Penjurian PRIA 2019 Kategori CSR Dimulai
04 Maret 2019
Ratna Kartika
0
Penjurian PRIA 2019 Kategori CSR Dimulai
Suasana penjurian PRIA 2019 kategori CSR.
Aisyah/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Tercatat ada 21 peserta dari berbagai korporasi dan BUMN yang lolos administrasi berhak untuk melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Mereka berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di subkategori Community Development (Comdev) dan Sustainability. Duduk sebagai dewan juri adalah M. Gunawan Alif, Chairman Indonesia CSR Society dan dosen Sampoerna University; Maria Dian Nurani, Sekjen Internasional Society of of Sustainability Professionals (ISSP) Indonesia Chapter; dan Sam August, Direktur Dasa Strategic Indonesia dan Direktur MajalahCSR.id.

Beragam program CSR mengemuka seperti Aku Saudagar Muda (BNI), Cahaya di Kaki Langit Saruan (Pertamina RU III Plaju), Commuter Literasi (KCI), Desa Bebas Api (Riau Andalan Pulp and Paper), hingga Kebun Hidroponik Rusun Jatinegara Kaum (Bank DKI). Menurut juri Gunawan Alif yang sudah dua kali didapuk sebagai juri PRIA kategori CSR, kendala peserta umumnya masih sama. Yakni, tidak menampilkan tingkat keberhasilan atau perkembangan program dalam bentuk data, serta tidak adanya keterkaitan antara objektif dengan implementasi program. Agar ada keterkaitan, maka dalam menentukan program harus diawali dan berdasarkan social mapping, ditindaklanjuti dengan membuat objektif yang masuk akal dan relevan, diikuti dengan eksekusi serta implementasi yang menjawab pencapaian objektif tersebut. “Program CSR yang baik adalah jika melalui kegiatan tersebut perusahaan mampu memberikan solusi atas ‘dosa-dosa’ dari aktivitas bisnis. Program tersebut bermanfaat dan berdampak bagi pemangku kepentingan. Akan lebih baik lagi, aktivitas yang dilakukan mengedepankan sirkular ekonomi,” ujarnya.

Sementara juri lainnya, Sam, menyoroti soal belum banyaknya peserta yang memahami CSR. “Comdev itu harus melibatkan partisipasi masyarakat, bukan kita datang bawa program,” katanya. Ia juga menilai banyak peserta yang salah dalam melakukan pengukuran kegiatan CSR. Untuk itu, ia berpesan agar peserta memikirkan kembali untuk apa program tersebut dibuat pada saat menentukan dan membuat program CSR. “CSR bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi juga harus menomorsatukan kepentingan perusahaan. Maka, buatlah program yang sejalan dengan core business perusahaan,” katanya.

Menariknya, baik Sam maupun juri Maria Dian Nurani, mengusulkan kepada panitia agar ke depan lebih menitikberatkan penilaian kepada upaya perusahaan membangun komunikasi melalui kegiatan CSR. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengukuran keberhasilan. “Strategi ini juga sejalan dengan roh dari penyelenggaraan PRIA itu sendiri, public relations,” ujar Maria.   

Apalagi, kata Maya, sapaan karib Maria, aktivitas PR dekat dengan CSR. Bedanya, PR membangun engagement dengan stakeholder lebih luas sementara CSR fokus pada stakeholder yang terkena dampak. “Aktivitas CSR tidak hanya bicara soal relationship dan reputasi tapi juga early warning system. Itulah mengapa, pelaku CSR perusahaan kerap dilibatkan dalam risk management. Sebab, kalau tidak ditangani akan berdampak pada reputasi perusahaan,” ujarnya. “Komunikasi yang dilakukan pun harus dua arah. Mulai dari bagaimana mereka mendapat masukan dari stakeholders hingga bekerja sama dan membangun engagement dengan stakeholders,” imbuhnya. Strategi inilah yang jarang disentuh dan menarik jika diangkat di penyelenggaraan PRIA tahun depan.

 

Kompeten

Para peserta umumnya mengapresiasi para dewan juri. Mereka menilai para juri yang dihadirkan kompeten di bidangnya sehingga pertanyaannya yang muncul ke permukaan pun relevan dengan subkategori yang mereka ikuti. Seperti kata Head of Group Strategic Marketing and Communications DBS Mona Monika. “Yang paling saya suka dari lomba ini adalah kualitas dari para jurinya,” ujar perempuan yang pagi itu mengangkat program tanggung jawab perusahaan bertema social entrepreneur.

Ia melanjutkan, akan lebih menarik apabila pesertanya datang dari berbagai perusahaan di seluruh nusantara. Sehingga, PRIA pantas dikategorikan sebagai ajang penghargaan tingkat nasional. “Saya melihat pesertanya masih Jawa sentris,” katanya berpendapat.

Sementara itu, peserta Yohannes Harry Douglas dari Manager Hubungan Masyarakat AirNav Indonesia, menilai ajang ini sebagai wadah untuk saling belajar antarsesama praktisi. Ini dikarenakan proses penjurian berlangsung secara terbuka. “Kami bisa melihat pengalaman mereka dan bisa saling belajar,” ujar pria yang mengapresiasi konsistensi PR INDONESIA selaku penyelenggara yang rutin menyelenggarakan ajang ini setiap tahun.  (rtn/ais/ika)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI