Membangun kampus yang aman membutuhkan lebih dari sekadar regulasi. Dalam penjurian IDEAS 2026, Rabu (10/6/2026), para peserta menunjukkan bagaimana komunikasi dimanfaatkan untuk membuka ruang dialog, memperkuat advokasi, dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi sivitas akademika.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Mewujudkan lingkungan kampus yang aman tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan dan regulasi. Dibutuhkan pula komunikasi yang mampu membuka ruang dialog, mengakomodasi aspirasi, serta memastikan setiap warga kampus merasa didengar dan terlindungi.
Aspek tersebut menjadi salah satu yang disepakati oleh peserta dalam sesi penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 kategori ESG Communication Program secara daring, Rabu (10/6/2026).
Salah satu peserta, IPB University, menghadirkan program bertajuk Warung Mercusuar. Staf Biro Komunikasi Publik IPB University Asep Sumantri mengungkapkan, program tersebut dirancang sebagai ruang advokasi dan pelayanan informasi mahasiswa yang lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan saluran komunikasi terbuka antara mahasiswa dan pihak kampus, terutama dalam menyampaikan berbagai persoalan akademik maupun kesejahteraan mahasiswa. “Warung Mercusuar hadir sebagai ruang advokasi dan pelayanan informasi mahasiswa yang cepat, aman, dan terpercaya,” ujar Asep dalam paparannya.
Dalam menjalankan program itu, lanjut dia, IPB University menggandeng sejumlah pihak, di antaranya pimpinan kampus, BEM Fakultas dan Sekolah, Dewan Perwakilan Mahasiswa, Ormawa KM, mahasiswa, pers mahasiswa, hingga pihak eksternal seperti akun menfess dan media eksternal.
Melalui berbagai inisiatif seperti Dialog Rektor, SAPA KM, FORKESMAH, hingga layanan Sayang KM Hub, mahasiswa diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun keluhan secara langsung kepada pemangku kebijakan kampus. “Warung Mercusuar berhasil mentransformasi peran BEM KM IPB dari sekadar wadah penampung keluhan menjadi lembaga advokasi kebijakan yang saintifik (Data-Driven Advocacy),” tuturnya.
Tak hanya itu, Asep juga mengungkapkan bahwa program tersebut juga berhasil meningkatkan reputasi kampus sebagai pusat informasi dan gerakan advokasi yang kredibel, solutif, serta mendapat kepercayaan penuh dari mahasiswa di tiga wilayah geografis IPB. “Program ini juga berhasil menciptakan kebijakan bottom-up yang transparan, inklusif, responsif, dan berbasis pada kepentingan publik (public interest) mahasiswa,” ungkapnya.
Berani Bersuara
Program yang menghadirkan ruang aman di lingkungan kampus juga ditunjukkan oleh LLDikti Wilayah III Jakarta bersama Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) dengan mengangkat program Kampus Aman dari Kekerasan di Jakarta. Berbeda dengan IPB yang berfokus pada ruang advokasi mahasiswa, program ini menitikberatkan upaya membangun ekosistem kampus yang bebas dari kekerasan melalui edukasi, sosialisasi, dan penguatan tata kelola kelembagaan.
Humas LLDikti Wilayah III Jakarta Sigit Nugroho menyebut, lewat program ini pihaknya ingin membangun kesadaran terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus. “Kami juga harus menciptakan kampus yang aman, kampus yang nyaman, dan kampus yang bebas dari kekerasan,” tutur Nugroho.
Nugroho mengungkapkan, program tersebut dilaksanakan melalui peningkatan awareness warga kampus, monitoring dan evaluasi berkala, hingga penyediaan dukungan bagi korban maupun saksi kekerasan melalui layanan pendampingan hukum, kesehatan, dan psikologis. Dalam konteks ini, lanjut dia, pihaknya mendorong korban untuk berani bersuara saat mengalami kekerasan seksual. “Setiap suara berharga. Kami hadir untuk memberikan ruang aman bagi siapa pun yang menjadi korban pelecehan, kekerasan, dan diskriminasi,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)