Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.

"> Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.

"> Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.

">
Demi Masa Tua, Bank DBS Indonesia Luncurkan Kampanye “Pensiun Gak Susah”
PRINDONESIA.CO | Kamis, 05/03/2026
Demi Masa Tua, Bank DBS Indonesia Luncurkan Kampanye “Pensiun Gak Susah”
Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”.
dok. Bank DBS Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Fenomena masyarakat menua kini menjadi tantangan nyata di Asia, terutama Indonesia yang masih berada pada tahap awal dalam kesiapan pensiun, sementara perubahan demografi berlangsung semakin cepat. Menyikapi kondisi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang bertujuan mendorong masyarakat merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di usia pensiun.

Sejalan dengan aspirasi Best Bank for a Better World, DBS Foundation secara konsisten menempatkan ageing society sebagai salah satu fokus utamanya. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diiringi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, bermakna, dan berdaya. “Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.

Sebagai purpose-driven bank, lanjut Mona, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia.

Sebagai bagian dari kampanye ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal bagi masyarakat untuk merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih menyeluruh dan terarah. Kalkulator ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun.

Sejalan dengan misi Live more, Bank less, alat ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan berbagai aspek perbankan dan perencanaan keuangan yang kerap terasa kompleks, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup serta mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang dan percaya diri.

Kesiapan Pensiun Bukan Hanya Soal Dana

Meski begitu, kesiapan pensiun tidak hanya ditentukan oleh dana. Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang. Karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.

Founder & CEO, Lead Financial Trainer at QM Financial Ligwina Hananto mengatakan, banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal yakni ketika penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. “Keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup,” jelasnya.

Adapun salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan, kata Ligwina, adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari.

Sejatinya, masa pensiun adalah fase hidup ketika ketenangan, keamanan, dan kualitas hidup menjadi prioritas. Namun, Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menjelaskan, perencanaan yang matang mengajarkan bahwa menumbuhkan dana saja tidak cukup, tetapi juga harus memerhatikan perlindungan yang memadai, seiring meningkatnya ketidakpastian dan tantangan kehidupan. “Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri,” terangnya.

Urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global. Penemuan CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mengungkapkan, harapan hidup manusia meningkat secara tajam dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Lonjakan ini tidak hanya akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk pengobatan penyakit terkait usia, tetapi juga memperkuat permintaan akan layanan kesehatan dan sistem pensiun yang lebih matang. Perubahan tren ini membuka peluang strategis untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia. (LTH)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI