Kesan pertama sebuah organisasi kini makin banyak dibentuk oleh kecerdasan buatan (AI), bukan semata dari pesan yang disusun oleh tim komunikasi. Perubahan ini mendorong praktisi humas untuk menyesuaikan strategi agar persepsi publik tetap akurat.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO — Artificial intelligence (AI) saat ini mampu merangkum berbagai informasi publik, mulai dari website perusahaan, siaran pers, hingga pemberitaan media. Selaras dengan itu, tak jarang masyarakat juga berpatokan kepada rangkuman dari AI untuk mendapatkan informasi awal terkait berbagai hal. Dengan kata lain, AI kini telah memainkan peran dalam memberikan kesan pertama kepada publik.
Dalam perkembangan ini, organisasi perlu bersiap. Sebab, jika informasi yang tersedia tidak lengkap atau minim konteks, AI berpotensi menghasilkan rangkuman yang keliru. Sehingga, alih-alih membawa dampak positif, apa yang disuguhkan AI kepada publik dapat memperburuk citra dan reputasi organisasi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Head of Corporate Affairs and Marketing Flix North America Karina Frayter mengatakan, praktisi public relations (PR) perlu menggeser pendekatan dari sekadar menyampaikan pesan menjadi mengedukasi stakeholder.
Ia menjelaskan, pendidikan stakeholder adalah tentang memberikan pemahaman kepada audiens tentang konteks yang diperlukan agar mereka dapat memahami cara kerja organisasi. “Lewat edukasi stakeholder, informasi yang disampaikan harus lebih komprehensif, mencakup penjelasan, alasan, konteks di balik setiap kebijakan atau produk, hingga menyoroti mengapa sesuatu yang disampaikan penting,” ujarnya dikutip dari PRNews, Senin (13/4/2026).
Dalam praktiknya, Karina mengatakan, terdapat tiga aspek yang perlu mendapat perhatian utama praktisi PR. Apa saja?
Memperkuat Peran Juru Bicara
Juru bicara tidak lagi cukup hanya menyampaikan pernyataan singkat (soundbite). Menurut Karina, mereka juga harus mampu menjelaskan isu secara utuh, termasuk latar belakang, konteks, hingga konsekuensi dari suatu keputusan. Dengan begitu, informasi yang beredar dan kemudian dirangkum AI menjadi lebih akurat.
Optimalkan Website Perusahaan Sebagai Sumber Utama Informasi
Website kini berfungsi sebagai rujukan penting bagi AI dalam menyusun ringkasan tentang suatu organisasi. Oleh karena itu, kata Karina, konten perlu disusun secara jelas, informatif, dan mudah dipahami, tak hanya sekadar berisi jargon pemasaran. Dengan penjelasan yang lengkap, katanya, akan membantu mengurangi risiko salah tafsir oleh publik. “Karena itu, kejelasan, kelengkapan, dan struktur informasi di dalamnya menjadi makin krusial,” ucap Karina.
Kesadaran Tentang Realitas Komunikasi
Meskipun AI berperan dalam membentuk persepsi merek, Karina menekankan bahwa penilaian manusia tetap menjadi faktor utama. Oleh karena itu, edukasi pemangku kepentingan perlu diintegrasikan dalam seluruh aktivitas komunikasi, mulai dari hubungan media, media sosial, hingga konten milik sendiri.
Menurut peraih gelar Magister di bidang International Security Policy dari School of International and Public Affairs (SIPA) Columbia University itu, ketiga hal di atas perlu diperhatikan dengan tujuan utama mengurangi ambiguitas. Dengan pendekatan yang terintegrasi, lanjut dia, perusahaan atau organisasi dapat memastikan pesan yang disampaikan dipahami secara konsisten di berbagai kanal, sehingga interpretasi publik terhadap merek menjadi lebih akurat dan terpercaya. (Fadhil Pramudya)