4 Hal yang Wajib Dipahami dan Dipegang Erat Setiap Praktisi PR
PRINDONESIA.CO | Selasa, 27/01/2026
4 Hal yang Wajib Dipahami dan Dipegang Erat Setiap Praktisi PR
Ilustrasi praktisi PR
doc/binus

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –  Meski dipenuhi teori, praktik kerja public relations (PR) tidak melulu bersifat kaku. Ini karena dinamisnya dunia komunikasi yang membutuhkan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. Kendati demikian, ada beberapa hal yang wajib dipahami setiap praktisi PR, dan pemaknaannya dinilai tidak bisa ditawar.

Melansir dari PR Daily, Kamis (22/1/2026), berikut empat di antaranya. Yuk, catat!

1. PR Adalah Fungsi Bisnis Strategis 

Sebagian besar praktisi dan pemimpin industri menolak pandangan bahwa PR hanya alat atau fungsi situasional. Sebaliknya, PR harus dipandang sebagai bagian integral dari perencanaan dan pengambilan keputusan strategis organisasi. Sebagaimana disampaikan Senior Vice President Signal Group Kevin Perez-Allen, hal ini harus dimulai dari memberikan bangku kepemimpinan kepada sosok dengan latar belakang komunikasi yang kuat. “Perusahaan seharusnya dipimpin oleh orang yang memahami narasi dan kepercayaan, bukan hanya spreadsheet dan proses,” ujarnya.

2. Realitas Media dan “Newsworthiness”

Konsultan PR Gabrielle Reitano mengingatkan, keberhasilan PR hari ini bukan diukur dari seberapa sering organisasi tampil di media bergengsi. Menurutnya, upaya menembus media besar tanpa mempertimbangkan relevansi audiens justru dinilai tidak efektif.

Selaras,  VP Global Communications & PR Urban Land Institute Sukanya Sen menekankan bahwa nilai berita (newsworthiness) tidak boleh diukur berdasarkan validasi internal organisasi, tetapi dari kepedulian audiens, dan relevansi.

3. Kredibilitas dan Kepercayaan

PR & Communications Strategist Lauren Roberts menyampaikan, praktisi PR akan mati ketika hanya mengejar perhatian, bukan kredibilitas. Pendapat Roberts juga diperkuat oleh founder The ATTN Economy Christine Kim yang menilai bahwa mengejar viralitas seringkali menyesatkan. Sebab, konten yang paling cepat menyebar hampir tidak pernah membangun nilai nyata atau dampak nyata dalam jangka panjang.

4. Berfokus pada Basis Audiens

Setiap praktisi PR harus berpikir berbasis audiens. Hal ini ditegaskan oleh Former Head of Digital Communications Pfizer Ellen Gerstein. Menurutnya, hal terpenting adalah bukan apa yang ingin kita katakan, tetapi apa yang perlu didengar audiens. Menambahkan Ellen, Content & Editorial Strategy Consultant Jessica Masuga menekankan storytelling yang belakangan jadi tumpuan narasi kebanyakan organisasi, tidak bisa hanya hidup dari data dan klaim produk. “Orang ingin memahami manusia di balik pekerjaan dan dampaknya. Tanpa itu, Anda kehilangan esensi cerita,” tulisnya.

Dengan memastikan empat hal di atas, praktisi PR diyakini akan mampu menjaga integritas, relevansi, dan nilai strategis profesi di tengah lanskap komunikasi yang kian dinamis. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! (EDA)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI