Direktur Pemberitaan ANTARA Virgandhi Prayudantoro membagikan cara menciptakan kolaborasi yang dilandasi dengan komunikasi yang autentik dan berdampak. Bagaimana? Simak berikut ini.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Derasnya arus informasi yang mengubah lanskap komunikasi telah mendorong setiap organisasi untuk berlomba dalam menciptakan komunikasi berdampak. Hal ini juga dilakukan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.
Disampaikan oleh Direktur Pemberitaan ANTARA Virgandhi Prayudantoro, sebagai media, salah satu cara memastikan dampak dari produk-produk komunikasi yang dihasilkan adalah dengan terus membuka ruang kolaborasi dalam menyampaikan dan menyebarluaskan informasi yang diterima ke seluruh penjuru Indonesia maupun internasional.
Adapun saat ini, kata Virgandhi, LKBN ANTARA memiliki 32 biro di Indonesia, dan 2 biro di China serta Malaysia untuk menyuguhkan berita yang berkualitas dan mendistribusi pesan ke seluruh penjuru.
Komunikasi yang Autentik
Adaupun guna menciptakan komunikasi yang autentik dan berdampak dalam konteks public relations (PR) atau government public relations (GPR)/humas, Virgandhi menjelaskan, para praktisi perlu melakukan lima tahapan. Pertama adalah mendengar. “Praktisi PR perlu untuk mendengar setiap isu, kebutuhan dan percakapan publik guna melahirkan komunikasi yang berdampak dan relevan,” katanya dalam talkshow Konvensi Humas Pemerintah 2026 yang diselenggarakan Iprahumas, Selasa (22/9/2026), di Jakarta.
Kedua, memetakan. Menurut Virgandi, dengan memetakan khalayak, dampak, risiko dan tujuan komunikasi, maka setiap pesan yang didistribusikan dapat diterima dengan baik oleh audiens. Ketiga, menyusun. “Dalam tahap ini, praktisi komunikasi dapat menyusun dan mengolah setiap pesan, data, visual dan narasumber menjadi sebuah narasi yang kredibel, autentik dan berdampak,” terangnya.
Selanjutnya, adalah sebarkan dan ukur. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Interstudi itu menandaskan, pesan yang disebarkan melalui berbagai kanal, format, waktu dan wilayah tetap harus diukur dari segi pemahaman, partisipasi, dan kepercayaan publik sehingga pesan tersebut benar-benar berdampak sekaligus menghasilkan perubahan yang dirasakan publik. (Evira Anyelia)