Berbeda, Penjurian Insan PR INDONESIA di Tengah Pandemi
PRINDONESIA.CO | Jumat, 14/08/2020
Berbeda, Penjurian Insan PR INDONESIA di Tengah Pandemi
Kondisi ini menunjukkan, bahkan untuk seorang PR sekali pun, tidak mudah melakukan presentasi lewat video.
Malik/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Terhimpun ada 18 peserta public relations (PR) dari lintas instansi dan korporasi yang mengikuti kompetisi Insan PR INDONESIA tahun ini. Jumlahnya memang mengalami penurunan yang cukup signifikan, tapi semangatnya tetap sama.

Duduk di kursi dewan juri antara lain Asmono Wikan (founder dan CEO PR INDONESIA Group), Elizabeth Goenawan Ananto (founder EGA briefings dan PR INDONESIA Guru), Jojo S. Nugroho (Ketua APPRI dan Managing Director IMOGEN PR).  

Ega, sapaan karib Elizabeth, mengatakan, situasi penjurian yang diadakan dalam kondisi terbatas karena pandemi tak mengurangi esensi kompetisi Insan PR INDONESIA kali ini. Adapun kandidat pemenang yang ia cari adalah mereka yang mampu mempresentasikan dengan baik mulai dari perencanaan strategi komunikasi sampai evaluasi secara tangible.

Sayangnya, ia belum menemukan banyak peserta yang memenuhi kriteria tersebut di kompetisi tahun ini. Untuk itu, Ega berharap tahun depan peserta bisa mempersiapkan materi kompetisi lebih baik dan maksimal.   

Menurut Jojo, kondisi ini menunjukkan bahwa tidak mudah, bahkan untuk seorang PR sekali pun, melakukan presentasi lewat video dan meyakinkan audiens secara singkat melalui visual. “Tidak seperti presentasi tatap muka, kita bisa membangun interaksi dan melihat gestur audiens,” katanya. Saat ini, presentasi melalui video menjadi kompetensi baru yang harus dimiliki PR. Apalagi hampir semua aktivitas selama pandemi dilakukan secara virtual.  

Kali pertama menjadi juri di tengah pandemi Covid-19, Jojo mengaku memang terasa ada yang kurang. “Kalau tatap muka secara langsung, ada chemistry yang terbangun. Kali ini, tidak ada karena komunikasinya hanya satu arah,” ujarnya.

Adapun peserta yang menjadi unggulannya adalah mereka yang mampu menyampaikan kontribusi dan peran yang bersangkutan terhadap program PR yang mereka anggap berhasil. “Jadi, kompetisi ini bukan soal seberapa bagus program komunikasinya. Tapi, sejauh mana keterlibatan dan kontribusinya untuk membuat program tersebut menjadi berhasil,” katanya seraya memberi catatan kepada peserta agar mengirimkan materi sesuai ketentuan panitia, termasuk memerhatikan panjang pendeknya durasi saat melakukan presentasi. 

Setelah menyaksikan semua video presentasi, Asmono berkesimpulan, semakin tinggi level kandidat, semakin berkualitas pula cara mereka berpikir, membangun gagasan dan public speaking. “Semoga performa serupa bisa diikuti untuk level di bawahnya,” katanya. Di akhir wawancara, ia berharap kompetisi ini dapat memberikan warna dalam kehidupan para praktisi humas/PR di tanah air. (rtn)   

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI