Survei APPRI menegaskan pentingnya kredibilitas, transparansi, dan kualitas informasi untuk menjaga relasi antara media dan praktisi public relations (PR) di tengah maraknya disinformasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di tengah perubahan lanskap media yang bergerak cepat, hubungan antara jurnalis dan praktisi public relations (PR) kini tidak lagi sebatas pertukaran informasi. Relasi keduanya berkembang menjadi ekosistem strategis yang dipengaruhi teknologi, tekanan industri media, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap informasi yang akurat dan kredibel.
Hal itu tercermin dalam Survei Persepsi Media terhadap Profesi dan Kualitas Kerja Public Relations yang dirilis Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI). Studi yang dilakukan pada paruh kedua 2025 itu melibatkan 31 perusahaan media, dengan mayoritas berasal dari media nasional. Hasil survei menunjukkan bahwa peran PR makin penting dalam menjaga arus informasi, tetapi masih terdapat sejumlah catatan dari kalangan media.
Ketua Umum APPRI Sari Soegondo menilai, industri media saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang memengaruhi independensi ruang redaksi. “Ada satu toleransi besar yang terpaksa diakomodir. Media sulit menjaga independensi ruangnya karena harus banyak bertoleransi dengan kepentingan finansial,” ujarnya dikutip dari Sukabumi Update, Senin (27/4/2026).
Dalam survei itu juga ditemukan bahwa relasi antara jurnalis dan PR memang tengah diuji. Sebagian responden menilai bahwa praktisi PR masih cenderung berpihak pada kepentingan klien, sementara objektivitas dan kualitas materi informasi belum selalu memenuhi standar nilai berita. Kondisi ini membuat banyak materi membutuhkan penyesuaian sebelum layak dipublikasikan media.
Membangun Kepercayaan
Dalam konteks ini, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia Dian Agustine Nuriman memandang, peran PR tetap penting dalam menghadirkan informasi yang kredibel dan akurat di tengah maraknya disinformasi. Untuk itu, ia meminta praktisi PR selalu memegang fondasi utama profesinya, yakni membangun kepercayaan. “Membangun kredibilitas informasi ini merupakan aset yang terpenting,” ucap Dian.
Jika melihat pada Digital News Report 2026 yang menunjukkan kepercayaan publik terhadap media di Indonesia meningkat menjadi 36 persen, langkah untuk memberikan informasi yang akurat dan kredibel tersebut menjadi vital.
Sejalan dengan itu, penelitian berjudul Membangun Kepercayaan yang Berkelanjutan di Era Disruptif Komunikasi: Perspektif Media dan Komunikasi Digital (2024) oleh Agung Dharmajaya menunjukkan bahwa kepercayaan publik di era digital tidak lagi dibangun hanya melalui penyampaian pesan satu arah, tetapi melalui hubungan yang konsisten antara institusi, media, dan masyarakat. Penelitian ini juga menyoroti bahwa perubahan lanskap komunikasi akibat teknologi digital membuat publik makin kritis dalam menilai kredibilitas sebuah organisasi maupun informasi yang beredar.
Dalam konteks ini, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa praktisi PR tidak cukup hanya mengejar publisitas, tetapi mesti mampu membangun kepercayaan jangka panjang sebagai aset reputasi utama di era komunikasi digital yang disruptif. (Fadhil Pramudya)