Bedah Survei PR INDONESIA: Instagram, Media Sosial Paling Digemari
30 June 2020
Ratna Kartika
0
Bedah Survei PR INDONESIA: Instagram, Media Sosial Paling Digemari
Sebanyak 40 persen responden menggunakan Instagram untuk menunjang kegiatan komunikasi mereka dengan audiens.
Malhaf/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Sebanyak 40 persen responden survei PR INDONESIA, akhir April 2020, yang berasal dari agensi PR, menggunakan Instagram untuk menunjang kegiatan komunikasi mereka dengan audiens. Disusul pemda (37,5%), BUMN (35,3%), perguruan tinggi (32,1%), kementerian dan perusahaan swasta (31,8%),  lembaga (31,6%), anak usaha BUMN (30,7%),  dan BUMD (28,6%). Sementara itu, peringkat kedua ditempati oleh Facebook, diikuti Twitter, LinkedIn, dan lainnya.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) Jojo S. Nugroho, alasan di balik tingginya responden menggunakan Instagram sebagai alat komunikasi di dunia maya bisa jadi karena target audiens mereka menyasar generasi milenial. “Apapun platform media sosial yang digunakan, pastikan target audiens kita ada di sana. Sebab, tujuan dari penggunaannya adalah agar kita terhubung dengan mereka,” ujarnya. Pastikan pula konten maupun tampilannya relevan dengan karakter dari media sosial masing-masing.

Seperti yang dilakukan PT Astra International Tbk. Ada dua media utama yang mereka gunakan untuk terhubung dengan audiens di dunia digital. Instagram dan YouTube.  Instagram berfungsi  menyampaikan pesan/informasi singkat dengan mengedepankan tampilan visual yang menarik. Sebaliknya, YouTube memungkinkan mereka menyampaikan informasi dalam bentuk video dengan durasi yang lebih panjang.

Persamaannya, kedua platform tersebut memiliki fitur IG Live dan YouTube Live yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan audiensnya. “Intinya, the show must go on. Bagaimana caranya kita tetap terhubung dengan audiens dan customer sementara teknologinya sudah ada. Kreatiflah, jangan diam!” kata Head of Corporate Communications Astra International Boy Kelana Soebroto. 

Bagian Humas dan Protokol Pemkot Tangerang juga aktif memaksimalkan dua kanal tersebut selama pandemi. Khususnya, untuk menyebarkan konten-konten yang bersifat interaktif. “Keduanya menjadi wadah bagi kami untuk melakukan sosialisasi sembari mengajak warga berpartisipasi melawan Covid-19 secara persuasif,” kata Kabag Humas dan Protokol Pemkot Tangerang Buceu Gartina.

Bagi dosen Prodi Humas Fikom Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Wakil Ketua Umum ISKI Pusat bidang Hubungan Media Ade Kadarisman yang mewakili responden dari perguruan tinggi, Instagram membantu kegiatan kehumasan serta menunjang kegiatan perkuliahan selama pandemi. Fiturnya yang bervariasi membantu mereka dalam menyalurkan berbagai program/tugas kuliah yang kreatif dan inovatif. Salah satunya, menggunakan IGTV untuk mata kuliah berbasis pembuatan video berdurasi satu menit.  

Lain lagi bagi APRIL Group. Mereka berupaya memaksimalkan hampir semua media sosial selama pandemi agar interaksi dan komunikasi dengan stakholders tetap terjaga. “Bagi kami semua platform efektif untuk menjangkau audiens. Apalagi di tengah situasi di mana kita harus menjaga jarak, mobilitas terbatas dan tidak bisa bertatap muka,” imbuh Deputy Director APRIL Group Anita Bernardus.

Langkah serupa juga dilalakukan oleh Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Sebagai kementerian yang mengelola industri yang terkena dampak terparah selama pandemi, penting bagi instansi yang dipimpin oleh Menteri Wishnutama Kusubandio itu untuk rutin menyampaikan pesan dan informasi terkini. Salah satunya, melalui media sosial. Tujuannya, agar terbentuk resiliansi komunitas terhadap SDM pariwisata dan menumbuhkan awareness kepada seluruh stakeholder.

 

Mudah Dipahami

Sementara yang menjadi catatan tim Corporate Communication PT Bio Farma (Persero), apapun media yang digunakan, tim PR harus mampu menerjemahkan istilah farmasi dan life-science sehingga mudah dipahami oleh target audiens. Contoh, mengemas pesan dalam bentuk infografis atau video berdurasi pendek untuk diunggah ke Instagram. 

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa sependapat. Apapun bentuk media sosial yang digunakan tujuannya sama: memberikan informasi atau pernyataan yang jelas, berkala, dan dapat dipertanggungjawabakan kebenarannya.

Apalagi informasi di media sosial sangat mungkin disebarkan oleh warganet, bahkan menjadi viral. “Jadi, informasi yang disampaikan di media sosial bukan saja harus memerhatikan soal kemasan, tapi juga tidak mengandung unsur yang dapat menambah kepanikan dan membuat bingung publik,” kata perempuan yang sebelumnya berkiprah sebagai VP Corporate Communication PT KCI itu.

Ketua Umum BPP PERHUMAS Agung Laksamana menyoroti perihal perubahan perilaku audiens yang kini tak lagi memandang dari media mana informasi itu berasal. “Publik tidak lagi melihat apakah itu informasinya termasuk kategori paid, earned, shared, atau owned media. Sudah blur. Bagi mereka, sama saja,” ujarnya.

Di satu sisi, studi Global Communications Report 2019 kepada CEO di Amerika Serikat menunjukkan, ke depan strategi komunikasi akan berfokus pada dua hal: media sosial dan shared media. “Gap ekspektasi antara para CEO dengan PR inilah yang harus dibenahi. Sebab, PR terbiasa sibuk mengurus earned media. Padahal kegiatan yang dilakukannya itu tidak dianggap terlalu penting bagi CEO,” katanya. (ais)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI