FISIP UB Dorong Kedaulatan Komunikasi Digital Asia Tenggara Lewat BCIC 2026
PRINDONESIA.CO | Jumat, 06/11/2026
FISIP UB Dorong Kedaulatan Komunikasi Digital Asia Tenggara Lewat BCIC 2026
The 6th Brawijaya Communication International Conference (BCIC) 2026
doc/istimewa

MALANG, PRINDONESIA.CO – Ketergantungan masyarakat terhadap platform digital global menghadirkan tantangan baru bagi kedaulatan komunikasi, khususnya di kawasan asia tenggara. Isu tersebut menjadi agenda pembahasan utama dalam konferensi internasional bertajuk The 6th Brawijaya Communication International Conference (BCIC) 2026 yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), secara dua hari dengan mekanisme hibrida (hybrid) di kampus Universiti Putra Malaysia, Selangor, Malaysia, pada Sabtu (31/10/2026) dan via Zoom  pada Minggu (1/11/2026).

Disampaikan oleh Ketua Panitia BCIC 2026 Dr. Bambang Dwi Prasetyo, urgensi tema “Communicative Sovereignty in the DIgital Landscape” di negara kawasan Asia Tenggara cukup rentan akibat ketergantungan penuh pada ekosistem digital milik pihak asing. “Hari ini sebagian besar ruang publik kita berjalan di atas platform yang tidak kita miliki dan algoritma yang tidak kita lihat,” ujarnya dikutip dari Beritajatim.com, Minggu (1/11/2026).

Permasalahan tersebut selaras dengan penelitian bertajuk Platformisation yang diterbitkan dalam jurnal Internet Policy Review (2019), penelitian yang ditulis oleh Thomas Poell dkk., ini menyebutkan bahwa platform digital tidak lagi sekedar menjadi saluran komunikasi, tetapi membentuk cara informasi diproduksi, didistribusikan dan diakses publik.

Dalam konteks wilayah Asia Tenggara, kondisi ini mempertegas pentingnya pengembangan riset yang mengkaji relasi kuasa, tata kelola data, serta kemandirian komunikasi di ruang digital.

Lahirkan Riset Lintas Negara

Berbeda dengan penyelenggaraan tahun lalu, BCIC 2026 membawa terobosan anyar dengan berkolabasi sebagai co-host track dalam ajang Southeast Asia Futures Conference on Social Sciences (SEA FUTURES) 202 bersama dengan Faculty of Modern Languages and Communication, University Putra Malaysia (UPM).

Bambang menegaskan bahwa kemitraan lintas negara ini merupakan lompatan strategis bagi perluasan jejaring akademik FISIP UB di panggung internasional. “Kerja sama ini bukan sekadar menyelenggarakan konferensi bersama tetapi menjadikan BCIC sebagai ekosistem keberlanjutan yang melahirkan riset serta publikasi lintas negara,” jelasnya .

Dalam sesi kedua, konferensi ini membedah beragam isu komunikasi kontemporer secara komprehensif mulai dari logika media sosial pada konten TikTok lingkungan, literasi anti-hoaks generasi muda, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) pada ranah public relations, hingga penyempitan ruang protes media daring di Indonesia.

Selain itu dibahas kampanye audiovisual anti perundungan, komunikasi inklusif tenaga kesehatan, relasi gender organisasi kemahasiswaan hingga kearifan ekologis perempuan dalam tata kelola kebakaran lahan gambut di Riau. (Evira Anyelia)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI