3 Hal yang Perlu Diperhatikan Demi Jaga Persepsi Publik di Era “AI Mode”
PRINDONESIA.CO | Selasa, 14/04/2026
3 Hal yang Perlu Diperhatikan Demi Jaga Persepsi Publik di Era “AI Mode”
AI telah memainkan peran sentral dalam memberikan kesan pertama kepada publik. Praktisi humas pun mesti menyesuaikan strategi untuk menyampaikan pesan agar tetap memberikan persepsi publik yang akurat.
Dok. Freepik

JAKARTA, PRINDONESIA.COArtificial intelligence (AI) saat ini mampu merangkum berbagai informasi publik, mulai dari website perusahaan, siaran pers, hingga pemberitaan media. Selaras dengan itu, tak jarang masyarakat juga berpatokan kepada rangkuman dari AI untuk mendapatkan informasi awal terkait berbagai hal. Dengan kata lain, AI kini telah memainkan peran dalam memberikan kesan pertama kepada publik. 

Dalam perkembangan ini, organisasi perlu bersiap. Sebab, jika informasi yang tersedia tidak lengkap atau minim konteks, AI berpotensi menghasilkan rangkuman yang keliru. Sehingga, alih-alih membawa dampak positif, apa yang disuguhkan AI kepada publik dapat memperburuk citra dan reputasi organisasi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Head of Corporate Affairs and Marketing Flix North America Karina Frayter mengatakan, praktisi public relations (PR) perlu menggeser pendekatan dari sekadar menyampaikan pesan menjadi mengedukasi stakeholder.

Ia menjelaskan, pendidikan stakeholder adalah tentang memberikan pemahaman kepada audiens tentang konteks yang diperlukan agar mereka dapat memahami cara kerja organisasi. “Lewat edukasi stakeholder, informasi yang disampaikan harus lebih komprehensif, mencakup penjelasan, alasan, konteks di balik setiap kebijakan atau produk, hingga menyoroti mengapa sesuatu yang disampaikan penting,” ujarnya dikutip dari PRNews, Senin (13/4/2026).

Dalam praktiknya, Karina mengatakan, terdapat tiga aspek yang perlu mendapat perhatian utama praktisi PR. Apa saja?

  1. Memperkuat Peran Juru Bicara

Juru bicara tidak lagi cukup hanya menyampaikan pernyataan singkat (soundbite). Menurut Karina, mereka juga harus mampu menjelaskan isu secara utuh, termasuk latar belakang, konteks, hingga konsekuensi dari suatu keputusan. Dengan begitu, informasi yang beredar dan kemudian dirangkum AI menjadi lebih akurat.

  1. Optimalkan Website Perusahaan Sebagai Sumber Utama Informasi

Website kini berfungsi sebagai rujukan penting bagi AI dalam menyusun ringkasan tentang suatu organisasi. Oleh karena itu, kata Karina, konten perlu disusun secara jelas, informatif, dan mudah dipahami, tak hanya sekadar berisi jargon pemasaran. Dengan penjelasan yang lengkap, katanya, akan membantu mengurangi risiko salah tafsir oleh publik. “Karena itu, kejelasan, kelengkapan, dan struktur informasi di dalamnya menjadi makin krusial,” ucap Karina. 

  1. Kesadaran Tentang Realitas Komunikasi

Meskipun AI berperan dalam membentuk persepsi merek, Karina menekankan bahwa penilaian manusia tetap menjadi faktor utama. Oleh karena itu, edukasi pemangku kepentingan perlu diintegrasikan dalam seluruh aktivitas komunikasi, mulai dari hubungan media, media sosial, hingga konten milik sendiri.

Menurut peraih gelar Magister di bidang International Security Policy dari School of International and Public Affairs (SIPA) Columbia University itu, ketiga hal di atas perlu diperhatikan dengan tujuan utama mengurangi ambiguitas. Dengan pendekatan yang terintegrasi, lanjut dia, perusahaan atau organisasi dapat memastikan pesan yang disampaikan dipahami secara konsisten di berbagai kanal, sehingga interpretasi publik terhadap merek menjadi lebih akurat dan terpercaya. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI