Menyoal Urgensi Implementasi GEO oleh Praktisi PR
PRINDONESIA.CO | Jumat, 13/02/2026
Menyoal Urgensi Implementasi GEO oleh Praktisi PR
Workshop strategic PR PRIA 2026
PR INDONESIA

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam dunia komunikasi bukan lagi sekadar tren. Pada perkembangannya, ia telah berubah menjadi kebutuhan strategis. Oleh karenanya, Chief Operating Officer (COO) Burson Indonesia Harry Deje mengatakan, praktisi public relations (PR)/humas saat ini perlu bertransformasi.

Harry menjelaskan, transformasi tersebut menuntut PR/humas untuk beralih dari sekadar manajer relasi, menjadi arsitek informasi yang relevan dengan cara kerja mesin. Dalam praktiknya, organisasi tidak cukup lagi juka hanya berlomba agar berita positif muncul di halaman pertama mesin pencari lewat Search Engine Optimization (SEO). “Era itu telah bergeser. Sekarang, dengan adanya AI konten tidak hanya cukup ditemukan, tapi harus dipahami oleh orang dan mesin,” ujarnya.

Dalam konteks ini, lanjut Harry, generative engine optimization (GEO) adalah perkembangan dari SEO. Jika SEO berfokus pada kata kunci, GEO bermain pada frasa, pertanyaan, dan konteks. Harry menganalogikan GEO seperti calon pembeli laptop yang kini tak perlu membaca brosur satu per satu, cukup bertanya pada "sales digital" (AI) untuk rekomendasi terbaik. “Kini tren bergeser dari 'Google It' menjadi 'GPT It'. Anak muda hari ini lebih percaya AI untuk mencari informasi dibanding ke search engine,” tambahnya.

Struktur Konten yang Disukai AI

Menyambung Harry, Managing Director Burson Indonesia Shirley Tangkilisan turut membedah anatomi konten yang ramah terhadap mesin AI atau GEO-friendly. Menurutnya, AI menyukai konten yang menjawab pertanyaan secara langsung, memiliki urutan jelas, serta menyertakan kesimpulan di awal paragraf.

Sebaliknya, format narasi panjang tanpa poin-poin menjadi jenis konten yang paling lemah dipahami mesin. “Naskah tidak baik adalah hanya berupa kronologi dan normatif. Naskah yang baik adalah penjelasan dengan kesimpulan di awal dan memberikan konteks,” jelas Shirley menanggapi pertanyaan peserta mengenai penulisan siaran pers.

Diskusi semakin hangat ketika peserta mulai berbagi pengalaman. PR Officer PT Pupuk Kujang Ahmad Fauzi mengungkapkan integrasi AI dalam pekerjaannya telah berjalan dua tahun terakhir. “Lebih penting (kehadiran AI). Karena AI membantu kami untuk menganalisis lebih mendalam dalam pembuatan produksi konten komunikasi,” ujarnya.

Namun, keraguan muncul dari Ghilman Hasya yang hadir mewakili Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia mempertanyakan relevansi data AI yang kerap mengambil berita lama. Menjawab hal ini, Harry mengingatkan bahwa AI bekerja berdasarkan data dengan interaksi tertinggi (view), sehingga verifikasi manusia tetap mutlak diperlukan. “Itu perlu cross-check. Dan itulah tugas kita sebagai manusia yang memanfaatkannya,” tegas Harry.

Harry juga memperkenalkan tiga jenis AI yang wajib diketahui praktisi: generative AI untuk produksi konten, cognitive AI untuk riset mendalam, dan agentic AI untuk tugas semi-mandiri. Ketiganya memiliki kekuatan masing-masing, tetapi tetap membutuhkan peran manusia untuk menjaga konteks reputasi. "Sentuhan manusia tetap diperlukan di seluruh proses penggunaan kecerdasaan buatan ini," tutupnya. (Arfrian R.)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI