CEO GNFI Wahyu Aji tegaskan humas wajib terapkan strategi ko-kreasi dan tinggalkan kontrol pesan satu arah demi reputasi.
YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Lanskap komunikasi digital yang berubah drastis menuntut praktisi public relations (PR/humas untuk meninggalkan cara-cara lama. Hal tersebut disinggung CEO Good News From Indonesia (GNFI) Wahyu Aji, saat mengisi sesi workshop strategic PR yang menjadi rangkaian acara puncak Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2026 di Gedung PKK, Komplek Kepatihan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY), Kamis (12/2/2026).
Dalam sesi tersebut, Wahyu menekankan, era kontrol pesan satu arah yang dulu mapan kini telah berakhir. Oleh karenanya, PR/humas harus berani merangkul strategi ko-kreasi (co-creation), yang menempatkan publik sebagai mitra aktif dalam membentuk makna dan reputasi institusi.
Mengenai hal tersebut Wahyu menjelaskan, perubahan perilaku publik hari ini dipicu oleh tiga faktor utama, yakni digitalisasi, automasi, dan ekspektasi yang kian meninggi. “Pekerjaan besar kita sekarang bukan lagi bagaimana mengontrol pesan versi kita, tapi bekerja bersama publik,” tegas peraih gelar Magister Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia itu di hadapan puluhan peserta.
Fokus komunikasi saat ini, lanjut Wahyu, telah mengalami bergeser fundamental dari sekadar menghindari perbedaan pendapat, menjadi mengarahkan percakapan. Selaras dengan itu, maka reputasi institusi tidak lagi bisa dijaga secara kaku di benteng organisasi, tetapi dibangun bersama di ruang publik. “Institusi memberi arah dan konteks, publik memberi pengalaman dan makna. Reputasi terbentuk dari interaksi keduanya,” ujar Wahyu.
Autentisitas sebagai Mata Uang Baru
Wahyu turut menyoroti fenomena publik, khususnya generasi Z dan Milenial, yang semakin jenuh dengan konten terlalu rapi. Mereka mendambakan autentisitas, terlihat dari tren media sosial saat konten yang "apa adanya" justru lebih dipercaya. "Autentisitas adalah mata uang baru. Apakah tren ini akan awet? Kami memprediksinya iya," jelasnya.
Diskusi semakin hidup ketika peserta menanyakan cara mendesain ko-kreasi agar tidak terkesan seperti penggunaan pendengung (buzzer). Menanggapi hal tersebut, Wahyu menyarankan penggunaan key opinion leader (KOL) atau pihak yang benar-benar memiliki keterikatan (relate) dengan institusi. "Kesalahan institusi biasanya memilih banyak influencer dengan brief detail yang sama. Pilihlah yang relate dan dekat dengan isu di institusi," jawabnya.
Terkait risiko hilangnya kendali pesan saat menerapkan ko-kreasi, Wahyu mengakui potensi tersebut ada. Namun, aturan yang terlalu kaku justru akan membunuh autentisitas. Kuncinya ada pada mitigasi risiko yang disiapkan tim komunikasi sebelum kampanye berjalan. Menutup sesi, Wahyu memberikan pesan kuat tentang pentingnya kepercayaan institusi kepada publik untuk menerjemahkan nilai-nilai organisasi. "Partisipasi tanpa adanya ruang memaknai, tetaplah komunikasi satu arah," pungkasnya. (Arfrian R.)