Kiat Menjadi PR yang Kreatif di Masa Pandemi
PRINDONESIA.CO | Sabtu, 08/08/2020
Kiat Menjadi PR yang Kreatif di Masa Pandemi
Yang terpenting dari makna berpikir kreatif ialah mampu memecahkan permasalahan.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Fungsi dan peran PR diuji di kala pandemi. Meski begitu, menurut Elvera N. Makki, President International Association of Business Communicators/IABC, PR justru harus memanfaatkan momen ini sebagai peluang yang memacu mereka untuk berpikir lebih kreatif. 

Salah satunya dengan memanfaatkan dan memaksimalkan keberadaan kanal digital, katanya saat menjadi pembicara di acara MAW Talk Workshop MERDEKA!!! bertajuk "Strategic and Creative Thinking for PR", Jumat (7/8/2020).

Langkah pertama yang harus dilakukan, pertama, menyamakan persepsi antara PR dengan pimpinan tentang makna strategis dan kreatif. Masing-masing memiliki tiga definisi. Strategis, misalnya, dapat diartikan, pertama, sebagai kemampuan untuk berpikir tentang tren ke depan, proses, menilai, melihat, dan mengamati. Serta, menciptakan masa depan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. "Kemampuan ini meliputi tujuan strategis dan inovasi jangka panjang, sehingga bisa menangkap apa yang menjadi keinginan manajemen," ujar perempuan yang karib disapa Vera itu.

Makna strategis kedua, kemampuan mengubah data dan informasi menjadi insight atau wawasan. Ketiga, mampu menciptakan konten yang relevan bagi stakeholders sekaligus menempatkannya dalam konteks yang lebih besar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 

Sementara itu, definisi kreatif juga terbagi dari tiga hal. Pertama, kemampuan untuk memecahkan permasalahan, mengomunikasikan ide, memberikan perspektif baru, serta bercerita. 

Kedua, mampu berpikir diluar dari kebanyakan orang (outside the box and standing out from a crowd). Ketiga, berpikir kreatif dapat dimaknai sebagai kemampuan bercerita di platform digital dengan menambah visual yang atraktif guna menunjang proses penyampaian pesan.

 

Formula
Lantas, bagaimana cara PR berpikir strategis? Pertama, memahami objektif dan strategis dari organisasi. "Ini syarat mutlak," ujar perempuan yang sudah malang-melintang mengepalai divisi PR sejumlah perusahaan multinasional itu. Sebab, ia melanjutkan, objektivitas dan strategis bisnis perusahaan bersifat dinamis dan bisa berubah kapanpun. 

Selanjutnya, memahami tantangan serta risiko yang mungkin terjadi. Tujuannya, agar PR dapat memformulasikan manajemen isu serta cetak biru komunikasi krisis (crisis communication blueprint). Ketiga, mengembangkan pemetaan pemangku kepentingan, menganalisis dan membangun engagement. Terakhir, memahami komunikasi strategis, kampanye dan manajemen proyek, serta melalukan pengukuran (measurement). 

Vera merangkum lima langkah yang bisa dilakukan PR dalam rangka mengasah komunikasi. Pertama, mengasah kelima panca indra. "Buka mata lebar-lebar, dengarkan apa yang sedang jadi perbincangan di sekitar kita, rasakan, cium baunya, dan sentuh semua hal yang berkaitan dengan organisasi kita," ujarnya. 

Kedua, menonjol dan berani dalam memformulasikan positioning statement atau pernyataan yang memuat dan menyarikan inti dari posisi perusahaan. Tujuannya untuk membedakan perusahaan dengan perusahaan kompetitor. "Dengan catatan tetap mematuhi koridor yang telah ditentukan oleh perusahaan," katanya.  

Ketiga, PR harus melakukan penelitian mendalam dan menerjemahkannya ke dalam konten visual dan infografis. Keempat, mendorong pihak ketiga untuk berbicara atau memberikan testimoni tentang perusahaan. Terakhir, membuat banyak tren di media sosial. Lagi-lagi, dengan catatan tetap relevan dengan objektivitas/DNA perusahaan. "Apabila kita ingin pekerjaan kita dihargai serta dinilai baik, pastikan kita berkerja secara strategis dan kreatif," tutupnya. (ais)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI