Pengamat Sebut Gaya Komunikasi Kepala Bakom Berisiko Terhadap Kepercayaan Publik
PRINDONESIA.CO | Senin, 20/07/2026
Pengamat Sebut Gaya Komunikasi Kepala Bakom Berisiko Terhadap Kepercayaan Publik
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari
dok. ANTARA News

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Gaya komunikasi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mendapat sorotan. Dalam konteks ini, pola komunikasi yang dibangun Qodari dianggap berpotensi menjadi beban bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, cara Qodari berkomunikasi memunculkan kesan bahwa dia lebih berperan sebagai juru bicara pribadi dibanding representasi pemerintah yang mengedepankan kepentingan publik. "Qodari sendiri gagal mencerminkan elite yang berpihak pada publik, dia lebih seperti juru bicara pribadi dan ini berisiko terhadap nama baik pemerintah," ucapnya dikutip dari Akurat.co, Minggu (19/7/2026).

Menurut Dedi, komunikasi pemerintah seharusnya mampu menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, terutama dalam menjelaskan berbagai kebijakan. Namun, katanya, fungsi tersebut dinilai belum dijalankan secara optimal oleh Qodari. "Komunikasi pemerintah pada publik tidak dijalankan dengan baik oleh Qodari. Pemerintah seharusnya sudah mengevaluasi itu," ujarnya.

Perlu Evaluasi

Dedi pun mengingatkan, apabila Qodari tetap menjadi wajah komunikasi pemerintah tanpa adanya evaluasi, kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo maupun pemerintah berpotensi terus menurun.

Selain itu, imbuhnya, Presiden Prabowo perlu memberi perhatian serius terhadap kualitas komunikasi pemerintah karena tingkat kepercayaan publik dapat berimplikasi pada dinamika politik, termasuk pemilu mendatang.

Sebagai pembanding, terang Dedi, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mampu membangun komunikasi pemerintahan yang lebih efektif. Salah satu faktor pendukungnya adalah adanya satu juru bicara pemerintah yang menjadi rujukan utama publik. "Presiden sebaiknya perlu belajar dari cara SBY mengelola komunikasi, piawai dalam segala situasi, selain juga karena juru bicara era SBY hanya satu orang sehingga publik memiliki kepastian siapa yang perlu didengar dalam hal mewakili suara pemerintah," pungkasnya.

Selain Dedi, banyak pihak dan pengamat berpendapat bahwa Qodari belum merepresentasikan sikap seorang kepala komunikasi pemerintah. Hal itu tercermin dari bagaimana komunikasi yang ia lakukan sejauh ini kerap kali bersifat menyerang dan defensif. (LTH)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI