Menggerakkan Pariwisata Jadi Sumber Devisa
02 October 2016
Ratna Kartika
0
Menggerakkan Pariwisata Jadi Sumber Devisa

Arief Yahya - Menteri Pariwisata

 

Keyakinan itu disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya saat menyampaikan sambutan usai menerima Penghargaan Tokoh Publik Inspirasional Pilihan Serikat Perusahaan Pers (SPS) di Semarang, Rabu (31/8/2016).

Devisa pariwisata Indonesia kini berada di urutan keempat setelah migas, batubara dan sawit. Tapi pertumbuhannya terbesar nomor satu, 13 persen. “Waktu saya baru jadi menteri, industri pariwisata menyumbang devisa 10 miliar dolar AS. Pada 2015, jumlahnya meningkat 12,6 miliar dolar AS. Kalau pariwisata tumbuh 10 persen, minyak dan gas pasti turun kira-kira jadi 13 miliar dolar AS tahun ini. Maka tahun 2017, pariwisata akan jadi penghasil devisa nomor satu,” kata pria yang akrab disapa AY itu.

Jika proyeksi itu terbukti, AY berkelakar, sebutan populer di industri yang dulu kerap disebut migas dan non-migas akan berganti menjadi pariwisata dan non-pariwisata. Ya, AY memang gemar mencari perbandingan untuk membakar semangat dan optimisme saat berpidato di berbagai kesempatan.

Menurut AY, selain meningkatkan devisa, pariwisata merupakan industri yang paling mudah dan murah untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB) dan menciptakan lapangan kerja. Sejauh ini, PDB pariwisata menyumbangkan 10 persen PDB nasional, atau merupakan yang terbesar size-nya di ASEAN. Sustainability growth-nya lebih tinggi dari industri di Indonesia dan dampaknya besar karena langsung dinikmati oleh rakyat.

“Kalau ada 1 juta  dolar, maka impact ke PDB adalah 170 persen, tertinggi dibanding industri lainnya. Kesimpulannya, nomor satu pariwisata paling mudah menaikkan pendapatan per kapita. Kabupaten Banyuwangi sudah membuktikan dan kabarnya sudah mengalahkan Malang,” kata AY sambil melirik ke arah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang malam itu juga hadir di acara yang sama.

Industri Budaya

Adapun dari sisi tenaga kerja, pariwisata penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4 persen secara nasional dan menempati urutan keempat dari seluruh sektor industri. Dalam penciptaan lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30 persen dalam waktu 5 tahun. “Itu pertumbuhan yang sangat signifikan,” ujar mantan Direktur Utama Telkom tersebut.

Pariwisata itu, lanjut dia, disebut pencipta lapangan kerja termurah karena bisa mengciptakan peluang kerja hanya dengan 5.000 dolar AS per pekerjaan. “Coba bandingkan dengan rata-rata industri lainnya yang sudah sebesar 100.000 dolar AS per  pekerjaan,” jelas Arief yang membuat audiens mengernyitkan dahi karena penuh dengan angka-angka dan harus dibayangkan dengan koversi rupiah.

Menurut AY, yang yang paling penting, Indonesia bisa menjadi yang terbaik di regional dan global. Dari empat industri seperti pertanian, manufaktur, informasi, dan industri budaya, Indonesia paling potensial memenangkan kontestasi di industri budaya. “Dengan mudah saya bisa bilang, mengalahkan Malaysia setengah ngantuk saja, saya bisa. Sekarang bisa, karena dulu memang tidak digarap dengan baik,” ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, AY bahkan yakin Indonesia mampu mengalahkan Thailand. Sepanjang ia bisa membayangkan, ia yakin bisa terwujud. “If you can imagine you can get it,” kata AY mengutip kalimat bijak dari Walt Disney. “Dengan penuh cinta, mari kita bangun negeri ini dan sejahterakan rakyat kita,” pungkasnya. nif

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI