Puluhan perempuan yang memimpin komunikasi dari berbagai instansi berkumpul dalam puncak acara penganugerahan PRIWOLA 2026 sepakat bahwa komunikasi yang berdampak lahir dari keberanian bersuara, kemampuan mendengar dan terkumpulnya kepercayaan.
SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Puluhan pemenang The 1st PR INDONESIA Women Leaders Awards (PRIWOLA) 2026 berbagi perspektif tentang tantangan komunikasi serta arti pentingnya bagi organisasi dan masyarakat. Pandangan tersebut mengemuka dalam malam penghargaan yang digelar Kamis (10/9/2026) di Auditorium Universitas Semarang (USM).
Bagi Head of Corporate Affairs and Communication TRIPATRA Ninesiana Saragih, tantangan komunikasi tidak selalu muncul ketika perusahaan memiliki banyak cerita baik untuk disampaikan kepada publik. Sebaliknya, tantangan juga dapat muncul ketika perusahaan belum terbiasa menceritakan berbagai hal baik yang telah dilakukan.
Hal itu dirasakan Tripatra. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi ini telah berkiprah selama lebih dari 53 tahun. Namun, selama puluhan tahun, Tripatra dikenal sebagai perusahaan yang low profile. Bagi komunikator, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. “Bukan hal mudah sebagai komunikator untuk menceritakan yang diam ini, untuk menceritakan hal baik di perusahaan. Hal ini menjadi tantangan agar cerita bisa digulirkan dan menginspirasi yang lainnya,” ujarnya.
Jika bagi Ninesiana tantangannya adalah menemukan dan mengangkat cerita dari organisasi yang cenderung low profile, tantangan lain datang dari ruang komunikasi yang semakin riuh. VP Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero) Anne Purba melihat peran praktisi public relations (PR) dan juru bicara (jubir) kini telah berkembang seiring bisingnya ruang digital.
Menurut Anne, komunikator kini tidak cukup hanya mampu menyampaikan persoalan. Mereka juga perlu menjadi juru dengar untuk menangkap pesan penting di tengah derasnya arus informasi. Kemampuan mendengar menjadi bagian penting dari pekerjaan komunikasi ketika publik terus menghasilkan dan menerima informasi dalam waktu yang bersamaan.
Karena itu, Anne mengajak para komunikator perempuan untuk memanfaatkan ruang komunikasi secara lebih luas. Peran mereka, menurut Anne, tidak sekadar menjadi representasi institusi, tetapi juga menggunakan ruang komunikasi untuk meninggalkan jejak digital yang baik. “Kita harus menjadi juru bicara menyelamatkan masa depan generasi kita untuk berbicara baik, meninggalkan jejak digital yang baik, algoritma yang baik untuk menyelamatkan Indonesia dan anak cucu kita,” pesannya.
Menebus Kesetaraan dan Kepercayaan
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa peran komunikator semakin strategis, baik dalam membawa cerita organisasi, merespons dinamika ruang digital, maupun membangun dampak bagi publik. Di tengah peran tersebut, kehadiran perempuan yang memimpin fungsi komunikasi juga layak mendapat ruang dan apresiasi.
Hal inilah yang turut tercermin dalam PRIWOLA 2026. Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal yang hadir dalam malam penghargaan mengapresiasi perhatian terhadap kiprah perempuan pemimpin komunikasi di Indonesia. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam menjalankan fungsi komunikasi bagi organisasi dan masyarakat. “Saya sangat bersyukur ada perhatian dan kepedulian kepada pemimpin perempuan komunikasi di Indonesia. Penghargaan ini sangat luar biasa bagi kami, saya di Aceh masuk di nominasi ini. Semoga kami terus bisa memberikan dampak komunikasi yang terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Pesan mengenai ruang yang setara juga disampaikan Corporate Communications & CSR Division Head PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Khairani Windyaningrum. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bukti bahwa kesetaraan dan inklusivitas bukan sekadar wacana di industri PR. “Kita dapat menjadi tolak ukur bagi industri lain dalam menciptakan ruang yang setara dan aman bagi perempuan di luar sana untuk bertumbuh. Semoga tahun depan akan lebih banyak lagi perempuan hebat yang berdiri di panggung ini,” ujarnya.
Namun, ruang untuk bertumbuh juga berjalan beriringan dengan kepercayaan. Bagi Head of Corporate Communications Pyridam Farma Leilanie Nadia, kiprah praktisi PR pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan yang diberikan oleh direksi, komisaris, dan stakeholder lainnya.
Menurut Leilanie, praktisi komunikasi memiliki posisi penting dalam menjalankan fungsi komunikasi organisasi, tetapi tetap berada dalam kerangka keputusan dan arahan perusahaan. “Kita hanyalah mesin tank yang dikendalikan, kita tidak mengendalikan sendiri,” tandas Leilanie. (Evira Anyelia)