Meningkatnya perhatian terhadap isu ESG membawa tantangan tersendiri bagi organisasi atau perusahaan dalam mengomunikasikan program ESG. Apa saja hambatan utamanya?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi ESG (environmental, social, and governance) makin menjadi bagian penting dari strategi reputasi organisasi. Namun, menyampaikan komitmen keberlanjutan kepada publik tidak selalu mudah. Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi, perusahaan kerap menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi efektivitas komunikasi ESG.
Sebagaimana disampaikan CEO PRLab Matias Rodsevich, saat perusahaan telah menaruh perhatian serius tentang keberlanjutan, komunikasi ESG mereka tidak selalu berhasil. "Pesan dapat menjadi tidak konsisten, tidak jelas, atau terlalu berhati-hati," ujar Matias, dikutip dari tulisannya di PRLab, Senin (4/5/2026).
Dalam tulisannya itu, Matias mengungkapkan ada lima hambatan utama yang kerap dihadapi organisasi dalam mengomunikasikan agenda keberlanjutan mereka. Berikut penjelasannya:
1. Data ESG Masih Terfragmentasi
Salah satu tantangan terbesar dalam komunikasi ESG adalah pengelolaan data. Berbeda dengan data keuangan yang biasanya terpusat, informasi ESG sering tersebar di berbagai divisi, mulai dari operasional, sumber daya manusia, hingga rantai pasok.
Matias menilai, kondisi ini membuat proses pengumpulan, verifikasi, dan penyusunan laporan menjadi lebih kompleks. Akibatnya, organisasi berisiko menyampaikan informasi yang tidak lengkap atau yang belum mutakhir kepada pemangku kepentingan (stakeholder).
2. Belum Ada Standar Pelaporan yang Seragam
Organisasi juga menghadapi tantangan karena belum adanya standar ESG global yang benar-benar seragam. Saat ini terdapat berbagai kerangka pelaporan yang digunakan secara bersamaan, seperti GRI, SASB, maupun TCFD.
Keberagaman standar tersebut, kata Matias, membuat perusahaan harus menyesuaikan pesan dan laporan untuk memenuhi kebutuhan berbagai audiens, mulai dari investor hingga regulator.
3. Menentukan Isu yang Paling Relevan
Matias menyebut, tidak semua isu ESG memiliki tingkat kepentingan yang sama bagi setiap organisasi. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengidentifikasi isu material yang paling relevan dengan bisnis dan pemangku kepentingannya.
Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Global PR di Impraise itu menjelaskan, tanpa proses pemetaan yang tepat, komunikasi ESG berpotensi menjadi terlalu umum, kurang fokus, dan gagal menjawab ekspektasi publik.
4. Dilema antara Transparansi dan "Greenwashing"
Matias menilai banyak organisasi menghadapi dilema dalam mengomunikasikan kinerja keberlanjutan mereka. Menurutnya, jika organisasi terlalu agresif menyampaikan klaim ESG dapat memicu tuduhan greenwashing. "Namun, jika terlalu sedikit menyampaikan informasi, publik bisa mempertanyakan apa yang sedang disembunyikan," terangnya.
Situasi tersebut, kata dia, membuat banyak perusahaan atau organisasi lebih berhati-hati dalam menyampaikan narasi keberlanjutan mereka.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Matias pun menyarankan agar organisasi bersikap transparan tentang pencapaian dan tantangan yang dihadapi, menggunakan data dan fakta dari setiap pernyataan yang disampaikan, serta fokus pada konsistensi pesan dalam siaran pers hingga kampanye keberlanjutan.
5. Menjaga Konsistensi Pesan ESG
Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh pesan ESG yang disampaikan tetap konsisten di berbagai kanal komunikasi. Ketidaksesuaian antara laporan, pernyataan publik, dan praktik nyata perusahaan dapat menggerus kepercayaan pemangku kepentingan.
Menurut Matias, efektivitas komunikasi ESG tidak ditentukan oleh banyaknya klaim yang dibuat, melainkan oleh kualitas informasi yang disampaikan. "Yang terpenting adalah pesan yang disampaikan harus nyata, jelas, dan konsisten," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)