif agar mampu menjangkau masyarakat luas serta terintegrasi melalui berbagai kanal komunikasi pemerintah daerah,” ujar Dira.
Dalam webinar tersebut, media sosial menjadi salah satu fokus pembahasan. Di tengah persaingan konten yang makin padat, efektivitas kampanye tidak lagi diukur dari banyaknya materi yang diproduksi, melainkan dari kemampuan pesan menjangkau sasaran yang tepat dan menghasilkan dampak yang nyata.
Pranata Hubungan Masyarakat (Humas) KPK Frietz Calvin menilai, kondisi tersebut menuntut setiap kampanye disusun melalui perencanaan komunikasi yang lebih strategis dan berbasis pemahaman terhadap karakteristik audiens. “Tantangan kampanye di media sosial bukan sekadar membuat konten, tapi memastikan pesan tersebut sampai kepada audiens yang tepat dan berdampak nyata,” kata dia.
Menurut Frietz, penyusunan strategi komunikasi perlu diawali dengan identifikasi audiens secara menyeluruh, mulai dari kelompok usia, latar belakang, hingga pola konsumsi informasi. Dengan memahami karakter audiens, lanjut dia, organisasi dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki sekaligus meningkatkan efektivitas penyampaian pesan.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan kampanye tidak semata-mata diukur melalui jumlah tayangan maupun interaksi di media sosial. “Dampak konten harus dilihat, apakah sekadar diketahui, dipahami, atau sampai mendorong audiens untuk bertindak,” ucap Frietz.
Lebih lanjut, Frietz menjelaskan, kampanye yang efektif dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu kejelasan isu dan pesan, personalisasi audiens, serta konsistensi dalam menyampaikan pesan. Ketiga aspek tersebut dinilai penting agar pesan antikorupsi tetap hadir secara berkesinambungan di ruang publik.
Ia juga menekankan pentingnya riset dalam proses perencanaan komunikasi. Menurutnya, memahami respons dan kebutuhan audiens jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti isu yang sedang menjadi perbincangan. “Yang sedang viral tidak selalu harus diikuti. Yang lebih penting, memahami apa yang sebenarnya direspons audiens,” tuturnya.
Berebut Perhatian
Pandangan serupa juga disampaikan Illustrator sekaligus Creative Director Berakar Komunikasi Hari Prasetiyo. Ia menilai, perubahan lanskap digital telah menggeser tantangan komunikasi dari sekadar menyampaikan informasi menjadi upaya merebut perhatian publik yang setiap hari dibanjiri berbagai konten. “Dulu tantangannya menyampaikan informasi, sekarang tantangannya merebut perhatian. Semua orang berada di layar yang sama dan saling berebut perhatian,” kata Hari.
Dalam kondisi tersebut, Hari menekankan bahwa visual memiliki peran yang makin strategis. Menurut Hari, desain tidak lagi sekadar menjadi pelengkap pesan, melainkan menjadi medium utama yang membantu audiens memahami makna sebuah isu bahkan sebelum membaca penjelasan secara utuh.“Visual bukan hanya gambar, tapi cara menyampaikan cerita. Tanpa teks pun, orang harus sudah paham maksudnya,” imbuhnya.
Hari menambahkan, kampanye sosial yang efektif adalah kampanye yang mampu menerjemahkan persoalan kompleks menjadi pesan yang sederhana tanpa menghilangkan substansinya. Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat dapat lebih mudah memahami isu sekaligus terdorong untuk terlibat.
Bagi Hari, indikator keberhasilan kampanye tidak berhenti pada tingginya jangkauan informasi, melainkan ketika masyarakat secara sukarela ikut membawa dan menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain. “Tujuan kampanye bukan hanya dibaca, tapi dibawa dan disebarkan masyarakat. Ketika orang sukarela memakai dan membagikan pesan, di situlah kampanye berubah menjadi budaya,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)